SAKUSASU Fic: HOLD MY HAND ~ Chapter 1

Fic ini terinspirasi dari komik one shot SAKURA in SPRING karya Matsuri Hino. Ceritanya aga-aga mirip, tapi dijamin berbeda. Silahkan BACA dan buktikan!

Summary:
Karena tuntutan keluarganya, Sakura Haruno dipaksa menikah dan melepaskan impiannya menjadi seorang dokter. Namun pertemuan dengan Sasuke Uchiha membuatnya kembali bertekad mengejar cita-citanya. Tanpa disadari kebersamaan mereka membuatnya jatuh cinta pada cowok itu. Siapa sangka kalau ternyata calon tunangan Sakura juga seorang Uchiha. Tapi bukan Sasuke, melainkan sang kakak, Itachi Uchiha. Bagaimanakah hubungan Sakura dan Sasuke? Sementara Sasuke adalah brother complex yang sangat menyayangi kakaknya.

Chapter: 1/6
Pairing: Sakura Haruno x Sasuke Uchiha
Rate: T
Genre: Romance, Friendship, Hurt/Comfort
Disclaimer: NARUTO resmi adalah milik MASASHI KISHIMOTO
Length: 1.974 word

WARNING: OOC, alur GaJe cerita se-mau-gue. Author masih pemula dalam membuat FanFic, jadi mohon maaf klo jelek dan mengecewakan. Buat yang sengaja dan ga sengaja kebetulan baca fanfic Abal-Abal ini, komen sangat diharapkan.

If you don’t LIKE, don’t READ!!!

Itadakimasu~

*
*
*

Di tengah hiruk pikuk ramainya suasana dalam bis di pagi hari, mataku terpaku memperhatikan seseorang. Seorang cowok yang berdiri bersandar di dekat pintu. Aku memperhatikannya bukan karena dia tampan. Ehm, yah, sejujurnya dia memang tampan sih. Wajahnya sangat rupawan. Dengan mata onyx hitam yang mempesona. Juga tatanan rambut raven kebiruan dengan poni acak dan gaya mencuat kebelakang seperti pantat ayam. Entah itu disebut potongan rambut emo atau apa. Dia mungkin hanya pelajar SMA biasa, dengan kemeja putih bersih, dasi yang diikat tak rapih, juga blazer yang dipakai sekenanya. Meski tampak sedikit berantakan, tapi itu terlihat keren. Badge berbentuk awan merah yang tersemat di atas saku blazernya menunjukkan kalau dia siswa Akatsuki Gakuen. Sekolah elit khusus putra. Pasti dia berasal dari keluarga terpandang. Anak orang kaya. Tapi kenapa naik bis?

Bukan itu yang sedang kupikirkan. Yang membuatku tertarik padanya adalah buku yang tengah serius dia baca. ‘Persiapan Kuliah di Luar Negeri’ kira-kira itulah judulnya. Aku tak begitu yakin karena ditulis dalam bahasa Inggris dan hanya melihat sampulnya sepintas. Isi bacaannya pasti sulit. Namun yang bisa kupahami saat melihat orang itu adalah…

“Dia pasti punya impian besar…” gumamku pelan.

“Hah? kamu bilang apa Sakura?” tanya Inoue, membuyarkan lamunanku.

Aku mendongak sebentar, memandang sahabat baikku itu sebelum kembali menghela nafas panjang dan membenamkan kepalaku dalam lipatan tangan di atas meja.

“Hei, kenapa sih? Tampak frustasi begitu.” Inoue mendekat, menyibakkan rambut soft pink-ku yang menutupi wajah. Mata biru sapphire-nya tiba-tiba membulat, pasti terkejut melihat sembab di mataku. “Heh, Apa terjadi sesuatu? Ada masalah apa?”

Aku lekas bangkit. Menggeleng pelan. Menutup bibirku rapat, menggigitnya agar tak berucap. Tapi makin ku tahan, iris mataku makin tak kuat. Melihat Inoue yang memandang penuh rasa cemas, linangan air mata itu tak terbendung. Aku menerjang memeluk gadis berambut pirang ekor kuda itu erat-erat. Menumpahkan kesedihanku di atas bahunya. Dia tak keberatan dengan tindakanku yang tiba-tiba membasahi kemeja seragamnya. Justru pelan-pelan diusapnya rambutku dengan lembut.

