Kemampuan Berpikir Kritis Dan Kreatif Matematika

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (1991:767) berpikir adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan, memutuskan sesuatu. Menurut Liputo (Aisyah, 2008:17) berpikir merupakan aktifitas mental yang disadari dan diarahkan untuk maksud tertentu. Sedangkan Beyer (1987:16) menyatakan, “Thinking, in short, is the mental process by wich individuals make sense out of experience”. Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, maka maksud yang mungkin dicapai dari berpikir adalah memahami, mengambil keputusan, merencanakan, memecahkan masalah, dan menilai tindakan.

Tahapan-tahapan dalam berpikir menurut Fankel (dalam Rohmayasari, 2010:16) terdiri atas:
(1) Tahap berpikir kovergen;
(2) Tahap berpikir divergen;
(3) Tahap berpikir kritis;
(4) Tahap berpikir kreatif.

Berpikir kritis dan berpikir kreatif merupakan perwujudan dari berpikir tingkat tinggi (higher order thinking). Dalam bidang pendidikan (Aisyah, 2008:21), berpikir kritis didefinisikan sebagai pembentukan kemampuan aspek logika seperti kemampuan memberikan argumentasi, silogisme dan pernyataan yang proposional. Menurut Beyer (1987:33), “Berpikir kritis adalah kumpulan operasi-operasi spesifik yang mungkin dapat digunakan satu persatu atau dalam banyak kombinasi atau urutan dan setiap operasi berpikir kritis tesebut memuat analisis dan evaluasi”.

Sedangkan Ennis (dalam Williawati, 2009:11) mengemukakan, “Definisi berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan”. Oleh karena itu, indikator kemampuan berpikir kritis dapat diturunkan dari aktivitas kritis siswa sebagai berikut:

(1) Mencari pernyataan yang jelas dari setiap pertanyaan;
(2) Mencari alasan;
(3) Berusaha mengetahui informasi dengan baik;
(4) Memakai sumber yang memiliki kredibilitas dan menyebutkannya;
(5) Memperhatikan situasi dan kondisi secara keseluruhan;
(6) Berusaha tetap relevan dengan ide utama;
(7) Mengingat kepentingan yang asli dan mendasar;
(8) Mencari alternatif;
(9) Bersikap dan berpikir terbuka;
(10) Mengambil posisi ketika ada bukti yang cukup untuk melakukan sesuatu;
(11) Mencari penjelasan sebanyak mungkin apabila memungkinkan;
(12) Bersikap secara sistimatis dan teratur dengan bagian-bagian dari keseluruhan masalah.

Radiansyah (2010) mengungkapkan beberapa kemampuan yang dikaitkan dengan konsep berpikir kritis, yaitu: “Kemampuan-kemampuan untuk memahami masalah, menyeleksi informasi yang penting untuk menyelesaikan masalah, memahami asumsi-asumsi, merumuskan dan menyeleksi hipotesis yang relevan, serta menarik kesimpulan yang valid dan menentukan kevalidan dari kesimpulan-kesimpulan”.

Selanjutnya Fisher (dalam Agustine, 2009:16) menekankan indikator keterampilan berpikir kritis yang penting, meliputi:

(1)  Menyatakan kebenaran pertanyaan atau pernyataan
(2) Menganalisis pertanyaan atau pernyataan;
(3) Berpikir logis;
(4) Mengurutkan, misalnya secara temporal, secara logis, secara sebab akibat;
(5) Mengklasifikasi, misalnya gagasan objek-objek;
(6) Memutuskan, misalnya apakah cukup bukti;
(7) Memprediksi (termasuk membenarkan prediksi);
(8) Berteori;
(9) Memahami orang lain dan dirinya.

