Money [LOVE] Gamble: Chapter 6

Cerita Sebelumnya… Baca [Chap 1] [Chap 2] [Chap 3[Chap 4][Chap 5]


~( $ _ $ )~

Money [LOVE] Gamble: Chapter 6

Chapter:In Relationship
Pair: Sasuke Uchiha x Sakura Haruno 
Rate: T
Genre: Romance, Hurt/Comfort, Friendship
Disclaimer: NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
Length:   6.186 words
WARNING: AU,OOC, typo, alur GaJe cerita se-mau-gue (=A=)

Story by

FuRaHa

If you don’t LIKE? Read? Don’t Read?

WHATEVER!!!

~Itadakimasu~

~( $ _ $ )~

.

.

.

“Aku pulang duluan, ya! Jaa~…” pamit Sakura, langsung pergi menggendong tasnya meninggalkan Hinata dan Ino yang masih sibuk membereskan buku-buku pelajaran di atas meja.

“Mau kemana dia buru-buru gitu?” heran Hinata, melihat gelagat Sakura yang tak biasa tampil begitu ceria.

Ino hanya mengangkat bahu, “Apa lagi? Pasti ketemuan sama orang itu, kan?”

“Siapa?”

“Ya ampun Hinata, jangan berlagak polos gitu deh. Ingat dong kalau sekarang Sakura sudah punya pacar. Mungkin dia janjian sama Sasuke.”

“Oh iya ya, hehe~… Gadis yang sedang jatuh cinta itu terlihat manis. Aku suka melihat Sakura-chan belakangan ini tampak bahagia. Tak kusangka mereka akan benar-benar pacaran.”

“Yup, kau benar. Aku juga merasa senang. Hanya saja…” Sejenak Ino terdiam, wajahnya berubah muram.

“Kenapa?” heran Hinata.

“Kuharap tak ada yang merusak kebahagiaan mereka,” resah Ino, “Meski kita tahu Sakura menyukai Sasuke, tapi diluar itu semua dia masih terikat perjanjian dengan Karin. Bagaimanapun juga Sakura harus tetap menyelesaikan taruhannya. Semoga saja si licik itu tak sampai berbuat yang tidak-tidak pada mereka.”

Mendengar kegelisahan Ino, Hinata pun sama khawatirnya, “Aaaa―iya, kau benar. Bagaimana ini, apa Sakura akan baik-baik saja?”

Sekilas Ino kembali tersenyum, ditepuknya sebelah bahu Hinata. “Tenang saja. Kalau Sakura pasti bisa. Lagipula sekarang kan disisinya sudah ada Sasuke.”

Memang tak ada yang bisa mereka perbuat selain mendukung kebahagiaan sobat pink mereka itu yang baru saja mengenal cinta.

Sampai di gerbang sekolah, Hinata dan Ino merasa heran kala keduanya mendapati Sasuke berdiri seorang diri seolah sedang menunggu Sakura.

“Lho, kalian sudah selesai?” tanya Sasuke tiba-tiba, bikin blonde dan indigo saling berpandangan tak mengerti, apa maksudnya―”Mana Sakura?”

“Eh, Sakura kan udah daritadi…” KYUT―Hinata mencoba menjawab, namun kalimatnya cepat terpotong saat Ino menyubit sedikit pinggangnya.

“Toilet,” sela Ino cepat. “Sakura sekarang lagi di toilet, iya kan Hinata?”

Gadis bermata lavender itu pun mengangguk-angguk setuju seusai terkena sekilas deathglare aquamarine. “I, iya, di toilet. Biasa Sakura-chan itu kalau lagi kebelet emang suka lama, hee~…” jawab Hinata asal.

Sebelah alis Sasuke terangkat seakan meragukan keterangan mereka barusan, “Jadi dia udah selesai bersihin Lab Kimia-nya?”

Ino dan Hinata sama-sama mengernyit. Sekali lagi saling pandang, apa maksudnya― “Lab Kimia?” heran keduanya, kompak.

“Katanya tadi pagi pas praktikum kimia Sakura numpahin larutan. Jadi pulang sekolah dia mesti beresin semuanya.” Sasuke coba jelaskan.

“Eh, aneh, tadi pagi kan…”

“Iya benar!” seru Ino, cepat memotong perkataan Hinata lagi, “Tadi pagi Sakura ceroboh banget, kesandung pas lagi bawa larutan jadi Kurenai-sensei menghukumnya,” ―Hinata terlihat bingung mendengarnya. “Kau tunggu saja. Paling bentar lagi Sakura juga datang,” lanjut Ino yang kemudian langsung menarik lengan Hinata. “Sudah ya, Sasu. Kami pulang duluan. Jaa~…”

“Hn.” Sasuke hanya menganguk melihat kepergian dua cewek itu tanpa sedikitpun menaruh rasa curiga.

“Heh Ino, kenapa barusan kau bohong?” tanya Hinata tak mengerti, “Tadi pagi boro-boro ada praktikum, pelajaran kimianya aja kan bukan hari ini.”

“Iya, kau tahu sendiri kan siapa yang sebenarnya berbohong disini? Sa-ku-ra, dia duluan yang bohong sama Sasuke. Kita gak tau apa alasannya, yang jelas ini pasti sengaja Sakura lakukan. Jadi kita sebaiknya jangan ikut campur dan malah bikin rencana Sakura berantakan, sekaligus bikin Sasuke merasa cemas kalau kita bilang yang sebenarnya.”

“Jadi Sakura sengaja? Apa alasannya?”

Sejenak Ino berpikir, “Hmm, firasatku sih mungkin sekarang dia lagi punya urusan penting sama orang itu.”

“Orang itu?” heran Hinata, “Apa maksudmu, Sakura lagi sama…”

Sementara di lain tempat, di waktu yang sama. Di dekat Lab Kimia yang suasananya sepi, seorang gadis berambut merah tampak terlihat kesal sembari berpangku tangan.

“Tch, lama banget sih!” gerutu Karin begitu Sakura datang menghampiri.

“Maaf, habis aku mesti kasih alasan dulu buat Sasuke. Dia menungguku. Hari ini kami ada kencan,” kata Sakura, setengah bercanda memanasi Karin. Meski Karin terlihat biasa-biasa saja ketika mendengar penjelasannya, namun Sakura yakin kalau gadis itu pasti merasa sebal mendengar hal tentang Sasuke barusan. “Jadi mau ngomongin apa?” tanya Sakura to the point.

Karin sedikit menyunggingkan bibirnya, tersenyum sinis sembari membetulkan letak kacamata sebelum dia mulai bicara. “Aku gak percaya kalau kamu bisa jadian sama Sasuke. Menurutku kau pasti curang!” tuduhnya terus terang.

“Apa?! Curang? Gak mungkin aku curang. Gak ada untungnya.” bantah Sakura tak terima.

“Tentu aja ada. Bukannya kalau kau menang, kau bisa dapat uang.”

JLEB

Kata-kata Karin barusan langsung menancap tepat di hati Sakura. Memang ada benarnya juga sih.

“Aduuh―aku memang ingin dapat uang, tapi aku juga gak sudi kalau mesti curang,” ucap Sakura membela dirinya sendiri, “Kalau kau heran kenapa aku dan Sasuke bisa jadian, itu karena Sasuke lebih memilihku dibanding kamu.” Sakura berkata dengan bangga.

“Jadi Sasuke sendiri yang menyatakan cintanya padamu?” tanya Karin dan langsung dijawab Sakura dengan satu anggukan mantap. “Kalau begitu, lantas kau menerima Sasuke sebagai pacar karena apa?”

“Eeh?!” kaget juga Sakura ditanya hal seperti itu, “Kenapa kau mau tahu, memangnya penting untukku jawab?”

