Senpai~ Suki Deshita! : Chapter 4

Cerita sebelumnya…. Baca: [Chap 1] [Chap 2] [Chap 3]

Seperti yang tadi diarahkan Itachi, aku baru saja naik ke lantai dua, berbelok ke kanan dan berjalan lurus menuju pintu sebelah kiri. Perlahan aku membuka kenop pintu itu, yang memang tidak dikunci. Begitu aku membukanya…

“Kyaaa~” aku langsung menjerit. Spontan terkejut melihat sesuatu didalam sana.

@@@

 Senpai~ Suki Deshita! : Chapter 4

 

Chapter: 4/?
Pair: Sasuke Uchiha x Sakura Haruno
Rate: T
Genre: Romance, Friendship, Comfort
Disclaimer: NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
Length: words
WARNING: OOC, typo, alur GaJe cerita se-mau-gue. Maap kalo ceritanya jelek dan mengecewakan. Buat yang sengaja dan ga sengaja kebetulan nemu n baca Fic Abal-Abal ini, setidaknya setelah kalian membaca tolong beri komen ya (sangat diharapkan).

Story by

Me!! [FuRaha] 

If you don’t LIKE? Read? Don’t Read?

 Up to You!!!

~Happy Reading~

*

*

*

Orang itu membeku. Onyx hitamnya membulat, menatapku sama terkejutnya. Sesaat kami hanya saling bertatapan.

Air menetes dari ujung-ujung rambut ravennya yang basah. Turun menyusuri wajah dan tubuhnya. Dada yang bidang dengan otot-otot tangan dan perut yang terbentuk sempurna. Tubuh polos itu tampak atletis. Untung saja antara bagian pinggang hingga lututnya terhalang handuk yang masih belum sempat dia lingkarkan. Jadi setidaknya aku yakin aku tak melihat sesuatu dibalik handuk itu yang akan membuatku semakin shock. Membayangkannya saja sudah membuatku malu. Kenapa aku bisa sampai berpikiran kotor seperti ini?

“Kyaaa~…” aku lekas berbalik, menutupi wajahku dengan kedua tangan. Merutuk dalam hati.

Sial, kenapa aku harus melihatnya? Kenapa harus dia? Ini sungguh kebetulan yang mengerikan.

Sasuke Uchiha?

“Heh!” suara bariton itu terdengar memanggil.

Aku tak berani berbalik. Tapi kemudian sebelah bahuku dicengkramnya, memaksaku untuk menghadap kearahnya. Menatap lurus onyx hitam itu. Jantungku berdegup kencang. Entah karena masih shock dengan kejadian tadi atau karena jarak kami sekarang yang terpaut dekat.

Sasuke mendorongku hingga merapat ke tembok. Tangan kanannya dia  letakkan disisi dekat kepalaku, seolah menghalangiku untuk melarikan diri. Aku bisa saja berontak, mendorong Sasuke agar menjauh dariku. Tapi aku ragu jika harus menyentuh tubuhnya yang masih setengah telanjang. Makin membuatku serba salah. Belum lagi wangi sabun yang menyeruak dari tubuhnya, tercium harum menusuk hidungku. Sedikit memabukkan. Aku suka aroma ini.

Glek… aku menelan ludah. Berusaha menghalau perasaan tegang dalam diriku. Kalau sekedar melihat tubuh seorang lelaki setengah telanjang sih, aku sudah terbiasa dengan kakakku. Seperti tadi saat Sasori hanya memakai celana boxernya, aku tak merasa risih. Tapi masalahnya ini orang lain. Sasuke pula orangnya. Rasanya aku ingin mengubur diriku dalam-dalam. Sungguh merasa malu.

“A, apa?” aku beranikan diriku bertanya.

“Kau…” Sasuke menatapku lekat-lekat, “Lihat sesuatu?” tanyanya.

Entah kenapa refleks aku memutar pandanganku kebagian bawah tubuh Sasuke yang berbalut handuk.

“Hn.” Cowok itu mengikuti arah pandangku.