“Sakura, tenang dulu. Ceritakan pelan-pelan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Ino~ hik… aku… aku…” Ucapku disela isak tangis, “Hik, aku harus melepaskan impianku untuk menikah….”

“Heee??”

Aku… Sakura Haruno. Putri pertama keluarga Haruno yang selama lebih dari separuh hidupnya ditanamkan dalam diri untuk menjadi penerus keluarga. Mengelola klinik Haruno. Karena itulah menjadi seorang dokter adalah cita-citaku. Tak ada yang lain. Bukan karena ambisiku yang ingin mengambil alih bisnis keluarga, tapi karena itu impianku. Namun semuanya kini harus berakhir.

“Sakura, hentikan keegoisanmu!” bentak Ibuku malam itu, “Kau tak perlu lagi berpikir untuk menjadi dokter. Mulailah berlatih untuk jadi istri.”

“Seenaknya saja kalian memutuskan. Bukannya dulu sebelum Sasori lahir, semua menginginkan aku jadi dokter? Kenapa sekarang malah melarangku? Lagipula menikah itu bagiku terlalu cepat. Tak pernah terbayangkan, bahkan setelah lulus SMA nanti, aku tak habis pikir kalian menyuruhku cepat menikah. Kalau seperti ini siapa sebenarnya yang egois?”

“Sakura, kau tahu kan ini sudah jadi keputusan kakek. Klinik hanya akan diwariskan kepada anak laki-laki saja. Maka dari itulah, kini tanggung jawab itu diserahkan pada Sasori.”

Mataku membulat saat mendengarnya. Sasori Haruno. Dia adik laki-lakiku. Umurnya baru lima tahun. Adik yang lucu, berwajah imut dengan rambut kemerahan dan mata yang bulat. Ekpresinya menggemaskan setiap kali memanggilku, “Onee-chan”, membuatku selalu ingin mencubit pipinya yang merona merah dan memeluknya erat penuh kasih sayang.

“Konyol. Memangnya yang kuinginkan itu klinik? Aku hanya ingin mengejar impianku.”

“Lupakan Sakura. Kau menurut saja. Ini sudah diputuskan.”

“Aku akan tetap pada impianku.” Jawabku sembari melengos pergi, mengakhiri pembicaraan menyebalkan itu.

Hari-hari berlanjut dengan pertengkaran yang sama. Mereka terus memaksakan kehendaknya. Terkadang membuatku tertekan. Dan aku mulai merasa galau. Sampai pada suatu waktu aku tertegun melihat seseorang yang tampak serius membaca sebuah buku di dalam bis. Sosoknya saat itu benar-benar menampilkan kesungguhan. Ada sesuatu yang bergejolak dalam diriku. Kagum bercampur iri. Yang membuatku tersadar kalau selama ini aku hanya bisa mengeluh dan marah-marah tak jelas. Hanya banyak bicara, tak ada usaha untuk meraih hal yang kuinginkan.

Saat bis mulai berjalan lambat memasuki halte tujuannya, cowok itu segera beralih dari aktifitas membacanya. Dia lekas menutup buku dan sebentar meregangkan badan. Pintu bis terbuka, kaki panjangnya melenggang berjalan keluar dari bis bersama beberapa penumpang lainnya yang hendak turun. Aku masih memperhatikan sosok itu.

Deg!

Tak sengaja mata kami bertemu. Sesaat aku membatu dipandangi oleh onyx hitamnya. Hanya beberapa detik sampai pintu bis perlahan kembali tertutup.

Dia curiga tidak yah, daritadi aku memperhatikannya? Tapi tak ada alasan untuk dia marah atau protes kan? Toh ini tempat umum dimana kau bebas melihat apa yang bisa kau lihat. Kalau dia sedikit narsis, pasti sadar kalau dirinya mempesona dan cukup menarik perhatian orang. Terutama bagi para cewek.

