Cherry’s Spring in Your Heart : [BONUS Chapter MLG]

Hai hai hai… (^-^)/ … Berikut ini saya buat bonus chapter Fic Money [Love] Gamble. Anggap aja bonus one-shoot yang tadinya mau saya publish di chapter 3 tapi karena kepanjangan ya udah deh pisah sendiri, hehe~.. Jadi buat yang belum tahu cerita MLG, silahkan baca dulu dari chapter 1 ya, biar nyambung 😀

SPECIAL BONUS CHAPTER khusus dibuat untuk menjawab review Chisa Hanakawa dan namikaze yakonahisa di FFn dan juga mungkin rasa penasaran Readers lainnya tentang:

Apa dari awal Sasuke udah suka sama Sakura? Kok dari awal udah ngegombal?

Dan kenapa Ino juga Hinata gak kenal Sasuke sedangkan mereka yang nyuruh si Uchiha untuk menghampiri Sakura di kantin?

Yups, langsung saja simak…

~($__$)~

Cherry’s Spring in Your Heart

.

|BONUS Chapter| – Money [LOVE] Gamble

.

Disclaimer: NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

.

WARNING: INGAT!Ini bukan chapter 3 apalagi chapter 4. Anggap aja cerita one-shoot yang terpisah dari MLG namun masih saling berhubungan.

Story by

Me!! [FuRaha]

~Itadakimasu~


Bulan oktober. Musim semi masih jauh. Karenanya kau mungkin tak akan temukan bunga Sakura mekar di manapun. Belum saatnya. Ya, belum saatnya dia tumbuh. Tapi selalu, bila benih itu ada, bahkan tak sengaja tertanam, suatu hari nanti pasti akan muncul. Mekar dan bersemi di sana.

Awalnya memang tak lebih dari rasa penasaran. Hanya karena nama ‘itu’ akhir-akhir ini sering terdengar olehnya.

“Ayo! Ayo! Semangat! Sakura…! Ayo, terus maju! Semangat!”

Ng?

Sorak-sorai suara yang terdengar samar itu menelusup dan menggetarkan gendang telinganya. Mulai mengusik acara tidur siang seorang pemuda yang tengah berbaring santai di bawah bayangan tembok gudang atap sekolah.

“Ayo… ayo… Sakura! Sakura!”

Sasuke pun terbangun.

“Tch, ada apa sih? Berisik banget…” rutuk pemuda itu dengan perasaan kesal. Bagaimana tidak, kalau keasyikannya di sela jam istirahat terganggu oleh sorak berisik tak jelas. Padahal baru sebentar onyx itu terpejam.

Sambil mendengus, dengan membawa rasa penasaran, lelaki itu segera bangkit dan berjalan menuju pagar kawat sisi atap gedung. Dia tahu, kadang di jam istirahat seperti ini banyak siswa yang bermain di lapangan atau berkeliaran di sekitar lingkungan sekolah. Ada yang berbuat keributan pun sudah biasa, memang itu hal wajar yang para siswa lakukan untuk mengisi waktu istirahat bebas yang cuma setengah jam.

Tapi baru pertama kali ini dia lihat…

“Siapa bilang cewek gak boleh manjat pohon?!” teriak seseorang diseberang sana.

Onyx kelam Sasuke menangkap sesuatu yang aneh di atas pohon taman belakang sekolah itu. Sosok manusia yang wajahnya samar terhalang rindangnya dedaunan hijau. Hanya sekelebat helaian merah muda, lambaian tangan kecil, tawa ceria dan sorak sorai yang makin riuh di bawah sana.

“Yeah…! Yeah…! Sakura! Sakura…!”

Untuk sesaat Sasuke terpaku menatapnya.

Sakura?

Orang di atas pohon itu…

Cewek?

…#…

“Hoi, Sasuke! Ikut three on three yuk?!” ajak Sakon pada pemuda berambut raven itu pas kebetulan lewat depan lapangan.

“Hn.”

Merasa mood-nya buat tidur siang tadi sudah terganggu dan hilang, dia pikir jam istirahatnya kali ini mungkin akan dia habiskan buat main basket, olahraga favoritnya. Tanpa banyak bicara, cukup satu anggukan kecil, Sasuke memutar langkahnya menuju lapangan.

