Senpai~ Suki Deshita! : Chapter 2

Cerita sebelumnya… Baca : [Chap 1]

 

Sakura masuk ke Konoha Academy dengan tujuan untuk mengejar cintanya terhadap Gaara, tapi disana dia malah harus selalu berurusan dengan Sasuke, senior yang paling suka mengusiknya. Diakhir Masa Orientasinya, Sakura memutuskan untuk tidak meminta tandatangan Sasuke.

“Persetan dengan tandatanganmu.” dengusku kesal seraya melangkahkan kaki keluar dari antrian dan pergi menjauh. “Aku tak butuh.”

Sakura belum menyadari justru karena keputusannya itulah kelak dirinya akan semakin terlibat masalah dengan Sasuke.

@@@

Senpai~ Suki Deshita!

Chapter: 2/?

Pair: Sasuke Uchiha x Sakura Haruno x Sabaku Gaara

Rate: T

Genre: Romance, Friendship, Hurt/Comfort

Disclaimer: NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

Length: 2.661 words

WARNING: OOC, typo, alur GaJe cerita se-mau-gue. Maap kalo ceritanya jelek dan mengecewakan. Buat yang sengaja dan ga sengaja kebetulan nemu n baca Fic Abal-Abal ini, setidaknya setelah kalian membaca tolong beri komen ya (sangat diharapkan).

Story by

Me!! [FuRaha]

 

If you don’t LIKE? WHATEVER!!!

 ~Itadakimasu~

*

*

*


Siang ini aku merasa lelah. Bukan karena seharian kesana-kemari, berkeliling komplek Academy mencari seseorang, tapi lebih pada hatiku. Menyebalkan. Rasanya seperti disuruh menjilat kembali ludah sendiri. Tempo hari aku tak menganggap tandatangan Sasuke begitu penting, hingga aku tak bersusah payah untuk mendapatkannya.  Lalu saat hari pembagian kartu pelajar dilakukan, para senior itu berkomplot. Katanya aturan tetap aturan. Dan tentu saja tak kudapatkan hakku bila tak ku penuhi dulu kewajibanku.

“Makanya kubilang juga apa, bukannya dari waktu itu sih. Jadinya sekarang susah, kan? Sana cari sendiri. Usaha Sak, usaha…. kau jangan cuma mau enaknya saja. Hihihi… Ayo cari! Syukur-syukur kalau ketemu itu juga, karena katanya kak Sasuke itu suka keluyuran.”

Sialan. Bahkan Ino pun ikut meledek. Mungkin ini yang namanya karma. Aku dihukum atas ketidaksopananku. Mengumpat dibelakang, memaki senior, membangkang, mengabaikan perintah, bersikap acuh tak acuh. Dan kurasa Ino benar, bahwa aku memang kurang berusaha.

Padahal aku ingin secepatnya memperlihatkan kartu pelajar itu pada Gaara…

“Senpai, lihat nih, aku juga siswa Konoha.” kataku penuh kebanggaan.

“Wah, bagus sekali Sakura~” balas Gaara seraya mengelus-elus rambutku dengan lembut.

“Fufufu~ aku senang sekali Gaara-senpai. Kalau begini, aku sudah boleh jadi pacarmu, kan?”

“Tentu saja, Sakura.”

“Wah, kak Gaara~…” aku berhambur kedalam pelukannya.

“Huff,…” Aku menghela nafas kecewa, karena adegan itu masih hanya dalam khayalanku saja. “Tak ada pilihan lain. Sekarang aku harus segera mencari Kak Sasuke.” dengusku pasrah. Kembali menyusuri sudut-sudut komplek sekolah.

.

.

.

Langkahku terhenti di ujung lorong. Pandanganku menerawang jauh keluar jendela. Tepat dibawah pohon halaman belakang gedung olahraga, kulihat seorang cowok berjaket biru berdiri membelakangi. Kukenali bordiran lambang kipas merah-putih dipunggungnya.

“Tidak salah lagi. Itu jaket yang biasa dipakai Sasuke.” Buru-buru aku berlari menuruni tangga menuju gedung olahraga. Jangan sampai cowok itu pergi sebelum kudapatkan tandatangannya.

“Hei, Kak… Kak Sasuke… Tunggu!” panggilku dengan nafas terengah-engah.

Yang dipanggil sedikit menolehkan kepalanya kearahku. Memandang sinis, tapi tetap tak menghentikan langkahnya dan terus saja berjalan mengacuhkanku.