“Ya, tentu saja. Aku harus tahu. Jangan-jangan Sakura si mata duitan ternyata bisa menyukai seorang manusia selain uang,” cibir Karin, “Ini juga kan bagian dari kesepakatan kita. Karena alasanmu pacaran dengan Sasuke harus karena taruhan, atau semuanya batal!”

“Lho, itukan gak ada di perjanjian…” protes Sakura.

“Jelas ada,” timpal Karin, “Kau sendiri kan yang dulu bilang kalau yang kau incar hanya uang taruhannya, bukan cowoknya,” Karin lebih tegaskan kata ‘cowok’ pada Sakura. “Dan tentu saja, kalau ternyata alasanmu pacaran itu karena kau menyukai Sasuke, jelas tahu apa artinya, kan?”

“Aaa―ugh…,” Sakura bingung. Memang benar semua yang dikatakan Karin. Dulu dia bilang dia tak peduli siapa cowok incarannya, yang penting dapatkan uangnya. “Hmm, ya, aku tahu…”

“So~… katakan padaku sekarang, apa alasanmu menerima cinta Sasuke dan bersedia pacaran dengannya?!”

Sejenak Sakura menghela napas panjang, sebelum dengan berat hati dia katakan hal yang setengah hati enggan dia tegaskan. “Tentu saja aku menerima Sasuke karena aku ingin menang taruhan. Ingin dapatkan uangnya.” dusta gadis berhelaian merah muda itu.

Sebelah alis Karin terangkat, bibirnya tersenyum miring. “Berarti sebenarnya kau tak suka pada Sasuke?”

“Eeh, itu, ehm―” Bagaimana Sakura harus mengatakannya, “Err, i, iya, begitulah―” Karena gugup, Sakura garuk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal. Kali ini pun dia terpaksa harus berbohong lagi didepan Karin. “Kau tahu sendiri kan yang aku suka cuma uang dan taruhan.”

“Bagus.” desis Karin, senyum di wajahnya kian mengembang kala mendengar semua pernyataan Sakura tadi.

“Ehm, ada lagi?” tanya Sakura, “Kalau tak ada urusan lain, aku mau pergi.” pamit gadis itu.

“Ok, tiga minggu lagi uangnya aku kasih.” kata Karin sebelum Sakura melangkah pergi.

Gadis musim semi itu mengangguk dan tersenyum. Hatinya merasa senang karena akan dapat uang. Sementara itu dibalik kepergian Sakura, Karin terus menatapnya dengan perasaan puas. Karin tak merasa kalah setelah mengetahui Sakura memenangkan taruhan. Rencananya belum berakhir.

Gals―” panggil Karin. Kemudian dari balik pintu Lab Kimia muncul dua orang gadis yang ternyata sudah bersembunyi dari tadi. Karin menoleh ke arah Shion dan Tayuya. “Gimana hasilnya?” tanya gadis berambut merah itu.

“Sukses dong~…” jawab Shion sambil angkat kedua jempol tangannya, “Berjalan sesuai rencana, hihihi~…”

“Kita dapat adegan yang sempurna.” Tayuya menambahkan seraya menyerahkan ponsel berkamera yang dipegangnya pada Karin.

Si gadis berambut merah menyeringai, “Baka no Sakura~ kau pikir aku akan menyerah begitu saja,” sambil mengecek ulang hasil pekerjaan dua temannya, Karin tertawa puas. “Hahaha~ nikmatilah hari-hari bahagiamu selagi bisa, Jidat!”

Saat ini Sakura yang tengah berlari-lari kecil menghampiri Sasuke yang sedari tadi menunggunya tak merasakan firasat apapun. Bahwa dia telah masuk kedalam perangkap Karin.

“Gimana bersihin Lab-nya?” tanya Sasuke.

Sakura nyengir, “Hmm, yah, lumayan…”

“Hn. Mau pulang sekarang?” ajak Sasuke seraya ulurkan tangan.

Sakura mengangguk. Walau sedikit malu dan canggung, tanpa ragu dia meraih tangan itu. Dan mereka pun berjalan pulang bersama sambil bergandengan tangan, merasa gembira.

.

.

~( $_$ )~

~( $_$ )~

.

.

Apa yang biasa dilakukan orang pacaran bila sedang pergi berkencan?

Nonton film romantis di bioskop, makan siang bersama di café favorit, jalan-jalan ke Mall atau sekedar ngobrol berdua di taman. Bergandengan tangan bila sedang berjalan, bermesraan dan melakukan berbagai hal menyenangkan lainnya―itu wajar. Tapi lain halnya dengan yang dilakukan Sakura dan Sasuke. First date mereka di hari minggu ini benar-benar berbeda.

Diawali dengan mampir sebentar ke toko buku. Ini sih favoritnya Sakura. Apalagi kalau bukan mau baca buku gratisan. Dari mulai komik, novel tipis, majalah dan buku-buku lainnya sampai koran yang terbit di hari itu pun dia baca gratisan di tempat. Manusia yang begini nih yang bikin pemilik toko gregetan. Dasar emang Sakura cuek, dia tak peduli meski penjaga toko sudah sering memperingatkan―niat maksud mengusir―pura-pura mendehem didekatnya pas lagi enak-enak baca. Untung saja Sasuke tertarik beli majalah olahraga, jadi mereka tak terlalu malu pas keluar toko gak beli apa-apa.

Usai dari toko buku, kali ini giliran Sakura yang jadi bête menemani Sasuke belanja. Dari mulai beli kaos team basket atau memilih-milih handband dan lihat-lihat sneakers di toko olahraga. Sakura sweatdrop, ternyata cowok kalau lagi belanja juga menghabiskan waktu lama sama kayak cewek.

Setelah itu baru keduanya merasa senang, ketika mereka menjejakkan kaki di tempat favorit mereka berdua. Dimana lagi kalau bukan GAME CENTER. Bisa menghabiskan waktu berjam-jam kalau main di tempat ini.

Wajah Sakura tampak serius ketika memasukan tiga buah koin perak ke sebuah mesin Crane Game. ‘Pokoknya kali ini harus bisa!’ tekad gadis itu dalam hati. Konsentrasi dan penuh keyakinan.

Wajar saja Sakura serius kali ini, karena dia sudah menghabiskan banyak uang untuk menyelesaikan permainan itu. Crane Game, mesin permainan yang didalamnya banyak hadiah boneka. Dengan tangan mekanik khusus yang akan mencengkeram boneka tersebut. Bila telah berhasil mencengkeramnya belum tentu kita bisa langsung menang. Harus mampu menggiring bonekanya keluar dengan selamat melalui lubang kecil yang ada di sudut bagian bawah kotak terlebih dahulu, baru berhasil.

PIP

Sakura mulai menekan tombol merah untuk menggerakkan tangan mekanik. Setelah tangan mekanik itu berada tepat diatas target incarannya, gadis itu segera menekan tombol kuning dan membuat tangan mekaniknya otomatis bergerak turun. Dia berhasil mencengkeram sebuah boneka buaya. Seringai kecil tersirat di wajah sang gadis musim semi―tampak tegang, dengan hati-hati kembali dia tekan tombol warna merah. Tinggal selangkah lagi, dia hanya perlu menggiring tangan mekanik itu bergerak menuju lubang keluar dan meraih kemenangan.

“Yee―”

Drrrt… PLOSH

“HEEEE…?!” ―syok―

Apa yang terjadi? Saat tangan mekaniknya mulai bergerak ternyata boneka yang kurang dicengkeram erat itu pun malah terjatuh.

“Argh… sialaaaan!” kesal Sakura tak percaya usahanya kembali sia-sia. Melihat tangan mekanik itu akhirnya terus bergerak menuju lubang keluar tanpa membawa hasil apapun. Tch, padahal tinggal sedikit lagi―desah gadis itu kecewa.

