Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah prosedur belajar mengajar melalui kegiatan kelompok untuk mencapai tujuan program pembelajaran. Pembelajaran kooperatif mencakup suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama. Sehingga dalam pembelajaran kooperatif tiap-tiap siswa terlibat setiap saat dalam kelompoknya dan siswa dapat bekerjasama dengan kemampuan maksimal yang mereka miliki.

Lie (dalam Gintings, 2008:217) menyebutkan ada lima unsur yang menjadi ciri dari cooperative learning yang membedakannya dengan model belajar dan pembelajaran kelompok yang lain yaitu: (1) Saling kebergantungan positif; (2) Tanggung jawab perseorangan; (3) Tatap muka; (4) Komunikasi antar anggota; (5) Evaluasi proses kelompok.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika siswa bekerja dalam kelompok (Widdiharto, 2004:14) adalah sebagai berikut:

  1. Setiap anggota kelompok harus merasa bagian dari tim dalam pencapaian tujuan bersama.
  2. Setiap anggota dalam kelompok harus menyadari bahwa masalah yang mereka pecahkan adalah masalah kelompok, berhasil atau gagal akan dirasakan oleh semua anggota kelompok.
  3. Untuk pencapaian tujuan kelompok, semua siswa harus bicara atau diskusi satu sama lain.
  4. Harus jelas bahwa setiap kerja individu dalam kelompok mempunyai efek langsung terhadap keberhasilan kelompok.

Dengan demikian bukanlah cooperative environment meskipun beberapa siswa duduk bersama namun bekerja secara individu dalam menyelesaikan tugas, atau seorang anggota kelompok menyelesaikan sendiri tugas kelompoknya. Pembelajaran kooperatif lebih merupakan upaya pemberdayaan teman sejawat, meningkatkan interaksi antar siswa, serta hubungan saling menguntungkan antar mereka.

Terkait dengan model pembelajaran ini, Ismail (dalam Widdiharto, 2004:14) menyebutkan enam langkah dalam model pembelajaran kooperatif yakni:

Tabel. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif

 

Fase ke-

Indikator

Tingkah laku Guru

1.

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswaGuru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

2.

Menyajikan informasiGuru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.

3.

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajarGuru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.

4.

Membimbing kelompok bekerja dan belajarGuru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas.

5.

EvaluasiGuru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

6.

Memberikan penghargaanGuru mencari cara-cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar individu maupun kelompok.

Sisi lain yang menonjol dari pembelajaran kooperatif adalah pengelompokan siswa yang bersifat heterogen. Pengelompokan secara heterogen memiliki beberapa keuntungan (Winata, 2010), diantaranya:

  1. Kelompok heterogen memberikan kesempatan untuk saling mengajar dan saling mendukung antar anggota kelompok.
  2. Kelompok heterogen dapat meningkatkan relasi dan interaksi antar ras, etnik dan gender.
  3. Kelompok heterogen memudahkan pengelolaan kelas, karena dengan adanya satu orang yang berkemampuan akademis tingi, berarti guru mempunyai seorang asisten untuk setiap kelompok.

Pembelajaran kooperatif dapat menciptakan interaksi yang saling asah, asih, dan asuh sehingga terciptalah masyarakat belajar (learning community). Seperti yang diungkapkan Suparno (2000:131) bahwa, ”Pengalaman belajar secara kooperatif menghasilkan keyakinan yang lebih kuat bahwa seseorang merasa disukai dan diterima oleh siswa lain, serta menaruh perhatian bagaimana kawannya belajar dan ingin membantu kawannya belajar”. Siswa tidak hanya belajar dari buku, namun juga dari sesama teman. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang saling asuh untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan serta sebagai latihan hidup di masyarakat.

Setiap model pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan kelemahan, termasuk model pembelajaran kooperatif karena tidak ada yang paling tepat untuk dipakai pada semua karakteristik siswa, materi dan lain-lain. Kelebihan dan kelemahan pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:

  1. Kelebihan
    1. Tidak terlalu menggantungkan pada guru atau dosen, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
    2. Dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
    3. Dapat membantu anak untuk hormat pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
    4. Membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
    5. Dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
    6. Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir. Hal ini berguna untuk proses pendidikan jangka panjang.

2. Kelemahan

  1. Penilaian yang diberikan didasarkan kepada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari, bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap individu siswa.
  2. Keberhasilan model pembelajaran kooperatif dalam upaya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang.
  3. Walaupun kemampuan bekerjasama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan secara individual.
  4. Oleh karena itu idealnya melalui model pembelajaran kooperatif selain siswa belajar bekerja sama, siswa juga harus belajar bagaimana membangun kepercayaan diri.


Leave a Reply