Ih, aku benci sekali dengan sikap cueknya itu. Langsung saja ku percepat langkahku dan lekas menghadangnya.

“Heh, Kak, gak dengar ya dari tadi aku bilang tunggu? Bentar dong.”

“Apa Jidat?!” desisnya, tampak kesal.

“Aku hanya mau minta tandatanganmu…” jawabku to the point.

“Tandatangan?” dia mengernyit, “Aku?”

“Iya…” kusodorkan buku catatanku padanya, “Ini, Kak, tolong tandatangan disini. Aku tak bisa mengambil kartu pelajarku kalau tandatangannya belum lengkap.”

Sasuke berdecih, “Udah telat, baka! Kau tahu aturannya harus mengumpulkan tandatangan tapi kenapa baru datang sekarang? Kemarin-kemarin kemana saja heh? Baru sadar betapa pentingnya tandatanganku. Makanya kalau disuruh itu langsung nurut. Jangan sok santai-lah. Dikira perintah senior itu tak berguna? Kerasa kan sekarang akibatnya. Makanya… bla… bla… bla….”

Benci. Sialan. Kurang ajar. Emosiku bercampur aduk mendengar ocehannya. Kenapa cowok yang biasanya irit bicara ini jadi banyak omong? Kalau tak ingat siapa dia dan betapa pentingnya ini sampai aku harus tetap berdiri memohon padanya, sudah kusumpal mulut itu agar berhenti berkicau.

“Tapi Kak Shikamaru bilang masih bisa kok. Aku bahkan disuruh untuk menemuimu. Jadi kakak harus menandatanganinya disini.” kataku sembari menunjukkan sebuah kolom kosong pada buku catatanku.

Sasuke mendelik, melipat kedua tangannya didada. Diam sesaat seolah tengah berpikir. Bisa kulihat dari wajahnya yang blagu, cowok itu pasti hanya berpura-pura mempertimbangkan.

“Hn, kayaknya enggak bisa deh.” jawabnya enteng.

“Eeh, Enggak bisa?” Satu jawaban darinya yang langsung membuatku shock. “Jadi usahaku sia-sia? Seharian ini mencarimu dan yang kudapat hanya jawaban ‘enggak bisa’?”

“Kau tahu kan aku tak beri tandatangan, cuma kasih stempel.” lanjut Sasuke.

“I, iya… itu maksudnya. Apapun deh, tandatangan, stempel, yang penting bukti dari kakak. Aku mohon. Ini hari terakhir. Aku harus mendapatkan bukti darimu.”

“Hn.”

Grep… tanpa sadar aku langsung menarik ujung lengan jaketnya, “Aku mohon kakak, tandatangani buku catatanku ya? Ya? Ya?” pintaku dengan sangat memohon sambil mengeluarkan jurus puppy-eyes dengan mata hijau emerald-ku.

Sasuke langsung mengernyit, berusaha melepaskan diri. “Heh, minggir! Lepaskan aku! Sudah kubilang tidak bisa ya tidak bisa!”

“Kak Sasuke~…” rengekku.

“Yo Teme!!” seorang pemuda berambut kuning jingkrak tiba-tiba muncul dihadapan kami. “Apa yang sedang kau…” Naruto Uzumaki, nama pemuda itu, langsung menatapku dan Sasuke bergantian, “Err~ kalian lakukan?”

“Wuaa~” kagetku yang lekas melepaskan lengan Sasuke. Buru-buru menjauh sebelum orang lain salah paham. “Sen, senpai?… Selamat siang.” sapaku memberi salam ramah padanya. Sedangkan Sasuke hanya berdecih dan menatap malas.

“Aah, maaf aku mengganggu. Padahal kalian sedang mesra-mesranya ya?” Naruto cengar-cengir mencurigakan. Tampangnya sudah seperti rubah licik yang menatap kami penuh selidik. “Hoi Teme, kau sombong sekali tak menceritakan ini padaku. Sejak kapan heh? kau akhirnya pacaran dengan gadis itu.” goda Naruto seraya merangkul bahu Sasuke dengan akrab.

“Tch, bicara yang tidak-tidak kuhajar kau Dobe!” desis Sasuke lekas mengelak rangkulan Naruto.