“Ck~ belum berhasil juga?” sindir Sasuke sembari terkekeh pelan, “Payah―”

“Ugh…,” Sakura cemberut, “Jangan menghina orang lain dulu. Kau sendiri juga pasti gak mampu!”

“Siapa bilang? Ini buktinya.” kata Sasuke, dengan bangga dia perlihatkan sebuah topi berwarna merah yang tak dia pakai.

Sakura tambah sebal melihatnya. “Dapat dari mana?”

“Hasil dari seratus kali shoot.”

“Huh, pantas saja. Kau kan jago main basket,” keluh Sakura, “Coba kalau main yang ini!” tantangnya kemudian.

Onyx Sasuke bergulir, sejenak memperhatikan mesin Crane Game yang ditunjuk Sakura. “Wah, tak kusangka kau tenyata suka boneka. Mau diambilin yang mana?” tawar lelaki itu penuh percaya diri.

“Terserah. Buktikan saja kalau kau mampu.” kata Sakura seraya meyerahkan tiga koin perak miliknya pada Sasuke.

“Hn.”

Setelah menerima koin-koin perak itu, segera Sasuke memulai permainan. Sakura memperhatikan dengan seksama ketika pemuda itu menekan tombol merah dan kuning. Sejauh ini lumayan, tangan mekanik-nya berhasil mencengkeram sebuah boneka dan mulai menggiringnya menuju lubang keluar. Lancar, bonekanya tetap terbawa.

Drrtt

Tapi mendadak tangan mekanik itu berhenti―padahal tinggal sedikit lagi. Untung saja tak seperti Sakura tadi, setidaknya boneka ini masih berada kuat dalam cengkeraman crane dan tak sampai terjatuh.

“Hihihihihi~…” Sakura cekikikan. Ternyata Sasuke sama tak beruntungnya dengan dia. “Kau juga payah, Sasu~…”

“Ugh―” merasa tak terima diledek seperti itu, Sasuke pikir dia mungkin harus pakai cara lain. Kalau situasinya kayak gini sih terpaksa aku keluarkan senjata rahasia, batin Sasuke.

DUAK… Sakura melohok tak percaya saat Sasuke tiba-tiba menendang keras bagian bawah mesin game itu―

Drrtt… Siiiiiiiinnggg…

Ajaib. Tangan mekaniknya mulai bergerak kembali dan akhirnya berhasil membawa hadiah boneka tersebut keluar dari kotak mesin.

“Haha, hebatkan!” bangga Sasuke seraya menyerahkan sebuah boneka beruang putih pada Sakura. “Jadi siapa yang payah disini, hmm?”

“Iih, tapitapitapi yang tadi itu curang!” protes Sakura, “Tendanganmu barusan itu apa?!”

“Heh, kau tak tahu ya, tekniknya memang kayak gitu. Mesti pakai cara kasar.” jawab Sasuke asal.

“Masa sih?” Sakura tak percaya.

Gadis yang masih belum bisa menerima kekalahan itu pun lekas kembali memasukan koin dan main lagi. Rasanya dia penasaran, belum puas kalau belum menang. Terlebih dia pun ingin mencoba seperti apa yang dilakukan oleh Sasuke.

Drrrt

―Menendang mesin itu ketika tangan mekaniknya mendadak berhenti.

DUAK… Sakura mulai menendang.

Beberapa saat dia menunggu hasilnya. Tapi ternyata tangan mekanik itu tetap tak bergerak.

DUAK… Sekali lagi Sakura coba tendang. Tetap tak berhasil.

DUAK… Tendangan ketiga pun juga gagal.

DUAK… DUAK… DUAK… Sakura yang kesal akhirnya terus menerus menendang mesin itu.

“Woi, apa yang kalian lakukan?!” teriak penjaga Game Center. “Mau merusak mesin game-nya ya!”

SasuSaku tersentak. Kaget melihat pria besar bertampang sangar berjalan ala babon bersiap menghampiri mereka. ‘Waduh, kalau udah kayak gini pasti bakal kena marah,’ batin keduanya.

“Kurang ajar! Awas kalian!”

“Huaaa―” panik Sakura.

“Kabur!” ajak Sasuke yang langsung cepat menarik tangan gadisnya.

Akhirnya muncul adegan kejar-kejaran. Sampai di luar Game Center, Sasuke dan Sakura yang berhasil melarikan diri segera bersembunyi dibalik tembok sebuah toko. Kali ini pelarian keduanya berhasil. Penjaga Game Center itu sepertinya sudah tak mengejar mereka lagi ketika Sasuke diam-diam mengintip kebelakang.

“Huff~ untung aja selamat.”

“Ah, kau sih nendangnya kebanyakan.” keluh Sasuke menyalahkan Sakura.

“Idih, emangnya siapa yang ajarin aku teknik tadi?” balas Sakura, membela diri.

“Hn,” Sasuke memutar onyx-nya, tak bisa menyangkal.

“Yah, terpaksa mending seminggu ini kita jangan dulu datang kesana.” usul Sakura yang ternyata langsung disetujui oleh Sasuke.

Meski sekarang mereka sedikit lelah dan terengah usai berlari, tapi mengingat pengalaman konyol barusan rasanya cukup menyenangkan. Sejenak Sakura dekap erat boneka beruang itu dalam pelukannya, hadiah pertama yang dia dapatkan dari Sasuke.

Melanjutkan acara kencan, sepasang muda-mudi pink dan raven itu kembali berjalan-jalan menikmati suasana sore dalam keramaian kawasan Konoharajuku. Berjalan menyusuri daerah pertokoan, café dan restoran. Tampak akrab dan gembira, sesekali bercanda dan bercengkerama sambil makan es krim. Menjilati Strawberry mix dan Moccafreez Ice Cream―sayang sekali tidak ada rasa tomat, Sasuke―

“E, eeh… mau apa sih?!” kaget Sasuke saat tiba-tiba ditengah jalan dia ditarik Sakura ke suatu tempat. Ehm, tepatnya sebuah kotak―photo box.

“Buat kenang-kenangan,” kata Sakura, menghiraukan tatapan kaget dari onyx yang membulat. “Aku biasa begini kalau lagi jalan-jalan sama Ino dan Hinata. Seru lho, kita ambil foto bareng ya?” Tanpa menunggu persetujuan Sasuke, gadis itu langsung menyetel program didalamnya untuk ambil foto 4 kali.

Sasuke sebenarnya enggan. Cewek itu emang suka aneh-aneh. Ngapain ambil photo box segala, kalau cuma sekedar foto kan lewat ponsel juga bisa. Tapi melihat Sakura yang tampak antusias, pemuda itu tentu tak bisa menolak. Apa sih yang enggak kalau buat pacar tercinta? Aih~

“Cheers~…” seru Sakura yang sudah pasang senyum dan gaya sambil angkat dua jari bentuk ‘v’ di sisi pipi.

JEPRET

―Sasuke gaya datar.

“Ih, senyum dong Sasu!” protes Sakura.

Take two. JEPRET

Terambil gambar, Sasuke melirik tajam Sakura yang menarik―mencubit―sebelah pipinya.

“Heh, jangan sembarangan ya!” Berlagak kesal Sasuke lekas merangkul Sakura dengan sebelah tangan, menahan gadis itu agar tak kabur saat dia balas cubit juga pipi ranumnya.

“Aaaww,…” erang Sakura.

Take three. JEPRET

Terambil gambar mereka saling cubit pipi, namun tetap tampak senyuman ceria di wajah keduanya.

“Ih, yang bener dong. Nanti fotonya pada jelek…” kata Sakura, sambil coba singkirkan lengan Sasuke dari bahunya yang dirasa agak mengganggu. Tapi Sasuke malah makin erat menahan Sakura tetap dalam rangkulannya.