Begitu masuk lapangan, sementara pertandingan sesungguhnya belum di mulai, Sasuke ambil operan bola dan sebentar mendrible-nya. Pemuda itu berlari menuju ring, sampai pada posisi yang tepat dia melecutkan tangan, menembakkan bola pas ke arah keranjang dan berhasil memasukkannya dengan mulus dan indah.

“Hei, Sakura gak akan ikut main tuh!” teriak Kidoumaru.

Sakura…?

Sasuke refleks menoleh ketika mendengar nama itu disebut. Beberapa orang temannya tampak berkerumun membicarakan sesuatu.

“Yaah~… kok gak ikut sih?”

“Kau sudah bilang padanya kalau ini taruhan?”

“Iya, tapi dia gak mau tuh. Katanya capek, habis manjat pohon…”

“Duh, gimana dong, padahal kurang satu orang…”

“Enggak kok.” bantah Sakon, “Tuh ada Sasuke, ajak aja dia…”

‘Eeh, jadi aku dipanggil untuk mengisi tempat orang bernama Sakura itu?’ batin Sasuke agak kesal juga mendengarnya.

…#…

Lelah sehabis main basket, Sasuke dan teman-temannya datang ke kantin. Mengusir para junior yang duduk di pojokan tempat mereka biasa nongkrong lalu memesan beberapa makanan dan minuman. Sementara mereka habiskan waktu sempit yang tersisa di jam istirahat siang itu dengan mengobrol dan bersenda gurau. Berbaur sesama anak lelaki. Bikin berisik dan meramaikan suasana kantin.

“Woi, sumbang nih sumbang. Buat Kiba yang udah gak punya uang jajan, hahaha~…”

“Jiaah~ payah. Kirain kau akan menang darinya, boro kita mau minta ditraktir.”

“Kasihan deh lu, sampai kalah dari cewek. Khekhekhekhe~…”

“Ya ampun, dia itu jago banget. Coba sana kau tantang sendiri. Di jamin kalah deh.” ujar Kiba.

“Eh, jadi hari ini dia tanding denganmu?”

“Iya, manjat pohon…”

“Dia bisa manjat pohon?”

“Ho’oh, aku juga gak nyangka. Aku sendiri sih yang salah, terlalu meremehkannya. Kirain cewek itu gak bisa manjat pohon…”

“Hahaha, makanya jangan cuma lihat tampang. Biar cewek, dia itu liar dan kuat lho…”

“Iya, padahal kalau dari luar anaknya manis gitu. Tapi kadang aku kalah macho darinya, hehehe~…”

“Jangan-jangan si Sakura itu bukan cewek lagi, gkgkgkgk~…”

Sluuurrp…

Sasuke berhenti sejenak menghisap jus tomat favoritnya. Onyx itu lekas bergulir, memandang kerumunan siswa di seberang mejanya yang lagi pada asyik ngobrol.

Sekali lagi nama ‘itu’ terdengar…

Sakura…?

…#…

‘Ck, siapa itu Sakura?’

Tak biasanya Sasuke sepenasaran ini terhadap seseorang. Pada dasarnya kan dia tipe orang yang cuek dan tak pedulian. Apalagi dengan urusan orang lain, dia akan bersikap acuh tak acuh. Tapi belakangan ini, gara-gara nama ‘itu’ sering disebut-sebut, dia jadi kepikiran. Sengaja atau tidak sengaja telinganya mulai sensitif mendengar kata ‘Sakura’.

Biar cuma sekilas terucap dari bibir wali kelasnya,…

“Sensei, ini laporan tugas praktikumku…” kata Sasuke memasuki ruang guru.

“Oh, iya, taruh disana.” jawab Orochimaru tanpa memandang pemuda itu sedikitpun. Gold Obsidian-nya fokus memperhatikan selembar kertas ujian di tangan. “Hmm, mungkin karena ini kemarin Sakura mencariku. Nilai ulangannya tertukar dengan Sakuyo…” gumam Orochimaru.

Sakura?… Jangan-jangan Sakura itu Sakura yang ‘itu’?… pikir Sasuke.