“Hoho~ jadinya karena kau takut masuk neraka, kau terima juga pernyataan cinta dia. Berarti semilir angin kentut Choji di kelas tadi benar-benar menyampaikan perasaan cintanya padamu. Wkwkwk~…” Naruto tertawa terbahak-bahak.

“Haah??!” Emerald hijauku membulat saat mendengarnya. ‘Semilir angin kentut’ dan ‘masuk neraka kalau menolakku’ itu kata-kata yang persis ada dalam surat cintaku pada Sasuke. Jadi benar ya, kalau gara-gara surat cintaku itu Sasuke jadi bahan ledekan teman-temannya.

“Ano~ itu tidak benar, kak Naruto. Aku tak punya hubungan apapun dengan kak Sasuke. Tadi aku  hanya sedang memohon padanya agar dia mau menandatangani bukuku. Tapi dia tak mau memberikannya. Jadi apa boleh dengan ijinmu sebagai ketua OSIS, aku bisa mendapatkan kartu pelajarku?” kali ini aku balik memohon kebijakan seorang Naruto Uzumaki.

“Hah? Tandatangan? Kau belum punya stempel Uchiha?” tanya Naruto.

Aku mengangguk. “Tinggal yang satu itu~”

“Yah, kalau tinggal satu lagi sih tentu saja aku bisa…” jawab Naruto disertai cengiran khasnya, tapi kemudian lekas pudar setelah Sasuke memberikan deathglare padanya. “Tidak bisa membantumu yah~…sepertinya…” lanjutnya dengan kalimat yang menggantung dan hati-hati.

“Sudah kubilang kan, TIDAK BISA!” tegas Sasuke seraya menyeringai.

“Curang. Kau mengancam kak Naruto.” tuduhku. “Tadi sudah jelas dia bersedia membantuku.”

“Hn. Terserah.” balas Sasuke cuek.

“Apa?! Kalau terserah padaku berarti kau harus menandatanganinya, UCHIHA!” bentakku, “Ups…” aku cepat menutup mulutku. Barusan, saking kesalnya, aku keceplosan langsung mengeluarkan isi hatiku yang sebenarnya.

“Uchiha?!” Onyx hitam itu berkilat, memandang tajam. “Kau berani menyebut namaku dengan nada seperti itu. Dasar kau Jidat….” Tangannya yang terkepal sudah bersiap melayang kearahku.

Ugh, aku langsung menunduk melindungi kepalaku. Takut kena jitak.

“Hoi, hoi, hoi, cukup Teme!” Naruto cepat melerai. “Tak perlu semarah itu kan?”

Sasuke berdecih, mendelik padaku.

“Sebaiknya kau bantu saja dia. Memberi tandatangan itu sudah kewajiban kita, kan? Kalau kau berulah, aku juga yang susah. Bagaimana aku bisa pertanggungjawabkan anak buahku pada Tsunade-sensei nanti.”

“Tch.”

“Ayolah Teme, apa susahnya sih tinggal cap doang, ‘plok’ gitu, udah deh. Gampang kan?” bujuk Naruto.

‘Wha~ bagus sekali senpai. Terus rayu dia…’ batinku penuh harapan pada Naruto.

“Jadi, Teme… cepat kasih stempelnya!”

“Hn, gak bisa.” jawab Sasuke.

‘Ih, orang ini benar-benar….’ Hatiku merasa kesal dibuatnya.

“Ini perintah langsung ketua OSIS lho~..” kata Naruto.

“Heh, Dobe Baka!! Terserah kau paksa aku juga tetap aku tak bisa kasih stempelnya sekarang. Orang aku gak bawa…” jawab Sasuke dan itu langsung membuatku dan Naruto cengo sesaat.

“Oh, iya ya, hehe~…” cengir Naruto. “Itu kan kau simpan di laci mejamu di ruang OSIS ya?”

“Baka!” dengus Sasuke seraya melangkahkan kakinya pergi.

“Eh, hei, lalu bagaimana dengan tandatangannya?” tanyaku tak mengerti.

“Cepat kau ikuti dia!” perintah Naruto.

“Oh, iya, iya…” aku mulai melangkahkan kakiku menyusulnya, “Eh, makasih ya senpai.” kataku sebentar berbalik kembali menghadap Naruto.

“Ahahaha~ bukan apa-apa kok…” balasnya sambil nyengir dan garuk-garuk kepala.

“Hn.” Aku mengangguk dan cepat kembali menyusul Sasuke.

.

.

.