“Hn, yang ini pasti bagus.” bisik pemuda itu tepat di telinga Sakura sebelum…

CUP

―Eh?!

JEPRET

Take four. Terambil gambar foto paling manis dan bikin blushing keduanya. Saat Sasuke mendaratkan sebuah kecupan ringan di pipi Sakura.

.

.

~( $_$ )~

~( $_$ )~

.

.

Sejenak Sakura tertegun ketika berdiri di depan pagar teralis besi setinggi 3 meter yang dicat warna hitam berpadu merah mengelilingi sebuah tempat. Benar-benar tempat yang luas dimana sebuah lapangan basket langsung terlihat dalam pandangan emeraldnya. Ditengah lapang―tempat melakukan jump ball―tergambar sebuah simbol awan merah dengan graffiti kanji bertuliskan AKATSUKI. Seolah ingin tegaskan kepemilikan tempat ini dengan pasti.

Lapangan olahraga yang bersih, lengkap dengan segala fasilitas. Lingkungannya sejuk dan teduh, karena sekelilingnya tumbuh beberapa pohon rindang. Tak jauh dari dekat lapangan ada sebuah rumah kecil yang tepat bersebelahan dengan gudang perlengkapan dan toilet umum, serta kios makanan ringan yang tak sepi pengunjung. Pandangan Sakura pun beralih ke sepanjang benteng beton yang berhiaskan bermacam lukisan graffiti, berdiri kokoh di belakang kursi-kursi panjang khusus penonton yang berjejer rapih.

Sakura berjalan mengikuti Sasuke menghampiri sekelompok anak remaja yang terlihat asyik berkumpul dan mengobrol.

“Whoaaaa~ lihat apaan tuh yang Sasu bawa?”

“Cewek? Gak salah?”

“Cie, cie, ehem, siapa nih?” goda orang-orang asing itu.

Sesosok pemuda tampan berambut raven panjang berkuncir berjalan mendekati SasuSaku. Dia yang daritadi pasang tampang melohok tak percaya. Sakura agak risih juga sebenarnya, ketika pemuda itu terang-terangan memperhatikan dirinya dari atas hingga bawah, menelisik penampilannya.

“Hmm…,” gumamnya sambil berjalan memutari Sakura. “Lumayan, dia cantik dan manis ya Sasuke. Pacarmu?”

“Hn,” jawab Sasuke sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Whaaa~ Serius?! Ternyata adikku cowok normal dan punya pacar seorang cewek?!” teriak lelaki itu heboh, lantas merangkul Sasuke dan mengacak-acak rambut raven pantat ayamnya dengan gemas.

“Argh, nii-san, hentikan,” Sasuke berusaha melepaskan diri, “Jangan norak gitu deh.”

“Hahaha~ habisnya aku gak nyangka bakal ada cewek yang berhasil menarik perhatian my lovely baka ototou,” Sambil tersenyum, dengan akrab lelaki bertampang mirip Sasuke itu mengulurkan sebelah tangannya pada Sakura. “Kau pasti gadis istimewa, siapa namamu? Perkenalkan, aku Itachi. Uchiha Itachi, kakaknya Uchiha Sasuke.”

“Haruno. Haruno Sakura, he~…” balas Sakura, menjabat tangan Itachi.

“Cantik. Namamu secantik dirimu, Sakura.” goda Itachi, sukses bikin Sakura blushing. “Woi, yang lainnya! Kenalin nih, pacar adikku…”

“E, eeh?!” Segera saja Sakura lekas digiring Itachi untuk diperkenalkan pada anggota komunitas lain.

―Hai, namaku Haruno Sakura, salam kenal semuanya.”

Ada pemuda bernama Gaara―yang berambut merah, dengan tato ‘Ai’ di kening―sepertinya hanya dia dan Sasuke saja disini yang seumuran dan masih berstatus sebagai pelajar sekolah. Sisa lainnya terlihat lebih dewasa, berumur dua puluh tahunan dan merupakan mahasiswa satu universitas dengan Itachi. Meski cowok berambut merah lain yang bernama Sasori punya tampang babyface, tapi Itachi bilang jangan tertipu sama wajahnya yang sok polos dan imut. Nyatanya lelaki itu justru berumur lebih tua dari Itachi. Deidara―yang sekilas dari model rambutnya mengingatkan Sakura pada Ino―mahasiswa seni, tampak pesolek dan narsis. Hidan―cowok berambut perak klimis yang sok keren dan mengagungkan Jasin. Sakura bahkan diajak untuk masuk sekte kepercayaannya, tapi tentu saja langsung ditolak. Kisame―pria biru pucat bertampang sangar berseringai hiu. Zetsu―pemuda misterius―kata Itachi, dia seperti punya kepribadian ganda. Yahiko―alias Pain―siapa sangka pemuda yang wajahnya dipenuhi tindikan itu adalah ketua komunitas Akatsuki ini. Juga Konan―pacarnya Yahiko―satu-satunya cewek yang nampak ada disini selain Sakura.

Sekarang Sakura jadi tahu kalau mereka semua adalah teman-teman sepermainan Sasuke di Sharin’gan Resident Hill, komplek perumahan tempat Sasuke tinggal yang sama-sama memiliki hobi basket. Mereka sering latihan di tempat ini dan membentuk sebuah tim bernama AKATSUKI.

“Wow, tempat ini keren ya?” kagum Sakura sambil melihat-lihat kesekeliling.

“Hn, biasa saja,” kata Sasuke disela dia melepaskan kemeja seragamnya, memperlihatkan postur tubuhnya yang topless tepat dihadapan Sakura. Hendak berganti baju dengan T-shirt biru tua. “Kau suka―” tanyanya kemudian. “―tempat ini?”

“Aaa―iyaaa…” Entah memang sengaja atau tidak, mungkin Sasuke sudah terbiasa melakukannya di tempat yang notabene jarang ada anak gadis yang datang. Dia cuek saja menanggalkan pakaiannya di depan Sakura, bikin gadis musim semi itu sesaat melohok dan menelan ludah melihatnya. Sebisa mungkin dia halau rasa gugup yang tiba-tiba menyerang, serta berusaha untuk tidak berteriak apalagi mimisan melihat otot six pack lelaki itu. Sakura cepat-cepat berbalik, walau emeraldnya sesekali tertarik sendiri melirik kebelakang.

Deg!

Baru kali ini dia merasa risih melihat pria setengah telanjang. Padahal sebelumnya sudah terbiasa kala melihat anak-anak cowok di kelasnya yang secuek Sasuke ketika mereka berganti pakaian pas jam pelajaran olahraga. Hmm, tapi kalau lihat pacar sendiri yang melakukannya entah kenapa rasanya berbeda.

“Err, kau sering datang kemari?” tanya Sakura, basa-basi. Dia lihat Sasuke sudah selesai berganti pakaian dan sedang mengencangkan tali sepatu.

“Iya. Seminggu dua kali.”

“Memangnya gak capek? Kau ikut ekskul basket di sekolah, tapi tetep masih latihan disini?”

“Kenapa, kau khawatir takut aku sakit? Ternyata kau cukup perhatian padaku, ya?” goda Sasuke. “Tenang saja. Meski aku sibuk, aku juga akan tetap meluangkan lebih banyak waktu untuk bersamamu.”

“Eh, bukan itu maksudnya,” bantah Sakura dengan wajah sedikit merona. “Hanya saja kupikir porsi latihanmu sedikit berlebihan kalau cuma sekedar hobi…”

“Yup, kau benar,” Sasuke tersenyum tipis, sekilas dia melirik ke arah Gaara. “Tapi aku perlu banyak latihan biar gak jadi amatir.”