Menyadarinya apa yang kulihat, aku terbelalak dan cepat mengalihkan pandanganku kearah lain sebelum dia salah paham. “Tidak. Aku tidak lihat apapun.” jawabku cepat.

Sasuke menyeringai, “Hh? Benarkah?”

“Me, memang apa yang harus kulihat?” bentakku kesal, “Kau berharap aku melihatnya ya?!”

Sasuke mengangkat sebelah alisnya, “Lihat apa?”

“Itu…” Mati aku, harus jawab apa? Orang ini benar-benar…

Pletak… sentilan keras mengenai keningku. “Dasar Jidat! Mesum juga kau…”

“Sakit…” aku meringis, mengusap-usap keningku. “Siapa yang mesum?! Kau sendiri, kan? Dasar maniak. Kunci dong pintu kamar mandinya…”

“Haha~… terserah aku. Rumahku ini. Lagian aku gak nyangka bakal ada orang yang datang mengintip.” balas Sasuke.

“Apa? Siapa yang mau ngintip?” cengangku.

“Ya, kau. Memang tadi siapa yang tiba-tiba masuk?”

“Aku tidak akan masuk kalau pintunya kau kunci!” balasku tak mau kalah.

“Jadi ini salahku, heuh?” bentak Sasuke, “Enak aja…”

“Aku juga gak salah. Ini kecelakaan. Memangnya aku mau lihat tubuh kerempengmu itu…”

“Hah? Siapa yang kerempeng? Orang se-atletis aku…” Sejenak Sasuke terdiam, memperhatikanku dari atas hingga ke bawah, lalu menyeringai. “Kau sendiri, memangnya punyamu lebih bagus?”

Aku lekas menutupi tubuhku dengan kedua tangan. Memberikan tatapan mematikan padanya. “Jangan kurang ajar, dasar mesum!”

“Mesum? Ah, jadi ingat yang kemarin…” bisik Sasuke seraya mengangkat tangan kirinya.

Langsung saja kutepis tatkala tangan itu hendak menyentuh wajahku. Tapi dia malah berbalik mencengkram pergelangan tanganku.

“Lepas!” bentakku, sambil mengebaskan tangan. Tapi cengkraman Sasuke semakin erat.

Satu senyuman tipis terlukis di wajah cowok itu, “Mempermainkanmu menarik sekali, Sakura…” lanjutnya seraya mendekat.

“Kyaaa~…” aku berteriak. Takut. Takut dia melakukan sesuatu padaku.

“Hei, ada ribut-ribut apa ini?!” seru seseorang.

Membuatku dan Sasuke langsung menoleh kearah sumber suara itu. Mendapati Itachi dan Sasori di ujung lorong mulai berjalan menghampiri kami.

“Sasuke?” tanya Itachi.

“Sakura?” tanya Sasori.

“Nii-san…” kataku dan Sasuke nyaris berbarengan. “Eh?…” Kami berdua jadinya kembali bertatapan.

Aku merinding mengetahui kenyataan ini.

“Kau…”

Mataku membelalak menatap Sasuke. Sasuke juga mengernyit memandangiku, Sasori dan Itachi bergantian. Dua Aniki itu juga saling berpandangan heran. Lalu tatapan mereka tertuju pada tanganku dan Sasuke…

“Kalian sedang apa?” tanya Itachi, akhirnya mencairkan suasana yang sesaat sempat membeku.

“Sudah saling kenal ya?”

“Wah, benarkah? Jadi senior jahat, tukang tindas, yang membuat stress masa orientasi Sakura itu Sasuke?”

“Hmm, junior rese, suka melawan, nyusahin dan selalu membuat Sasuke emosi itu Sakura?

“Pernah waktu itu Sakura pulang menangis dan marah-marah tidak terima dirinya diperlakukan seperti setan dalam festival setsubun…”

“Sasuke benar-benar melempari Sakura dengan kacang? Ckck~ anak itu…”

“Sekejam dirimu Itachi. Tapi kurasa dalam orientasi, senior memang begitu. Mungkin Sakura-nya saja yang masih terlalu manja.”