Masih kupandangi sosok itu hingga menghilang di ujung jalan. Tekad dalam diriku muncul. “Aku juga punya impian besar.”

*
*
*

Tak seharusnya kemarin-kemarin kuhabiskan waktu dalam kebimbangan tak berarti. Mulai saat ini akan kutunjukkan keseriusanku dalam mengejar impianku. Aku tak peduli meski ditentang. Ini kulakukan untuk diriku sendiri. Karena rasanya aku akan menyesal kalau aku hanya berdiam diri dan menerima keegoisan mereka tanpa berbuat apa-apa.

Belajar. Itulah tahap awal yang harus kulakukan. Aku mulai mengikuti kelas persiapan ujian masuk universitas. Mencari informasi fakultas kedokteran. Lebih sering berkunjung dan berinteraksi dengan orang-orang di klinik. Apapun kulakukan untuk meraih impianku itu. Aku ingin jadi dokter.

Dengan langkah ringan ku masuki sebuah toko buku. Berjalan menuju rak yang sebelumnya telah ku incar. Aku mengernyit heran saat buku yang ku cari tak ada. Sekali lagi ku telusuri satu per satu judul buku yang ada, siapa tahu terselip di rak lainnya. Tapi hasilnya nihil. Kenapa tak ada?

Sambil mendengus kesal aku berjalan menuju meja kasir, “Pak, buku Instruksi Kedokteran yang dua hari lalu masih dipajang disana kok gak ada?” tanyaku to the point.

“Oh, yang itu kemarin sudah terjual. Dan kami tak ada keinginan untuk menyetok ulang.” Jawab bapak-bapak separuh baya. Sambil membenarkan letak kacamatanya yang melorot, dia memandangku dari atas ke bawah. “Memangnya buku sulit seperti itu bisa dimengerti oleh orang seperti nona?”

Haah?!… aku tercengang mendengar ucapannya. Aku benar-benar dipandang remeh?!

“Heh, Pak, meski aku perempuan, aku ini mau jadi dokter. Kalau bapak…”

“Kalau bapak mendiskriminasikan pria-wanita dan tebal-tipisnya dompet. Suatu saat toko ini bakal bangkrut lho pak.” Jawab seseorang yang langsung menyela pembicaraanku.

Aku menoleh memandang ke arahnya. Dan terkejut mendapati wajah rupawan mempesona yang sama seperti yang kulihat tempo hari di dalam bis. Mata onyx hitam dan rambut biru raven orang itu, aku yakin kalau itu memang dia.

“Sudah ada orang yang pasti bakal beli, bapak kan tinggal jual, apa susahnya sih Pak? Lagipula apa peduli bapak, dia mau mengerti isi bukunya atau tidak, memang dia minta bapak ajari?” lanjut cowok itu lagi.

“Huh, iya iya, aku akan menyetoknya nanti.” dengus bapak itu, “Kata-katamu sinis seperti biasa.”

Senyumku merekah mendengar keputusannya, “Terima kasih.”

“Nah, coba tulis disini data buku yang kau pesan juga alamatmu.”

Setelah menuliskan pesananku, aku buru-buru keluar dari toko. Celingukan mencari sosok lelaki itu yang sudah pergi lebih dulu. Gaya rambut pantat ayam khasnya memudahkanku menemukannya di tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang. Aku berlari-lari kecil menghampiri.

“Hei, tunggu sebentar!” panggilku setengah berteriak.

Dia menoleh dan menghentikan langkahnya, menungguku datang mendekatinya dengan nafas yang terengah-engah. Dahinya sedikit berkerut memandangku dengan tatapan heran.

“Eu, yang tadi itu… terima kasih banyak.” Ucapku sembari kembali mengatur nafas.

“Hn.”

“Aku juga berpendapat sama. Dadaku jadi lega setelah kamu bilang tadi. Tak seharusnya pedagang itu mendiskriminasikan pembeli.”