Merasa diperhatikan, lelaki berambut merah itu hanya balas menyunggingkan sudut bibirnya pada Sasuke. Sepertinya ada sedikit persaingan tersendiri diantara mereka dalam tim.

Setelah persiapan selesai, Sasuke segera turun ke lapangan. Bergabung dengan anggota lainnya dan bersiap melakukan pemanasan sebelum melahap porsi latihan siang ini. Sementara menunggu Sasuke, Sakura yang merasa bosan akhirnya keluyuran pergi jalan-jalan di sekitar lapangan. Setelah sejak tadi dia sudah banyak mengobrol dengan Konan atau anggota dan penonton lainnya sementara memperhatikan Sasuke yang sibuk berkutat dengan kegiatannya. Melihat keseriusan Sasuke, sekarang Sakura paham kenapa lelaki itu begitu jago dalam permainan ini. Tiga kali seminggu meluangkan waktu untuk berlatih ternyata tidak sia-sia. Basket seolah sudah jadi keahliannya. Berbeda sekali dengan diri Sakura yang begitu payah kalau lagi main basket.

Ya, Sakura itu payah. Mungkin semua orang mengira dia jago dalam segala hal. Apalagi dalam bidang olahraga. Kecuali basket, Sakura paling gak bisa sama olahraga yang satu ini. Makanya setiap ada yang menantangnya main basket, pasti langsung Sakura tolak. Mungkin sebaiknya dia ikut latihan bersama Sasuke, biar bisa menang kalau ada orang yang menantangnya main one on one.

Hmm, ngomong-ngomong soal taruhan, akhir-akhir ini entah kenapa Sakura jadi tidak bersemangat melakukannya. Seminggu ini saja sudah tiga kali dia menolak ajakan taruhan dan tantangan dari siswa di sekolah. Apa semua ini karena sekarang Sakura sibuk pacaran? Jangan-jangan benar apa kata orang, kalau pacaran bisa merubah sifat seseorang. Tapi untung saja rasa cintanya terhadap uang tak berubah. Tetap berhemat dan mengumpulkannya. Meski kemarin-kemarin gadis itu sempat mengeluh karena keasyikan main di Game Center bikin dompetnya kempis. Kalau sudah seperti ini biasanya Sakura jadi sensitif soal masalah keuangan.

TRING

Tiba-tiba manik emerald itu bersinar begitu melihat sesuatu yang berwarna keperakan tergeletak di tengah jalan setapak yang hendak dilaluinya. Melihat dari kilau benda itu, dengan penglihatannya yang tajam Sakura yakin kalau tidak salah itu adalah…

“Uang!” teriak Sakura lekas mengenali. Buru-buru dia berlari menghampiri. Senang sekali rasanya melihat benda itu, apalagi bila mendapatkannya.

Drap… Drap… Drap… Drap…

Tinggal lima langkah lagi dia sampai. Sejauh ini baik-baik saja. Uang itu masih ada di depan matanya dalam keadaan aman, sampai tiba-tiba…

“MINGGIR! ITU PUNYAKU!” teriak seseorang yang langsung menghentikan langkah Sakura.

Gadis itu menoleh dan melihat seorang anak kecil berusia 9 tahunan muncul di hadapannya. Bocah ingusan yang memandang tajam dan penuh tantangan terhadap Sakura.

“Oh yeah?!” kata Sakura sembari berpangku tangan. “Uang itu milikmu, eh?!”

“Aku, aku yang lihat uang itu duluan.” kata si Bocah dengan tegas.

SRET… Karena jarak Sakura dan uang itu lebih dekat, dengan jenjang kaki panjangnya Sakura segera menginjak uang logam itu dan menyeretnya di bawah kaki.

“Maaf. Tapi aku duluan tuh yang nyentuh uang ini.” balas Sakura tak mau kalah.

“Dasar pencuri!” tuduh Bocah itu dengan lancang.

“APA?! Pencuri?” cengang Sakura, emosi. “Heh bocah, kau sendiri ngaku-ngaku uang ini milikmu, padahal aku juga tahu kalau ini pasti punya orang lain yang tak sengaja terjatuh. Iya, kan?”

“Ugh,” si Bocah sama-sama jadi sewot. “Aku bilang itu milikku, ya milikku. Awas ya, akan kurebut meski pakai cara kasar.” ancam si Bocah yang tiba-tiba langsung menyergap kaki Sakura, berusaha mengambil uang itu.

“Huaaaa~…” teriak Sakura yang tiba-tiba diserang.

Akhirnya perang pun terjadi. Baik si Bocah maupun Sakura dua-duanya tak mau kalah. Saling adu mulut―cibir, maki―si Bocah juga terus berusaha mengangkat kaki Sakura. Dan Sakura tak menyerah, meski sudah kena pukul, cakar, digelitiki, dia tetap bertahan. Tak akan membiarkan uang itu jadi milik orang lain.

“Hoi, apa yang sedang kalian lakukan?!” teriak Sasuke begitu mendapati Sakura tengah bertarung sengit.

Seperti dihentikan oleh wasit, pertarungan pun seketika berhenti. Keduanya terdiam begitu Sasuke berjalan menghampiri mereka dan mengambil uang yang tadi sempat jadi sengketa.

“Iih, Sasu~…” / “Aah, kak Sasuke…” Baik Sakura maupun si Bocah merasa kesal melihatnya.

“Jadi hanya karena ini?” tanya Sasuke tegas. “Sakura? Konohamaru?”

“Huff~…”

Sakura mengerucutkan bibirnya, kembali mendelik ke arah bocah yang ternyata bernama Konohamaru. Konohamaru pun langsung tertunduk, walau bibirnya masih tetap bergumam dan mengumpat Sakura.

“Konohamaru, bukankah kau harusnya ada di gudang dan bersihkan peralatan? Kenapa malah rebutan uang?”

“Fufufufu~ Syukurin…” cibir Sakura sambil cekikikan, merasa puas Sasuke memarahi bocah itu.

“Kau juga,” Sasuke berbicara pada Sakura, “Ngalah dikit kek sama anak kecil.”

JLEB

Sakura kena sindir. Kali ini giliran Konohamaru yang menertawainya. Si gadis musim semi jadi makin sebal. Niatnya sih ingin langsung jitak kepala tuh bocah tapi buru-buru dia urungkan setelah terkena deathglare Sasuke.

‘Sabar, sabar, cuma bocah ingusan’ Inner Angel Sakura menenangkan.

Sasuke geleng-geleng kepala, tak habis pikir dengan kelakuan dua orang ini. Akhirnya untuk menyelesaikan masalah, tanpa banyak basa-basi dia langsung menyerahkan uang tersebut pada Yahiko, biar masuk kas keuangan tim saja. Daripada dia lemparkan uang itu jauh-jauh, takutnya Sakura dan Konohamaru malah akan rebutan lagi, sibuk nyari tuh duit.

Sakura dan Konohamaru mendengus pasrah. Dua-duanya sama-sama kalah. Tak berhasil dapatkan sekeping 500 ryo itu. Sia-sia sudah usaha mereka yang tadi sempat kerahkan banyak tenaga dalam pertempuran.

“Huh, gara-gara kakak gak serahin uang itu sama aku sih jadi aja diambil kak Sasuke.” Konohamaru mengeluh menyalahkan Sakura.

“Apa kau bilang?!” Sakura melotot, tak terima. “Dasar bocah ingusan!”

“Siapa yang bocah ingusan?” balas Konohamaru, “Dasar pinky jidat lebar mata duitan!”

“What?!” Sakura jelas-jelas tersinggung, “Memangnya kau sendiri gak mata duitan?!” Sakura bersiap menjitak Konohamaru tapi buru-buru dicegah Sasuke.