“Tapi tetap saja itu keterlaluan Sasori, kau tak marah adikmu diperlakukan begitu? Terus berikutnya Sasuke malah heboh gara-gara surat cinta kutukan…”

“Hahaha~ kupikir Sakura tak akan benar-benar menulis surat cinta seperti itu.”

“Tapi kelihatannya justru karena ini mereka sekarang jadi akrab, fufufu~”

“Wah, gimana nih Itachi, bisa-bisa kita nanti jadi saudara ipar.”

“Aku sih tak keberatan. Toh aku memang ingin punya adik manis seperti Sakura.”

“Hoi…hoi… dua kakak disana, berhentilah bergosip!” protesku yang sudah kesal mendengar mereka saling curhat antara aku dan Sasuke. “Jangan bicara yang tidak-tidak. Sasori-nii tahu kan aku tak suka sama dia…” lanjutku sambil mendelik ke arah Sasuke yang baru datang ke ruang makan. Dia sudah berpakaian. Mengenakan t-shirt biru polosnya dan celana hitam selutut. Terlihat santai sekali. Berjalan sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku.

“Lho, jadi Sakura naksir sama orang lain?” tanya Itachi, “Hei, baka ototou… apa pesonamu sudah pudar, sampai tak bisa memikat Sakura?”

“Hn, Itu karena seleranya saja yang rendah…” cibir Sasuke, lantas mengambil kursi dan duduk diseberang mejaku.

Grr… aku ingin membalas perkataannya, tapi kutahan karena sesosok wanita cantik memasuki ruangan.

Rasanya aku semakin ingin melarikan diri dari tempat ini. Saat situasi kemudian berubah jadi kesalahpahaman. Entah apa yang sudah kak Itachi ceritakan pada ibunya. Tapi wanita berusia 40 tahunan itu, sambil tersenyum, tak henti-hentinya menatapku dengan seksama.

Parasnya cantik, dan tetap terlihat anggun meski mengenakan dress biasa dan apron berenda. Penampilan khas ibu rumah tangga. Rambut raven-nya terurai panjang sepunggung. Dan lagi-lagi aku terpesona pada onyx hitam itu. Selalu tampak memikat. Kurasa aku tahu dari mana asalnya wajah rupawan Sasuke dan Itachi kalau ternyata ibu mereka secantik ini.

Namanya Mikoto Uchiha. Wanita itu tak secerewet ibuku. Yah, tentu saja, semua orang akan berpikir bahwa ibu mereka-lah yang paling cerewet se-dunia. Bibi Mikoto sangat ramah menyambutku. Tapi satu hal yang tak kusuka darinya, kenapa tiba-tiba dia berpikir aku pacarnya Sasuke?

“Yang namanya jodoh itu memang tak disangka ya. Ternyata pacar Sasuke itu adiknya teman Itachi. Kalau sudah begini, sering-seringlah mampir kemari, Sakura.” kata bibi Mikoto seraya menyajikan puding caramel yang baru dikeluarkannya dari dalam lemari es sebagai dessert makan siang.

“Ano~ tapi aku ini hanya adik kelasnya Sasuke. Aku bukan…”

“Ah, tak perlu malu.” Belum selesai aku menjelaskan, bibi Mikoto langsung menyela, “Aku tidak akan marah mengetahui putraku berpacaran. Terlebih lagi melihat sifat kerasnya Sasuke, kurasa kau gadis yang luar biasa, Sakura.”

“Sudah kubilang, aku ini bukan…”

“Hn, silahkan nikmati pudingnya. Ini berkalori rendah, tak kan membuatmu gemuk meski tadi baru selesai makan. Kau suka makan makanan manis?” sela bibi Mikoto lagi.

“I, iya…” jawabku, yang akhirnya menyerah saja. Sama sekali tak diberi kesempatan untuk menjelaskan. “Terima kasih…”

Aku tertunduk lesu. Merengek dalam hati. Kutatap kak Sasori yang duduk disebelahku, tak bisakah dia membantuku menjelaskan kesalahpahaman ini. Tapi kakakku itu hanya tersenyum simpul sambil mengangkat bahu. Kak Itachi juga sama saja. Justru sepertinya malah senang melihat ibunya tertarik padaku. Lalu Sasuke… cowok yang duduk diseberangku itu kenapa malah sama cueknya? Sama sekali tak bicara atau menyangkal. Membuatku semakin kesal.