Karena ruang OSIS Konoha itu letaknya di gedung utama. Jadi dari gedung olahraga tadi, kami harus berjalan melewati lorong ruang kelas dua di gedung sebelah barat.

Cahaya jingga menerobos masuk melalui kaca-kaca jendela. Memantulkan siluet indah senja hari itu. Derap langkah kami terdengar bergema diantara lorong-lorong kelas yang sepi. Ini memang sudah jam pulang sekolah. Kebanyakan dari siswa sudah pulang beberapa menit lalu. Hanya tinggal beberapa orang yang terlihat masih berkeliaran karena kegiatan klub.

Sejenak kupandangi sosok pemuda yang berjalan didepanku ini. Melihat punggung tegapnya, berjalan dengan memasukkan kedua tangannya kedalam saku, ternyata pemilik simbol uchiwa ini memang cukup keren.

“Haah? Tidak…tidak…tidak!” buru-buru kutepis pikiran itu. Cowok dingin dan tak berperasaan seperti dia apanya yang keren??

“Apa?!” tanya Sasuke sedikit menoleh padaku, mungkin dia sempat mendengar gumamanku.

“Tidak…” jawabku datar.

Sasuke sedikit menyunggingkan bibirnya, “Kau terpesona padaku?”

“Tidak.” bantahku cepat, “Sama sekali tidak. Jangan terlalu narsis kak, itu menggelikan. Kakak pikir semua cewek itu naksir sama kakak. Duh kak, asal kakak tahu ya, mungkin aku ini satu-satunya cewek di Konoha yang bukan fansgirl-mu.”

“Tch. Aku juga, tidak pernah mau punya fansgirl sepertimu.” delik Sasuke.

“Huuh, ya sudah.” balasku sambil sedikit menjulurkan lidahku padanya. “Lagipula hatiku ini cuma milik….” Pandanganku lekas beralih saat sudut mataku menangkap sesosok bayangan pria berambut merah. “Kak Gaara!!” teriakku memanggilnya.

“Sakura?!” Gaara yang baru saja keluar dari ruang kelas tampak terkejut melihatku. “Apa yang kau lakukan disini? Masih belum pulang?”

Sambil menggeleng pelan, ku kembungkan pipiku, “Aku mau ke ruang OSIS.”

“Ng…” Gaara melirik sosok Sasuke yang berdiri tak jauh dariku.

Eh, kukira si Sasuke itu sudah pergi duluan. Ternyata masih menungguku. Onyx hitamnya memandang tajam, tampak kesal menatap kami. Err, mungkin kesal padaku yang tiba-tiba berhenti untuk menyapa Gaara padahal kami sedang buru-buru. Tapi aku kan tak menyuruhnya menunggu. Dia bisa saja duluan pergi ke ruang OSIS. Toh aku sudah tahu dimana tempatnya.

“Aku mau pergi minta cap.” jelasku pada Gaara.

Gaara hanya ber’oh’ ria, “Eh, mau pulang bareng?” tanyanya kemudian.

Mataku berbinar mendengar ajakannya, “Wah, iya mau.” Jawabku cepat tanpa pikir panjang.

“Kalau begitu aku akan menunggumu.”

“Hn.” Aku mengangguk, “Tunggu sebentar ya kak, aku akan secepatnya menyelesaikan urusanku. Jaa~…” Saking semangatnya aku langsung pamit dan cepat menghampiri Sasuke yang sedang menungguku. “Ayo cepat kita ke ruang OSIS!” ajakku padanya.

Sasuke mengerling, “Tch, Memang kau itu siapa, berani memerintahku!” gerutu cowok itu.

….

Sreg… Sasuke membuka pintu ruang OSIS dan lekas masuk kedalam.

Aku menghentak-hentakkan sebelah kakiku, berdiri diluar pintu, menunggunya dengan perasaan tak sabar.

“Apa sih yang dilakukannya? Ngambil cap aja lama bener…” gerutuku kesal.

Karena penasaran, aku melongok dan terkejut melihat Sasuke duduk santai diatas meja sambil berpangku tangan.

“Hiih, mana capnya?” dengan kesal aku berburu masuk menghampirinya. “Sudah kutunggu daritadi…”

“Heh, Jidat!” Sasuke mengangkat satu jarinya dan mendorong jidatku pelan, “Kau… memangnya siapa yang butuh? Untuk apa aku keluar dan memberikannya padamu?”