“Heh, cukup.” sela Sasuke, lekas menahan tangan Sakura.

“Huuuu~ jaim dikit dong di depan pacar. Kak Sasu kok mau-maunya sih pacaran sama cewek babon kasar kayak dia, Wuek!” kata Konohamaru sebelum ngacir dan berlari pergi. Tak lupa menjulurkan lidah sambil menepuk-nepuk pantat belakangnya mengejek Sakura.

“Arrggghhhhh~ KURANG AJAR!”

“Awas ya, si Konohamaru itu kalau ketemu lagi pasti bakal aku jitak!”

Bahkan dalam perjalanan pulang pun sang gadis musim semi masih saja terus mengomel, meluapkan emosi dan kekesalannya teringat kejadian tadi. Mendengar gerutuan Sakura, Sasuke hanya terkekeh pelan. Ada apa dengan gadisnya, sampai-sampai sekesal itu hanya karena sekeping uang logam yang jadi rebutan dengan seorang bocah.

“Itu cuma 500 ryo, kan? Apa kau harus seemosi itu menghadapi Konohamaru?”

“Ugh, 500 ryo juga uang tahu?!”

“Iya emang uang, kata siapa bukan? ckckckck~…” Sasuke menggeleng tak percaya, “Kau itu mirip banget sama Konohamaru.”

“Apanya yang mirip?! Heh, jangan samakan aku dengan bocah itu.” Sakura protes tak terima, terlebih lagi dia teringat sama kelakuan anak kecil menyebalkan itu.

Sasuke gendikkan kedua bahunya, “Hmm, yah, habisnya kalian sama-sama suka uang.”

“Apa itu aneh? Semua orang juga suka, kan?”

“Hn,” Sasuke mengangguk, “Tapi Konohamaru mungkin berbeda.”

Sakura mengernyit tak mengerti, “Apa maksudmu?”

“Dia anak yatim piatu,” Sejenak Sasuke mulai bercerita, “Bocah miskin yang dulu tinggal di tempat penampungan. Suatu hari dia kabur karena sudah tak tahan menerima perlakuan kasar dan sikap tak adil pengurusnya. Selama beberapa bulan hidup luntang-lantung di jalanan, tak punya tempat tujuan. Sampai suatu hari kami tak sengaja menemukan anak itu terkapar di depan pagar Akatsuki. Menggigil sakit karena kehujanan dan berhari-hari tak makan.

―Merasa kasihan dan berpikir tak mungkin membiarkan bocah itu hidup dijalanan, akhirnya kami sepakat memberi Konohamaru tempat tinggal. Tapi sebagai imbalan, kami suruh dia membantu mengurus dan membersihkan perlengkapan klub tiap kali kami pakai. Bukan maksud mempekerjakan anak di bawah umur, tapi dia sendiri yang minta. Bagaimanapun juga dia harus terbiasa dan jadi lebih tangguh untuk bisa hidup di dunia yang keras ini. Setiap hari dia berusaha keras. Dia kumpulkan uang sedikit demi sedikit. Dia bisa dapat 15.000 ryo tiap kali kami datang. Lumayan cukup buat makan sehari-hari di zaman kayak gini,”

Sakura tertegun mendengarnya. Tak menyangka anak seperti Konohamaru ternyata punya kisah mengharukan begitu.

“Makanya Konohamaru itu senang sekali kalau dapat uang, soalnya dia butuh.” lanjut Sasuke.

“Hmm, begitu ya…” Sakura menunduk. Hatinya berdesir merasa iba. Tahu ceritanya begitu, dia tak akan sekesal ini pada Konohamaru dan mungkin akan mengalah, menyerahkan uang itu padanya―walau rada gak rela.

“Eh, tapi darimana kau tahu kalau aku juga suka uang?” tanya Sakura, “Semua orang juga suka, kau sendiri, memangnya kau tak suka uang?”

Sasuke kembali terkekeh melihat Sakura, “Iya, kau benar. Aku juga suka. Semua orang suka uang. Tapi kau berbeda. Saking suka dan senangnya, demi 500 ryo, kau bahkan sampai sewot dan rebutan dengan Konohamaru. Itu sangat abnormal, Sakura~…” sindir Sasuke.

“Aaaa―huff~…” Sakura mendengus, tak berkutik, tak bisa membalas perkataan Sasuke. Wajah gadis itu bersemu merah. Dia garuk-garuk sebelah pipinya yang tak gatal, merasa malu. Ketahuan deh kalau selama ini dia gila sama uang.

“Hn,” Sasuke mencubit bawah dagunya. Sejenak berpikir, “Eh, jangan-jangan kau ini lebih menyukai uang dibandingkan aku…”

JLEB

Tebakan Sasuke itu rasanya benar-benar tepat menancap dalam diri Sakura.

“Heeee~…” cengir gadis itu. Serba salah.

.

.

~( $_$ )~


~( $_$ )~

.

.

Berita tentang jadiannya Sakura dan Sasuke telah menyebar ke seluruh negeri, alias lingkup sekolah. Entah siapa penyebar kabar ini, yang jelas baik Sakura maupun Sasuke tidak pernah dengan sengaja mengumumkannya. Terlebih lagi mereka pun tak pernah terang-terangan berlaku mesra―misalnya di depan umum, layaknya pasangan siswa-siswi pacaran lain dihadapan teman-teman mereka. Di sekolah, keduanya lebih sering berlaku cuek dan sibuk dengan urusan masing-masing. Sasuke dengan latihan basketnya atau Sakura dengan ajang taruhannya. Meski begitu mereka tetap akrab dan menjalin hubungan baik, seperti sesekali menghabiskan waktu istirahat dengan makan bersama dan pulang sekolah sama-sama. Ya, hanya sebatas itu. Sebagai pasangan yang baru jadian, kesannya memang terlalu dingin dan biasa.

Tak ada masalah bagi Sasuke jika semua orang tahu statusnya sekarang sudah ‘berpacaran’. Tapi lain halnya dengan Sakura yang jadi susah karena fansgirl-nya Sasuke di sekolah mulai bertindak. Dari mulai ditatap tajam, disikut kala berpapasan di jalan, disindir dan dicibir, diteror, bahkan sampai nyaris dilabrak oleh beberapa siswa kelas 3―para cewek pecinta daun muda―yang juga naksir Sasuke. Mereka terang-terangan menunjukkan kebenciannya terhadap Sakura dengan alasan tak percaya bahwa lelaki Uchiha itu bisa tertarik pada seorang Haruno yang dinilai tak layak mendampingi sosok sepopuler Sasuke. Bagai bunga mawar yang jatuh keatas kotoran sapi―ugh, apa Sakura sejelek itu? Padahal gadis musim semi ini juga termasuk cewek populer di kalangan cowok saingan taruhannya. Dan soal yang satu ini Sasuke belum tahu. Sama sekali belum tahu soal hobi Sakura yang senang taruhan untuk dapatkan uang.

“Eh Sasu, tahun depan pasti pendapatanmu berkurang,” kata Suigetsu disela obrolannya dengan Sasuke saat mereka tengah asyik bermain basket bersama di jam istirahat, “Februari nanti mungkin banyak fansgirl-mu yang gak bakal kasih kamu cokelat valentine.”

“Hn, tak masalah,” jawab Sasuke cuek, sibuk memainkan benda bulat orange itu―drible― menghentak tanah lapang. “Aku juga tak terlalu ingin diberi cokelat sama mereka.” Sasuke ingat, tahun kemarin saja tak semua cokelat yang dia terima dia makan sendiri. Sebagian besar hadiah yang didapatkannya malah dia berikan lagi pada orang lain atau membiarkannya begitu saja sampai jadi buluk dan kadaluarsa―Hmm, gadis-gadis itu pasti akan sakit hati bila mengetahui kenyataan ini.