“Kalau Sasuke, dia tak suka makan makanan yang manis.” lanjut bibi Mikoto.

Aku sedikit memperhatikan, cowok itu memang hanya menikmati jus tomatnya.

“Dia bilang makanan manis itu seperti membakar isi mulutnya. Alasan konyol.” sambung Itachi. “Hidupmu akan susah Sasuke, kalau tak suka yang manis. Tak pernah kau coba, mana kau tahu itu enak.”

Sasuke mendelik mendengar kata-kata Itachi, “Aku sudah coba dan rasanya tak enak. Ah, tapi…” Sasuke beralih menatapku, tersenyum samar, “Rasa manis yang kusuka mungkin cuma Cherry.”

Klontang… Tak sengaja aku menjatuhkan garpuku. Mendengar kata ‘Cherry’ yang diucapkannya, membuatku teringat kembali kejadian kemarin.

“Cherry?” Itachi mengernyit heran, “Sejak kapan? Secuilpun bukannya kau tak mau, itu rasanya sangat manis kan?”

“Hn. Kemarin aku coba sedikit. Dan rasanya enak.” jawab Sasuke.

Mataku membulat, menatapnya tajam. Ku genggam erat garpu ditanganku, yang rasanya ingin kulepar kearahnya. “Awas kau…” desisku, “Bicara macam-macam….”

“Kenapa Sakura?” tanya Sasori, yang sepertinya mendengar perkataanku.

“Tidak.” jawabku sambil menggeleng pelan. Kuperhatikan Sasuke menggulum senyumnya, menahan tawa, melihat kegugupanku.

Sial. Aku merasa semakin dipermainkan olehnya.

.

.

.

“Terima kasih untuk makan siangnya, enak sekali.”

“Kapan-kapan main kesini lagi ya, Sakura.”

“Iya…” jawabku ramah. Meski dalam hati tidak sepenuhnya ingin. “Kalau begitu, aku pulang dulu.” pamitku sembari sedikit membungkukkan badan.

“Hati-hati di jalan, Sakura.” ucap bibi Mikoto sambil tersenyum dan melambaikan tangan, “Sampai jumpa.”

Fiuh~… aku sedikit bernafas lega. Akhirnya bisa pergi juga dari rumah ini.

“Ayo, ku antar sampai halte terdekat.” ajak Sasori.

“Hmm, Nii-san tak akan pulang bersamaku?” tanyaku dan mulai berjalan beriringan bersamanya.

“Masih ada yang harus kuselesaikan disini. Tapi aku janji, hari ini aku akan makan malam di rumah. Jadi, tolong sampaikan juga pada Kaa-san.” Sasori tersenyum dan mengelus-elus lembut rambutku. “Hati-hati ya…”

“Hn.” aku mengangguk.

“Kak Sasori…” panggil seseorang.

Kami kembali menoleh dan mendapati Sasuke berjalan menghampiri. Aku mengernyit heran menatapnya, ‘Mau apa orang ini?’

“Kalau tak keberatan, boleh aku yang antar Sakura pulang?” lanjut Sasuke.

“Hah?!” aku melohok mendengarnya. Tak kusangka dia akan bilang begitu.

“Boleh ku antar dia?” tanya Sasuke lagi.

Sasori menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, “Um, yah, sebenarnya aku lebih tenang kalau Sakura tidak pulang sendirian.”

“Nii-san…” aku menyela, menggeleng pelan. Tolong mengerti maksudku yang tak mau menerima ajakan Sasuke. “Aku bisa pulang sendiri.”

“Kalau gitu, boleh aku bicara sebentar dengan Sakura?” tanya Sasuke.

“Mau bicara apa?” balasku, makin tak mengerti apa mau orang ini sebenarnya. “Cepat katakan!”

Sasuke melirikku dan Sasori bergantian, “Benar boleh langsung kukatakan sekarang?”