Berdasarkan uraian yang dikemukakan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis adalah suatu proses penggunaan kemampuan berpikir secara efektif yang dapat membantu seseorang untuk membuat, mengevaluasi, serta mengambil keputusan tentang apa yang diyakini atau dilakukan. Kemampuan berpikir kritis matematika yang digunakan dalam penelitian ini mencakup:

  • Kemampuan mengidentifikasi asumsi yang diberikan;
  • Kemampuan merumuskan pokok-pokok permasalahan;
  • Kemampuan menentukan akibat dari suatu ketentuan yang diambil;
  • Kemampuan mengungkap data/definisi/teorema dalam menyelesaikan masalah;

    Berpikir kreatif dapat diartikan sebagai suatu kegiatan mental yang digunakan seorang untuk membangun ide atau gagasan yang baru. Rosi dan Malcow (dalam Rohmayasari, 2010:17) menyatakan, “Berpikir kreatif adalah berpikir untuk menghasilkan gagasan dan produk baru, melihat suatu pola atau hubungan baru antara suatu hal dan hal lainnya yang semula tidak tampak. Yaitu menemukan cara-cara baru untuk menemukan gagasan baru dan lebih baik”.

    Indikator dari berpikir kreatif matematika adalah kritis, logis, analitis, detail, sistematik, fleksibel, orisinil, elaborasi, terbuka-divergen.Tahapan proses berpikir kreatif mengalir melalui lima tahap:
    (1) tahap persiapan (mendefinisikan masalah, tujuan atau tantangan);
    (2) tahap inkubasi (mencerna fakta-fakta dan mengolahnya dalam pikiran);
    (3) tahap iluminasi (tingkat inspirasi dikelola dan dikembangkan sehingga menjadi suatu hasil);
    (4) tahap verifikasi (perbaikan dan penyempurnaan);
    (5) tahap aplikasi (mengambil langkah-langkah untuk menindaklanjuti solusi tersebut).

    Menurut Supriadi (dalam Pratini, 2010:22), ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif dapat dibedakan kedalam ciri kognitif dan non-kognitif.
    Ciri kognitif meliputi: fluency (kelancaran), flexibility (keluwesan), originality (keaslian), elaboration (penguraian).
    Sedangkan ciri-ciri non kognitif meliputi: motivasi, sikap dan kepribadian. Keduanya sangatlah penting dan saling menunjang.

    Keterampilan berpikir kreatif ditandai dengan keterampilan berpikir lancar, luwes, orisinal, elaboratif dan evaluatif. Munandar (dalam Rohmayasari, 2010:18) mendeskripsikan tentang unsur-unsur berpikir kreatif tersebut seperti yang disajikan pada tabel berikut ini:

    Tabel 2.2

    Unsur-Unsur Berpikir Kreatif

     

    Pengertian

    Perilaku Siswa

    Berpikir Lancar

    • Mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian atau jawaban.
    • Selalu memikirkan lebih dari satu jawaban.
    • Mengajukan banyak pertanyaan.
    • Menjawab dengan sejumlah jawaban jika ada pertanyaan.
    • Mempunyai banyak gagasan mengenai suatu masalah.
    • Lancar dalam menggunakan gagasan-gagasannya.
    • Bekerja lebih cepat dan melakukan lebih banyak daripada siswa lain.
    • Dengan cepat melihat kesalahan dan kelemahan dari suatu objek atau situasi.
    Berpikir Luwes

    • Menghasilkan gagasan, jawaban atau pertanyaan yang bervariasi.
    • Dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
    • Mencari banyak alternatif atau arah yang berbeda-beda.
    • Mampu mengubah cara pendekatan atau pemikiran.
    • Memberikan aneka ragam penggunaan yang tak lazim terhadap suatu objek.
    • Memberikan macam-macam penafsiran terhadap suatu gambar, cerita atau masalah.
    • Menerapkan suatu konsep atau asas dengan cara yang berbeda-beda.
    • Memberikan pertimbangan atau mendiskusikan sesuatu selalu memiliki posisi yang berbeda atau bertentangan dengan mayoritas kelompok.
    • Jika diberi suatu masalah biasanya memikirkan macam-macam cara yang berbeda-beda untuk menyelesaikannya.
    • Menggolongkan hal-hal yang menurut pembagian atau kategori yang berbeda-beda.
    • Mampu mengubah arah berpikir secara spontan.
    Berpikir Orisinal