“Cowok populer itu kalau sudah punya pacar pamornya bakal turun lho~” lanjut Suigetsu.

“Aku tak peduli. Malah bagus. Sebal juga kalau mereka terus menerus mengejarku,” kata Sasuke sembari bersiap menembakan bola ditangannya tepat pada ring basket. “Bagiku cukup Sakura seorang―”

“Meski dia menjadikanmu taruhan?”

ZRANK

Bola yang dilecutkan Sasuke hanya berhasil membentur bibir ring―gagal masuk. Dia tak lekas mengambilnya kembali malah membiarkan bola itu terus menggelinding nyaris keluar lapangan. Membuat Suigetsu jadi bersusah payah berlarian mengejar bolanya sekarang.

“Apa katamu barusan?” tanya Sasuke yang langsung pasang tampang kepo pada pemuda bergigi tajam berhelaian rambut biru pucat itu.

“Eh? Hahaha~ bukan apa-apa kok,” jawab Suigetsu sambil nyengir dan garuk-garuk belakang kepala, “Biasa, cuma gosip.”

“Gosip apa?” Tumben-tumbennya si Uchiha bungsu ini tertarik sama gosip.

“Hmm, aku juga tak tahu persisnya apa, yang jelas anak-anak cewek di kelasku sering banget ngomongin hal ini―

Perkataan Suigetsu yang terkesan menggantung itu jelas bikin Sasuke makin penasaran.

―Katanya kau dijadikan bahan taruhan sama Sakura.”

Hah?!… Sontak manik onyx itu membulat. Meski cuma gosip, tapi tetap terdengar mengejutkan―dan cukup menyakitkan―bukan?

“Tch, gosip murahan. Paling juga itu cuma ulah anak cewek yang dulu pernah aku tolak.” Sasuke coba berpikiran positif. Sakura tidak mungkin seperti itu, yakinnya dalam hati.

Suigetsu mengangguk-angguk setuju. “Hmm, iya sih, meski dia gila taruhan juga, tapi mustahil kan dia sampai tega melakukannya padamu.”

“Eh?!” Lagi-lagi, perasaan terkejut dan penasaran menghinggapi sang pemuda berambut raven, “Siapa yang kau maksud gila taruhan barusan?”

ZRANK

Suigetsu melakukan three point shoot. “Sakura,” jawabnya singkat, kembali dia menoleh menatap Sasuke yang kini jadi terdiam, “Memangnya kau tak tahu Sakura itu senang taruhan?”

“Hn?” Sasuke terbelalak tak percaya. Tidak. Aku tidak tahu, batin lelaki itu―yang entah kenapa tiba-tiba mulai gelisah. Sakura senang taruhan? Hah, jangan bercanda.

.

~( $ _ $ )~

.

Setelah pembicaraannya dengan Suigetsu selesai, Sasuke mulai merasakan sesuatu yang aneh. Tentang Sakura, ini membuat hatinya merasa tak tenang. Bagaimana mungkin Sasuke sama sekali tak tahu tentang kebiasaan pacarnya yang satu itu, bahwa Sakura gila taruhan. Sasuke sudah tahu dan memaklumi soal kegemaran Sakura terhadap uang, tapi tidak untuk taruhan. Apalagi Sasuke mulai ragu saat banyak orang bilang Sakura menjadikan hubungan mereka sebagai ajang taruhan. Meski berkali-kali lelaki itu coba untuk berpikiran positif, tapi tetap saja jauh didalam lubuk hatinya dia tak bisa terima kenyataan ini.

Dijadikan taruhan? Sakura, kau tak sampai tega melakukannya, kan?, batin Sasuke.

Dan kenyataan mengecewakan itu justru akan segera diketahui oleh Sasuke saat seseorang menunjukan bukti tak terbantahkan yang mengungkapkan rahasia besar Sakura kehadapannya.

.

.

.

.

.

Ponsel di atas meja berdering. Walaupun enggan, tapi berisiknya ringtone FALILV-Just Awake langsung memaksa Sasuke untuk menjawabnya.

“Hn,”

“Hai, Sasuuuu~…” terdengar suara manja memanggil dari seberang telepon sana.

“Siapa ini?” tanya Sasuke ketus, merasa sedikit kesal kalau ada orang asing iseng menghubunginya hanya untuk sesuatu yang tak penting.

“Ini aku, Karin. Punya waktu bentar buat ngobrol?”

“Gak punya.” jawab Sasuke singkat, langsung menutup teleponnya cepat. Terdengar suara protes Karin dari jauh sebelum ditutup.

Tak lama musik Just Awake itu kembali mengalun. Coba Sasuke abaikan tapi terus saja berulang. Niat banget sih si Karin itu mengusiknya.

“Apa lagi?!” bentak Sasuke yang mau tak mau akhirnya terima juga panggilan telepon itu.

“Kubilang ada yang ingin kubicarakan. Ini penting banget,” bujuk Karin, “Kau pasti mau dengar soal yang satu ini.”

“Soal apa?” tanya Sasuke basa-basi, aslinya sama sekali tak tertarik.

“Duuuh~ gak bisa diomongin disini. Gimana kalau kita ketemuan di luar?” tawar Karin.

“Tch, gak mau!” tolak Sasuke to the point, hendak kembali menutup teleponnya.

“INI SOAL SAKURA…!”

Dengan cepat Karin mengatakan sesuatu yang membuat Sasuke mengurungkan niatnya sesaat. Mendengar nama ‘Sakura’ jelas merupakan hal sensitif baginya, maka Uchiha bungsu itu kembali memasang telinga mendengarkan dengan seksama apa yang Karin katakan―

“Kalau kau ingin tahu, temui aku di Ichiraku café sekarang… tut… tut… tut…tuuuuutt…”

―Itu saja.

Karin menutup teleponnya sebelum Sasuke memberikan keputusan. Tapi tanpa perlu jawaban dari Sasuke sekali pun, Karin yakin kalau cowok itu pasti akan datang menemuinya sesuai perintah.

Dan benar saja, selang tiga puluh menit kemudian di Ichiraku café, gadis cantik berdandan modis nan sexy itu tersenyum puas ketika dia dapati sosok Sasuke muncul dan menghampirinya.

“Apa maksud pembicaraanmu tadi?” tanya Sasuke to the point, tanpa basa-basi lelaki itu langsung menginterogasi Karin.

“Hei~ tenang dulu dong Sasuuu~ Santai. Hmm, gimana kalau kita makan sepotong cake dulu bentar sebelum ngobrol?” ajak Karin.

“Heh, aku datang kemari karena kau bilang ini tentang Sakura. Jangan bercanda ya. Harusnya tak kusia-siakan waktuku yang berharga untuk meladeni kekonyolanmu,” kata Sasuke yang merasa kesal sudah ditipu. Tanpa pikir panjang, lelaki itu pun segera angkat kaki dan bersiap pergi dari sana.

Tapi dengan cepat Karin segera menghalangi. “Tunggu!”

“Minggir!” bentak Sasuke.

“Ok, baiklah akan langsung kukatakan. Perhatikan baik-baik dan lihat apa ini,” kata Karin sembari mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas. Kemudian menunjukkan satu video rekaman tentang Sakura pada Sasuke yang sukses bikin onyx kelam itu membulat tak percaya.

…Tentu saja aku menerima Sasuke karena aku ingin menang taruhan. Ingin dapatkan uangnya. Kau tahu sendiri kan yang aku suka cuma uang dan taruhan…

“I, ini…?” Sasuke terhenyak bukan main.