“Ugh, Mana kutahu kalau aku boleh masuk ruangan ini…” dengusku sambil mengelus-elus jidatku yang tadi didorongnya.

Langsung saja kuserahkan buku catatanku padanya, minta di cap.

Dengan masih memandangku sebal, Sasuke segera mengambilnya. Plok… sebuah lambang kipas dengan nama ‘Sasuke’ dibawahnya kini tertera diatas buku catatanku.

“Yokatta~…” riangku saat melihatnya. Kolom tandatangannya sekarang sudah penuh. Tinggal mengambil kartu pelajar, setelah itu pulang dengan Gaara. “Hihihi~…” tanpa sadar aku terkikik sendiri membayangkan waktu yang akan kuhabiskan sepulang sekolah nanti bersama Gaara.

“Sankyu~ senpai…” ucapku pada Sasuke sambil tersenyum.

Ekspresinya tetap datar. Hanya saja, Onyx hitam itu menatapku lekat-lekat.

“Jaa~..” pamitku padanya. Langsung angkat kaki, melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

Aku melompat-lompat kecil, bersenandung menyebutkan nama ‘Gaara’ berulang kali. Hatiku benar-benar merasa bahagia, menyambut kencan sepulang sekolah.

Kencan? Hihihi~… aku geli sendiri memikirkannya. Apa ini bisa disebut kencan ya? Kami bahkan belum pacaran. Tapi ini pertama kalinya kami akan pulang bersama sejak aku di bangku SMA.

“Heh, tunggu Jidat!”

Panggilan itu langsung merusak suasana hatiku. ‘Apa lagi sih?’ dengusku dalam hati. Aku kembali berbalik, menghentikan langkahku di ujung tangga menuju lantai satu.

“Duh, jangan panggil aku Jidat. Masa Orientasi kan sudah lewat. Aku juga punya nama. Sakura. Namaku Sakura Haruno. Ingat itu baik-baik kak Uchiha!” tegasku pada Sasuke.

“Mau kemana kau? Memangnya cap itu gratis, seenaknya saja pergi sebelum melakukan sesuatu untukku.” kata Sasuke sambil berjalan mendekatiku.

“Ck~” aku mengerling menghindari tatapannya. Terus terang aku lupa kalau untuk mendapatkan cap ini darinya, harus rela dikerjai terlebih dahulu.

“Aduh kak, saat ini aku sedang terburu-buru. Besok saja deh. Ya?” kataku sambil langsung pergi. Menuruni anak tangga dengan langkah yang cepat, sebelum dia menyusulku.

“Hoi, jangan kabur…” Bahuku langsung dicengkeramnya.

“Eeeh~…”

Terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba, aku jadi salah langkah. Satu kakiku langsung melewati dua anak tangga sekaligus. Membuatku kehilangan keseimbangan. Terhuyun. Pandanganku melayang dan sesaat kemudian aku merasa terhempas.

“Kyaa~”

Tubuhku tertarik kebelakang. Terkekang dua lengan kekar yang langsung mendekapku erat. Kejadiannya begitu cepat. Aku merosot bersamanya. Kupikir kami akan terus berguling hingga ke anak tangga paling bawah, tapi orang itu cepat menghentakan kakinya, menghentikan laju kami.

Nafasku berburu cepat. Jantungku berdegup kencang. Barusan rasanya seperti aku akan mati. Untung saja masih selamat, tapi…

Aku menoleh kebelakang, menatap Sasuke yang sama pucatnya denganku. Dari dadanya yang menempel dipunggungku, kurasakan pula debaran jantungnya yang tak teratur. Kami sama-sama terkejut dengan kejadian barusan.

“Baka!” gumamnya.

“Kau sendiri yang menarikku tadi.”

“Aku menyelamatkanmu tahu…”

“Hmm,…” aku tak bisa berkata apa-apa.

Onyx bertemu Emerald.

Sesaat kami terdiam. Masih dalam posisi dia memelukku dari belakang. Mendadak suasananya terasa lain. Jantung ini masih berdebar kencang. Tapi berbeda dengan yang tadi.

Perasaan apa ini? Apa karena aku tak pernah berada sedekat ini dengan seorang cowok selain kakakku?

Sasuke juga sepertinya merasa begitu. Tatapan mata kami tak bisa lepas. Dekat. Sangat dekat. Sampai kemudian aku merasakan hembusan nafas hangatnya dan bibir lembut Sasuke diatas bibirku (?)