    • Mampu melahirkan ungkapan yang baru dan unik.
    • Memikirkan cara-cara yang tak lazim untuk mengungkapkan diri.
    • Mampu membuat kombinasi-kombinasi yang tak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
    • Memikirkan masalah-masalah atau hal yang tak pernah terpikirkan orang lain.
    • Mempertanyakan cara-cara lama dan berusaha memikirkan cara-cara baru.
    • Memilih a-simetri dalam membuat gambar atau desain.
    • Mencari pendekatan baru dari stereotype.
    • Setelah mendengar atau membaca gagasan, bekerja untuk mendapatkan penyelesaian yang baru.
    Berpikir Elaboratif

    • Mampu berkarya dan mengembangkan suatu produk atau gagasan.
    • Menambahkan atau memperinci detail-detail dari suatu objek, gagasan atau situasi sehingga menjadi lebih menarik.
    • Mencari arti yang lebih mendalam terhadap jawaban atau pemecahan masalah dengan melakukan langkah-langkah yang terperinci.
    • Mengembangkan/memperkaya gagasan orang lain.
    • Mencoba untuk menguji detail-detail untuk melihat arah yang akan ditempuh.
    • Mempunyai rasa keadilan yang kuat sehingga tidak puas dengan penampilan yang kosong/sederhana.
    • Menambah garis-garis/warna dan detail-detail/bagian-bagian terhadap gambar sendiri atau gambar orang lain.
    Berpikir Evaluatif

    • Menentukan patokan penilaian sendiri dan menentukan apakah suatu pernyataan benar, suatu rencana sehat atau suatu tindakan bijaksana.
    • Mampu mengambil keputusan terhadap situasi yang terbuka.
    • Tidak hanya mencetuskan gagasan tetapi melaksanakannya
    • Memberi pertimbangan atas dasar sudut pandang sendiri.
    • Mencetuskan pendapatnya sendiri mengenai suatu hal.
    • Menganalisis masalah/penyelesaian secara kritis dengan selalu menanyakan “mengapa?”
    • Mempunyai alasan (rasional) yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mencapai suatu keputusan.
    • Merancang suatu rencana kerja dan gagasan-gagasan yang tercetus.
    • Pada waktu tertentu tidak menghasilkan gagasan-gagasan tetapi menjadi peneliti/penilai yang kritis.
    • Menentukan pendapat dan bertahan terhadapnya.

    NOTE:
    Tulisan diatas diambil dari skripsi saya:
    Prahati Pramudha Wardhani. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Matematika Siswa. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Pasundan. 2011.

    Referensi:
                  . (1991). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka

    Agustine, T. (2009). Pengaruh Penggunaan Strategi Heuristik terhadap Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematika Siswa. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika FKIP UNPAS: tidak diterbitkan

    Aisyah, T.S. (2008). Penerapan Strategi Konflik Kognitif dalam Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika FKIP UNPAS: tidak diterbitkan

    Beyer, B.K. (1987). Practical Strategies for the Teaching of Thinking. Boston: Allyn and Bacon Inc.

    Pratini, T. (2010). Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Quantum dengan Tahapan Belajar TANDUR terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematika Siswa Kelas XI MA Al-Inayah Kota Bandung. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika FKIP UNPAS: tidak diterbitkan

    Radiansyah, I. (2010). Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis.http://lkpk.org/2010/12/01/mengembangkan-kemampuan-berpikir-kritis/
    Diakses 5 mei 2011

    Rohmayasari, N. (2010). Pengaruh Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kontekstual (CTL) terhadap peningkatan Kemampuan Berpikir Analitis dan Kreatif Siswa SMA di Jawa Barat. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika FKIP UNPAS: tidak diterbitkan

    Williawati, L. (2009). Pengaruh Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Diskursus terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa dalam Matematika. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika FKIP UNPAS: tidak diterbitkan

Leave a Reply