“Bagaimana, mengejutkan bukan?” kata Karin, dengan wajah sok innocent-nya memanasi. “Apa kau tahu, pacarmu itu rela lakukan apapun demi uang…”

~( $_$ )~

TBC….. Next to Chapter 7

~( $_$ )~


Bachot Session from Author:

A~Yeee publish juga (^0^)/ maaf ya lama, ehehe~ (^-^)a

Special Thanks to:

Jile Sing, Itha, Judy Maxwell, YaYaK, zogakkyu, Chii, Ichi, rilojack, KazuhaRyu, Marshanti Lisbania Gratia, Noera Jani WijAya, qori, raditiya, Nanda Harvard, Cindy Oktaviani, Rei-reixki-ki, dan kamu yang udah baca tapi gak tinggalkan jejak komen.

Terimakasih udah baca dan ikuti terus Fic ini. Syukur klo ceritanya suka dan maaf klo masih jelek dan mengecewakan m(_ _)m Karena itu klo ada yang ingin disampaikan―kesan, pesan, pendapat, pertanyaan, concrit, etc― Yang berkenan silahkan tinggalkan saja jejak komen (^-^)v

Bagaimana hubungan SasuSaku setelah Sasuke tahu kenyataan sebenarnya? fufufufu~ penasaran? Tunggu chapter 7: Disclosed and Break Up in-progress, moga bisa selesai dalam waktu dekat ini―

See u –(^0^)/

20 Comments

Leave a Reply
  1. O o….. secepat itu ya teryata, aq ndak nyangka lho, tp setelah sasu tahu kuharap dia tidak memakai karin untuk memanas manasi sakura misalnya no way aq ndak mau(^-^) sok ngatur deh aq , pokoknya terserah author aja kan kamu kreatornya hahaha, oh ya boleh ndak aq minta sequel “cherry love me again” nya si sakura hamil tp yg teler itu si sasu hahaha(^-^) nggak tahu knpa pas lihat kakaku hamil yg ngidam itu malah kakak ipar, hahaha …. Awal2 sih ndak tahu kakak hamil tapi tiba2 aja kakak ipar wajap pucak mual2 tiap pagi hehehe bnr2 teler deh itu yg aq tahu, tp kata org2 tua itu tanda si suami begitu menyayangi si anak dan sang ibu tentunya hahaha, ndak tahu ya bnr ndak nya, sorry kepnjngan jadinya, pokok kiss sasusakunya di tunggu lho ya, untk chap ini kok pendek ya # lebih pnjng dong hehehe(^-^) super pnsrn nih~

    • Tenang saja, tak akan ada sasukarin ko ^-^ *ga rela buatnya* ehehehe~

      Wah~ idenya bagus juga tuh. Hmm, sekuel cherry mungkin nanti setelah MLG aga mau tamat. Coz pusing juga ya klo kerjain banyak sekaligus. Precious saja terlantar T.T
      Tapi klo sekedar draft sih dah saya buat. Rencananya Sakura emang mau dibuat hamil, haha~ #nah lho siapa yg buat? Tentu aja suaminya (sasuke)

      Makasih sarannya 🙂 makasih juga udah komen chap ini

  2. Simpen dulu ah~ buat dibaca nanti malem~

    tapi curi-curi baca adegan’ya g’ papa juga lah.,
    eh~ ngapain itu ada jepret jepret CUP~?
    terus kenapa itu endingnya gambar Sasu sebelum TBC kayak orang depresi?.,
    ^
    Simpanlah dulu rasa penasaran dirimu itu, Ria.,

    • Whahahaha~ baca aja lah ya supaya lebih jelas ^-^ belum ada adegan kissu.
      Hmm, itu pic menggambarkan sasuke depresi #halah
      Mungkin sebagian pic ada yg ga nyambung ma cerita, ehehe~ ^-^a tapi lumayan lah biar ada sedikit gambaran. Pengennya bikin fanart sendiri, tapi apa daya diriku tak mampu T.T

  3. nitip jempol dulu kak ~~~~~~~~~~~~~~~

    AAAAAAAAAAAAAAAAAA gue langsung ngejerit di rumah ngeliat chap 6 ,, pdhal lgi loyo loyonya ngerjain tugas di PC hahhahahaa…

    komennya nyusul duing duingggggggggggggggggggggg

  4. TIDAAAAAAAAAKKKKK!!!
    kenapa harus ketahuan…………
    sasu jangan marah sama sakura ya…(sasu…maafin saku ya…*korban iklan)
    kalau sudah begini…aku pasrah aja deh…nunggu keputusan sensei…yang (menurut tebakan aku) pasti happy ending
    ayo sensei…semangat…(^_^)/

    • hahaha~ ada ada aja nih jile, tapi pas juga tuh sasuke-sakura, mawar-marwan *namanya mirip-mirip*

      Maaf, sepertinya chap depan bakal rada hurt. Yupz, yang jelas nantinya jamin Happy End ko ^_^v

      • horee…happy ending……(memang begitulah seharusnya)
        jangan berakhir penyesalan seperti NaruHina yang waktu itu…(udah jangan di iget lagi)
        udah sensei…sampai sini aja curhatnya..hehe~
        chap berikutnya aku tunggu

  5. Salam kenal furaha, hehe boleh kupanggil gitu kan?” wah ini kisahnya nyesek untuk chap dpn# apakah sasusaku nanti putus weleh knp cuma sbntar manisnya, moga aja putusnya enggak lama nanti ya ~ ayo updet lagi chap dpn enggak lama hehehe^-^ segera updet aja ya byee~

    • Wah~ salam kenal juga anindi *boleh kupanggil begitu* hehe~

      Makasih ya udah baca fic ini. Iya, chap 7 bakal rada hurt. Mudah-mudahan bisa updet dalam waktu dekat ini^-^

  6. mian baru komen ihiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii~~~

    tuh kan sasu tau -___________– ahhhhhh ini grgr Karin …
    padahal ini couple lagi romantis romantisnya errrrrrrrrr

    jadi kepo chap 7 nya, sasu di sini marahnya kaya gimana ,,, apa marahnya sasu ke saku kaya di cherry love me again ,, kalo keinget marahnya sasu disitu sereeeem -_- dia mah marahnya maksa, terus ujungjungnya bikin saku ngebenci dia entahlah ~~~

    pokoknya penasaran ama chap 7 pengen tau reaksi sasu …

    keep writing !!! aku nunggu chap 7 ….

    • Haha~ ga apa apa ko. Ga ada kata telat buat komen. Lagian chapter barunya juga belum publish, hehe~

      Hmm, gimana marahnya sasu mungkin ga akan jauh berbeda dengan yang di love me again ^-^)a

  7. Hyahyahya knp karin selalu mengganggu m(-_-)m
    Errr padahal lagi romantic2nya itu huftt
    Moga2 sasuke marahnya gak kyk yg Di Cherry love me again yah 😀
    Next chap yah ^^ keep writing!”)9

  8. Ini udah kedua kalinya baca fic SasuSaku nya kak Furaha yang Money love gamble, tapi waktu itu aku hnya jadi ‘silent reader’ pas bulan mei juni 2013 gitu, brati bentar lagi dah setahun, hehe *lha?! kok malah curhat?*

    Tapi…. KESELNYA ‘MASIH’ BUKANAMEN SAMA KARIIIINN!!!!!
    “KARIN! JAUHI SASUSAKU KALAU TIDAK… KUROSU!!!”
    Buat, Sasu tetep percaya yah sama Saku ‘Love You Sasu’ *dishanaroo Saku’

  9. bagusssss walauupun ceritanya agak sedih waktu sakura bilang aku menerima sasuke karena uang dan taruhan.disitunya agak sedih dikit

4 Pings & Trackbacks

  1. Pingback:

  2. Pingback:

  3. Pingback:

  4. Pingback:

Leave a Reply