“Hn, lain kali ucapkan sendiri dengan tegas. Orang tak akan tahu kalau kamu hanya diam.” Kata cowok itu seraya melenggangkan kakinya pergi.

“Aku akan berjuang.” kataku sambil mengangguk mantap dan berjalan dibelakang menuju arah yang sama dengannya.

Kami sampai di halte bis. Dia lekas duduk di sebuah bangku kosong. Matanya menatap tajam saat aku juga ikut duduk di sebelahnya.

“Aku juga mau pulang. Bukan berarti aku ini mengikutimu.” Ucapku padanya secara langsung, padahal dia sama sekali tak bertanya.

Cowok itu terkekeh, “Ternyata kamu cepat belajar ya, sekarang udah bisa ngomong dengan tegas.”

Melihat ekspresi orang itu yang mencair, wajahku terasa panas. Pasti merona merah. Tak kusangka dia akan menanggapi ucapanku. Aku merasa sedikit malu. Di sebelahku, cowok itu membuka sebuah buku dan memulai aktifitas membacanya. Dalam keheningan diantara kami, diam-diam aku mencuri pandang. Aku memperhatikan sosok yang selalu saja terlihat penuh kesungguhan di mataku itu.

“Kamu tertarik belajar di luar negeri?” tanyaku mulai membuka pembicaraan, “Buku yang kamu baca semuanya bahasa asing.”

“Hn.”

“Setiap kali aku melihatmu pasti sedang baca buku. Rajin sekali. Ku pikir kamu pasti punya mimpi yang ingin kamu raih. Aku juga. Dulu sempat merasa putus asa. Tapi sejak melihatmu yang tampak sungguh-sungguh, semangatku kembali bangkit.”

“Hn. Aku sungguh-sungguh? tidak seperti itu kok.” Jawab cowok itu seraya menutup buku yang tadi dibacanya. Matanya kini menerawang jauh menatap sebuah pesawat yang tampak melintas diatas sana. Menorehkan jejak kepulan asap putih pada langit biru yang cerah. “Pendapatmu tentang aku terdengar menggelikan. Apa kamu tahu, katanya dengan mengikuti jalan seseorang, mungkin kita tak akan tersesat. Tapi bila kita melalui jalan itu, kita hanya akan memandangi punggung orang didepan kita.”

Sejenak aku berpikir, mencerna maksud perkataannya. “Hmm, memang seperti itu kan? Tapi aku gak terlalu ngerti.”

Cowok itu masih memandang ke arah langit, menatap dengan wajah yang kini berubah serius. “Aku sangat mengagumi kakakku. Selama ini didepanku selalu ada kakak. Dia panutanku. Aku benar-benar ingin seperti dirinya. Karenanya mungkin aku ini justru orang yang tak punya impian sendiri. Padahal kalau kakak mewarisi perusahaan, aku sudah putuskan untuk membantunya. Tapi kakakku bilang untuk menemukan jalan milikku, aku harus melangkahkan kakiku sendiri. Mencari hal-hal baru. Mengetahui luasnya dunia, lebih dari apa yang kau lihat, kau dengar dan kau rasa. Pergi ke tempat yang jauh.”

“Begitu, ya…” Aku tertegun mendengar perkataannya. “Ternyata aku benar kan? Kamu memang orang yang punya impian besar.”

“Hh.” Cowok itu menoleh padaku. Dari tatapan matanya terlihat kalau dia butuh penjelasan.

“Jalan didepanmu sekarang memang ada orang lain, tapi tujuanmu bukan dia kan? Keinginan yang berasal dari dirimu sendiri itulah impianmu. Kesungguhan hati, tanpa paksaan. Aku melihat hal itu dalam dirimu. Tapi kalau kamu berpikir untuk membantu kakakmu, kamu jadi tak bisa meraih mimpimu sendiri. Memangnya kakakmu itu begitu tak bisa diandalkan hingga harus dibantu olehmu?”

Cowok itu memicingkan matanya, “Kamu ini blak-blak-an juga ya.”

“Aa, Maaf, gak sengaja…” Aku menutup mulutku dengan sebelah tangan, terkekeh dibaliknya.