…#…

Atau seperti saat di perpustakaan yang hening, dimana siswa tak diperbolehkan mengobrol. Samar-samar telinga Sasuke mampu mendengar nama ‘itu’ pun dibahas oleh dua orang siswi yang diam-diam bergosip di belakang rak buku.

“Kapan kita bisa membalas perlakuannya, gadis itu menyebalkan…” ucap Shion.

“Tenang saja, Karin sudah temukan cara untuk mengalahkannya…” balas Tayuya.

“Benarkah? Dia yakin kali ini akan berhasil?”

Tayuya gendikan bahunya, “Semoga saja, terus terang aku pun ingin lihat orang itu dipermalukan.”

“Benar. Si Sakura itu, aku muak padanya. Sampai-sampai aku ingin melumatnya…”

“Hihihi~… lumat saja, atau sekalian…”

“Ehem,…” Sasuke mendehem, menyela obrolan gadis-gadis itu yang dirasa mulai mengusik ketenangan membacanya. Hanya sedikit lirikan tajam onyx-nya, Tayuya dan Shion langsung berhenti cekikikan dan memilih angkat kaki dari tempat itu. Sementara melihat kepergian mereka, Sasuke tak mengerti kenapa barusan dia melakukannya. Sekali lagi, hanya karena mendengar nama ‘itu’ disebut.

…#…

Rasa penasarannya semakin besar terlebih lagi ketika nama ‘itu’ pun keluar juga dari mulut sahabat baiknya sendiri.

“Aah, nyebelin. Dasar gak tanggung jawab. Gimana pake-nya sih tuh orang, celanaku sampai kotor gini…” gerutu Naruto. “Awas ya Sakura, lain kali gak bakal aku pinjamkan!”

‘Sakura itu siapa, Dobe?’ dalam hati Sasuke ingin bertanya. Tapi urung dia ucapkan. Seakan harga dirinya membelenggu untuk berkata jujur pada orang lain kalau dia penasaran dengan sosok ‘itu’.

‘Ya, sudahlah. Mungkin nanti aku akan tahu sendiri. Lagi pula ini bukan hal penting.’ batin Sasuke yang akhirnya mengenyahkan rasa itu.

~($ _ $)~

“Eh, Hinata, benar kan dia orangnya?” tanya Ino. Matanya menatap seorang siswa yang tampak sibuk berkutat dengan benda bulat orange di lapangan sana.

“Iya, sepertinya dia anak basket. Sakura juga bilang gayanya keren kalau pas lagi main.” jawab Hinata. “Aku juga ingat tatanan rambut anehnya. Pasti itu orangnya…”

“Yup, kalau gitu kita jangan buang-buang waktu lagi…” Ino segera menarik lengan Hinata, keluar dari persembunyian mereka di balik pilar kelas dan menemui pemuda itu.

“Ka, kau yakin Ino? Bagaimana kalau Sakura marah…” Hinata tampak gugup. Meski kemarin mereka sepakat akan menjodohkan Sakura dengan lelaki yang ditaksirnya, tapi kalau berbuat seenaknya dia merasa tak enak juga pada sahabatnya itu.

“Tidak apa-apa. Sakura tak akan marah. Aku yakin dia malah senang.” kata Ino.

“Hmm, iya sih,…” Akhirnya Hinata ikut saja. Bagaimanapun juga ini mereka lakukan demi kebahagiaan Sakura.

“Heh, kau…” panggil Ino.

Si pemuda berambut raven itu menoleh, onyx-nya menatap tajam kedua orang siswi yang tiba-tiba datang menghampirinya. Melihat tampang stoic yang terpasang di wajah orang itu, Ino dan Hinata jadi gugup dan sesaat merasa ragu untuk bicara.

“Ehm, maaf mengganggu…” kata Ino pelan.

Ya ampun, walau cowok yang dihadapannya itu tampan, tapi kalau dingin begini sih, Ino yang biasanya supel sama anak lelaki pun jadi merinding. Jangan tanya Hinata yang memang orangnya mudah gugup, gadis itu merangkul erat lengan Ino dan terus menundukan pandangan, tak berani menatap onyx itu langsung.