“Aaaa~” aku lekas melepaskan diri dari pelukannya dan menjauh. “Apa yang kau lakukan?!” bentakku padanya. Kesal. Aku merasa sangat kesal sekarang.

“Hn.” Sasuke yang masih dalam posisi setengah berbaring balas menatapku dengan wajahnya yang tampak tak bersalah.

Dengan punggung tangan, kuseka bibirku berulang kali. Tak sudi barusan dicium olehnya. Ciuman pertamaku. Yang kujaga baik-baik untuk kuberikan pada orang yang paling kucintai, malah dicuri olehnya.

Masih menatapku, Sasuke mengecap kembali bibirnya. Satu senyuman tipis terlukis diwajah cowok itu. “Manis. Rasa Cherry. Aku suka.”

Aku membelalak tak percaya mendengar kata-katanya. “Mesum. Dasar mesum!” teriakku sambil menendang kakinya keras. Kulemparkan buku catatanku yang tergeletak di lantai ke wajahnya. Dan langsung berlari pergi meninggalkan cowok itu sendirian. Berharap dia sekarat saja setelah jatuh dari tangga tadi.

Aku menyumpahinya.

Langkahku terhenti tatkala melihat Gaara yang berdiri di ujung lorong masih menungguku.

Menyadari kehadiranku. Cowok itu lekas menghampiri, “Urusanmu sudah selesai?” tanyanya sambil tersenyum.

Aku menatapnya nanar. Menggigit bibirku untuk menahan tangis.

“Eh, kenapa, Sakura?” Gaara tampak cemas melihatku yang datang dengan penampilan kacau.

“Jatuh dari tangga….” Jawabku dengan suara yang bergetar.

Dengan seksama dia memperhatikan keadaanku, “Kau tidak apa-apa?”

Aku hanya menggeleng pelan.

“Ini sakit?” dia mengangkat lengan kiriku yang tanpa kusadari ternyata ada luka gores disana.  “Sudahlah, ayo kita obati dulu lukamu.” ajak Gaara sambil menuntunku.

Sakit… yang sakit bukan lukaku. Tapi hatiku…

@@@

TBC……… next to chapter 3

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bachot Session from Author:

Wah, ini Fic beneran alur GaJe-cerita-se-mau-gue

Haha~ (=__=)a

Maaf atas kekacauan penggunaan panggilan untuk para senpai. Belibet saya nulisnya, kadang pake “–senpai”, “kakak” atau sama sekali ga pake embel-embel apapun.  Sebisa mungkin saya sesuaikan dengan susunan kalimatnya biar enak pas bacanya.

Baru chapter 2 udah kissu :* , mau dijadikan apa cerita ini Author???

fufufu~ apa we lah. Reader mah tinggal baca, hehehe~…

Berikutnya di Chapter 3… *WARNING: spoiler* [yang ga suka jangan baca!]

– Kelanjutan hubungan SasuSaku [itu sih udah pasti]

– Kemunculan kakak Sakura. Siapakah dia??? Pasti udah langsung ketebak ^-^ [yang rambutnya merah juga~]

– Kunjungan ke rumah Uchiha (?)  [lho, emang mau ngapain??]

– Sakura siap-siap nembak [siapa?]

Fufufu~ tunggu saja, moga bisa secepatnya saya publish (*-*)/ Yosh~…

Akhir kata…

Sankyu~ udah baca … m(_ _)m … comment please~

12 Comments

Leave a Reply
  1. Wah bagus tuh ceritanya bisa sampai kepikiran lg kayak gmn lanjutannya kalau aku sih mau bikin gk jadi trus bingung harus apa lanjutannya..Tpi aku ska sm cerita kakak…

    • makasih udah baca n komen 😀
      syukurlah klo ceritanya suka
      wah, kamu juga author-kah?
      klo masalah lanjutin cerita kadang aku juga ga lancar 🙁
      ky sekarang lagi dalah masa hiatus coz writer block nih T^T

  2. Sasukee nyebelinn bangett disiniii xD aku rasa dia udh mulai tertarik sama sakura xD
    Kyaa ada gaaraaa xD
    Buat sasuke jelous gara” gaaraa xD wkwkwk

4 Pings & Trackbacks

  1. Pingback:

  2. Pingback:

  3. Pingback:

  4. Pingback:

Leave a Reply