“Hah, sudahlah….” Sejenak dia menghela nafas panjang, “Aku juga, kenapa jadi membicarakan hal seperti ini dengan orang asing.”

Sambil tersenyum aku menggeleng pelan, “Gak apa-apa kok…”

Dari kejauhan tampak bis yang ku nanti datang mendekat. “Aku pulang dulu. Sampai Jumpa. Jaa nee~…” pamitku seraya bangkit dari duduk.

Bis itu sudah berhenti di depanku, tapi aku masih terlalu berat untuk melangkah masuk. Aku merasa kalau aku pergi sekarang, aku akan menyesal. Maka aku pun kembali berbalik dan cepat mengulurkan tanganku pada cowok itu. “Hei, aku tak mau jadi orang asing bagimu. Namaku Sakura. Sakura Haruno. Perkenalkan.”

Dia sedikit terperangah dengan tindakanku yang tiba-tiba. Aku menunggu responnya, tapi cowok itu hanya menatap dan tetap mengacuhkan uluran tanganku. Membuatku tampak bodoh. “Ah, hahaha~… Tidak mau yah?” aku tertawa hambar, menarik kembali tanganku dan menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal.

Supir bis sudah mengklakson dua kali, tanda kalau bisnya akan segera berangkat. Aku mulai melangkah pergi. Harus cepat-cepat naik kalau tak mau tertinggal. Ini sedikit mengecewakan. Tapi kalau takdir, suatu saat pasti akan ada kesempatan lain. Saat aku bisa lebih mengenal dirinya. Pikirku optimis.

“Sakura…”

Langkahku terhenti sesaat setelah masuk kedalam bis. Mendengar namaku disebut, aku kembali menoleh dan melihat cowok itu sudah berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Menatapku sedikit lembut dengan senyuman samar terlukis di wajahnya. Dalam diam, aku menanti apa yang akan dilakukannya.

“Namaku Sasuke…” ucapnya pelan.

SREG… pintu langsung tertutup dan bis mulai bergerak maju.

Jantungku berdegup kencang. Terkejut dengan kejadian barusan. Tapi mata hijau Emerald-ku masih menatap keluar jendela. Bibir cowok itu kembali berucap mengulangi menyebutkan namanya.

“Sa… Su… Ke… Uc..”

Sasuke…?

Aku tak bisa dengan jelas membaca semua gerak bibirnya. Tapi ada satu kata yang ku ingat dan ku simpan dalam hatiku.

Sasuke.

*
*
*

TBC ………… next to chapter 2

Bachot Session From Author:

Akhirnya Fic ini bisa saya post 😀 senang sekaliii~~

Awalnya mau dibikin one-shot sesuai komik SAKURA SPRING, tapi jadinya malah panjang 😛 . Dan jadi muncul setting diluar rencana sebelumnya.

Gimana? Yang udah pernah baca SAKURA SPRING, ceritanya beda kan? Setting ma alurnya aja beda. Gue cuma ambil ide cerita tentang cewek yang harus melepas impiannya karena perjodohan yang diatur keluarga. Tapi dia terlanjur jatuh cinta ma seseorang. Dan ternyata orang itu adalah adik dari tunangannya.

Walo disini Sasuke belum menunjukan diri sebagai Uchiha ^-^

Bagaimana kisah selanjutnya?? Silahkan baca chapter berikutnya.

Comment pliss..

10 Comments

Leave a Reply
  1. Hmmm~ complicated nih ! *ngibrit ke part 2*

    mohon maaf aku mau tanya sakura spring itu novel atau fanfict ,, misalnya fanfict aku mau juga baca dong hihihihi penasaran !

  2. wah wah ada yang baru ne #maksudnya baru liat… hehe
    oke waktunya baca serbu #sambil bawa kacamata
    oke saatnya mulai…… #lari keliling lapangan

  3. ahhhhh bagus bgttt ceritanya ngegantungg huhhh suka bgtt cerita kak fura hampir semuanya udh aku baca hehe kak lanjutin lagi yah hihi

One Ping

  1. Pingback:

Leave a Reply