Dugh… dugh… dugh…

Dengan cueknya si pemuda itu mengacuhkan Ino dan Hinata, kembali melanjutkan aktifitasnya mendrible bola.

“Bagaimana ini, lain kali saja Ino…” bisik Hinata. “Ayo kita pergi…”

“Tidak bisa. Sudah sampai sini, jangan disia-siakan…” balas Ino. “Aku akan bilang sekarang. Nanti kau juga bantu aku ya?”

“Eeh,…” Lavender Hinata membulat. “Bantu apa?”

“Ano~…” Ino mulai bicara, “Ehem, kau… kau itu keren ya…”

ZRANK… Bola basket itu membentur bibir ring. Cowok itu hanya mendelik mendengar pernyataan Ino. Entahlah, tapi kata ‘keren’ yang diucapkan seorang gadis padanya terdengar biasa-biasa saja di telinganya.

“Itu kata… kata temanku.” lanjut Ino. Sejenak Ino menarik nafas dalam-dalam sebelum bicara panjang lebar. “Gayamu keren kalau pas lagi main basket. Entahlah, tapi katanya kau punya ciri khusus saat melakukan shoot atau lay-up yang membuatnya terpesona. Kau tahu, temanku itu tak pernah tertarik sebelumnya pada seorang cowok. Dia terlalu cuek dan lebih suka…” uang dan taruhan, dua kata itu hanya Ino ucapkan dalam hati. “Hmm, pokoknya sama sekali tak tertarik. Tapi hanya padamu seorang dia menaruh perhatian…”

Ino sudah sampai batasnya. Dia bingung harus bicara apalagi. Terlebih pemuda itu sama sekali tak menghiraukannya. Sikut gadis pirang kuncir ekor kuda itu menyenggol-nyenggol pinggang Hinata, menyuruhnya gantian bicara.

“Aaa, iya, baru pertama kali ini Sakura-chan jatuh cinta.” lanjut Hinata, “Ka, karena itu sekiranya kau berkenan, cobalah bicara pada Sakura…”

“Sakura?” gumam pemuda itu. Akhirnya dia menoleh pada Ino dan Hinata, sedikit menunjukan ketertarikan seketika mendengar nama ‘itu’ disebut.

Hinata mengangguk-angguk. “Iya, Sakura. Kau kenal? Haruno Sakura. Siswi 2F.”

“Anaknya cantik lho, juga manis.” sambung Ino. “Ceria dan enerjik.” Dua kata ini mungkin ditujukan Ino untuk menggambarkan sosok Sakura yang ‘Ceria’ saat dapat uang dan ‘Enerjik’ untuk mengikuti taruhan. “Cobalah kau lihat dulu. Pasti kau akan tertarik padanya…”

“Haruno Sakura…” gumam pemuda itu, balas menatap dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia diam sejenak sebelum satu senyuman tipis tiba-tiba tampak muncul di wajahnya. “Hn, baiklah. Dimana aku bisa menemuinya?”

“Whaaa~….!” Huuph… Ino cepat membungkam mulutnya sendiri, meski gadis itu rasanya ingin berteriak gembira sekarang. Hinata juga sama. Usaha mereka sepertinya berhasil. Pemuda itu menunjukan ketertarikannya terhadap Sakura.

“Iya, mungkin sekarang Sakura lagi ada di kantin. Sepertinya hari ini tidak ‘itu’ kan, Hinata?” tanya Ino. ‘Itu’ yang dimaksud adalah ajang taruhan yang biasanya diikuti Sakura di jam istirahat.

Hinata mengangguk. Dia ingat kemarin Sakura baru kalah taruhan dari Choji, jadi pasti hari ini bakal bad mood. Tak bersemangat meski ada orang yang menantangnya.

“Kau pasti mudah menemukan Sakura. Carilah gadis berambut sewarna permen karet.” kata Ino sebelum pemuda berambut raven itu melangkah pergi dan benar berjalan menuju arah kantin.

“Kyaaa…. Hinataaa…!” teriak Ino, langsung berhambur memeluk sahabatnya itu. “Berhasil! Berhasil! Kita berhasil melakukannya…”

“Iyaaaa~… Aku senang sekali.” balas Hinata, sama-sama gembira. “Sakura juga pasti senang sekarang, kan?”

Ino mengangguk-angguk. “Pasti dong. Kau lihat, sepertinya cowok itu juga suka sama Sakura.”

“Iya, syukurlah. Eh, ngomong-ngomong Ino, cowok itu siapa sih?” tanya Hinata polos. “Hmm, kau tahu nama cowok yang ditaksir Sakura itu siapa?”

“Eeeh?” blue sapphire Ino membelalak. “Enggak tuh. Kau sendiri?”

Sambil tersenyum kaku, Hinata menggeleng pelan. “Aku juga tidak tahu.”

“Yaaaah~…” Keduanya mendengus kecewa. Lupa tanya nama tuh orang.

“Sudahlah. Nanti kita tanya Sakura. Cowok itu pasti ngajak kenalan.”

“He’eh…”

“Yeah~… mission complete!” seru Ino sambil acungkan kepalan tangannya ke udara.

Sementara itu di kantin…

Dari kejauhan sejenak Sasuke menatap seorang gadis yang tengah duduk termenung sendirian di meja kantin siang itu. Helaian rambut merah muda itu sama seperti yang dulu sempat dilihatnya diatas pohon.

“Haruno Sakura. 2F. Teman sekelasnya si Dobe ya?” pikir Sasuke. “Akhirnya aku temukan. Tidak salah lagi, dia pasti Sakura yang ‘itu’…”

Sasuke mulai melenggangkan jenjang kaki panjangnya, berjalan menghampiri Sakura.

“Kalau ramennya dingin jadi gak enak lho…”

Awal pembicaraan sungguh cuma sekedar basa-basi. Gadis itu mendongak. Onyx bertemu emerald. Sasuke menangkap sosok bunga musim semi dihadapannya. Tak bisa dia kendalikan, sudut bibirnya terangkat sendiri membentuk satu senyuman.

“Uchiha…” ucap lelaki itu sambil mengulurkan sebelah tangan.

“Ng?”

Saat itu, tanpa Sasuke sadari benih yang entah tak sengaja ditabur pun mulai tumbuh.

Hanya karena sebuah nama…

Sakura sungguh bersemi di hatinya.

~( $ _ $ )~

Cherry’s Spring in Your Heart |BONUS Chapter| ~ F.I.N

Money [LOVE] Gamble….. TBC …. Next to Chapter 4

~( $ _ $ )~


Jiahahaha~… ceritanya maksa dan GaJe ya (^-^)a … Tapi semoga menjawab rasa penasaran readers sebelumnya 😀

Anggap aja nih ya, baca Bonus Chapter itu kaya lagi baca komik, hehe~ *gak nyambung*

Maksudnya kalo di komik-komik gitu kan suka ada chapter tambahan-nya. Jadi saya coba buat juga di Fic ini #maksa

Untuk lanjutan cerita Money [LOVE] Gamble berikutnya, tunggu aja chapter 4, ok?!

Sankyu~ for read -(^-^)/

Berkenan komen?

14 Comments

Leave a Reply
  1. oooooooooooh gitu ceritanya

    keseringan denger nama orng jd ada dampaknya yah kaya Sasu hahahah . intinya ini Sasu dulu yg penasaran dan kmungkinan Sasu duluan yg suka ama Saku …

    • iya, begitulah… ^-^
      Jadi membantahkan isu klo Sasuke dan KArin udah ada kong-kali-kong buat jailin Sakura itu TIDAK BENAR, karena sepertinya Sasuke sudah duluan suka sama Sakura, tanpa tahu dirinya dijadikan taruhan (agak spoiler nih) hehe~

  2. Terjawab deh rasa penasarannya kenapa sasuke langsung tahu tentang sakura hehehe*ketawa-ketiwi terus dari tadi apa jangan2 lo kunti…#plak Enak aja terserah gua lah mau gimana urusan loe?(sindirnya dengan nada tak suka+tersenyum meremehkan) Ah…Ano…gak sih c-cuman dari ta-tadi lo com-coment plus ketawa keti-ketiwi(jadi gugup sendiri)

One Ping

  1. Pingback:

Leave a Reply