“Ck~ katakan saja!” kataku sedikit sebal.

“Soal ciuman kemarin…”

“Eeh~…” mataku membulat, “Cukup! Jangan teruskan…” teriakku sambil menyilangkan kedua tangan dihadapan Sasuke. Jantungku berdebar kencang, tindakan orang ini selalu saja mengejutkanku. Sedikit kulirik wajah Sasori, ku harap dia tak mendengar ucapan Sasuke barusan.

“Nii-san, aku mau bicara berdua dulu dengan Sasuke.” kataku.

“Hmm, baiklah, aku akan tunggu di gerbang depan ya, Sakura. Santai saja.” kata Sasori yang langsung melangkah pergi, meninggalkanku dan Sasuke.

Aku menatap tajam Sasuke yang terkekeh pelan disebelahku, “Apa sih maumu?” tanyaku.

“Mempermainkanmu.” jawabnya singkat, disela tawa.

Aku mendengus, menahan kesal, “Kenapa? Semarah ini padaku gara-gara surat cinta? Kalau itu sebabnya, aku minta maaf. Jadi tolong berhenti mempermainkanku.”

Sebelah alis Sasuke terangkat, masih tersenyum meremehkan, dia menatapku, “Tadinya memang begitu, tapi sekarang aku punya alasan lain. Kau itu menarik. Tiap kali melihatmu, aku jadi ingin mengganggumu.”

“Hah? Alasan macam apa itu…” cengangku tak mengerti, “Atau, jangan-jangan sebenarnya…” aku jadi berdebar sendiri memikirkan kemungkinan yang satu ini, “Kak Sasuke suka padaku?” gumamku pelan. Harap-harap cemas.

“Hahahaha~….” Sasuke tertawa.

Eh, dia tertawa. Serenyah itu. Aku nyaris tak percaya melihatnya. Kalau sekedar senyum atau tawanya yang meremehkan sih sudah sering kulihat. Tapi sampai tertawa dengan sudut bibir yang turun, selebar itu, ekspresi yang benar-benar langka dari seorang Sasuke.

“Ehem, itu mustahil, kan.” lanjut Sasuke yang tak lama langsung kembali berwajah datar. “Jangan berkhayal.”

“Ih,…” aku bergidik, “Aku juga tak mau.”

“Ah, karena si rambut merah itu?” tanya Sasuke. “Padahal dia bukan pacarmu kan?”

Aku menatap Sasuke, kenapa dia tahu tentang Gaara?

“Terserah padaku mau suka sama siapa. Itu bukan urusanmu.” balasku.

“Hn.” Sasuke mengerling, kembali bersikap cuek.

Melihatnya seperti itu, aku pikir tak ada hal penting yang akan dibicarakannya. Maka dengan kesal, aku pun segera melangkah pergi. Dia memang hanya mau mempermainkanku.

“Heh, Jidat!” seru Sasuke.

Aku tak mengubris panggilan itu dan tetap berjalan.

“Kau mau pergi begitu saja tanpa membawa kartu pelajarmu?” teriaknya.

“Eh,…” aku kembali menoleh dan kulihat tangan Sasuke mengibas-ibaskan sesuatu.

“Sakura Haruno. Konoha Academy. X-3. Tahun ajaran 20xx – 20xx. Lengkap dengan foto jelekmu.” lanjut Sasuke, membaca informasi didalam sana dan menunjukkan lembaran kartu tipis itu kehadapanku.

“Kartu pelajarku!” Senyumku mengembang, melihat kartu pelajar itu. ‘Bagaimana bisa ada padanya?’ heranku dalam hati. Tapi aku tak peduli. Yang penting itu benar-benar kartu pelajarku. Lekas saja aku kembali menghampiri Sasuke. Aku sangat senang. Akhirnya, kartu pelajarku…

“Eits…” Sasuke cepat menarik kembali kartu itu sebelum aku sempat merebutnya.

“Sini, itu milikku…” pintaku padanya.

“Coba saja ambil dariku.” kata Sasuke sembari menyembunyikan kartu itu di balik punggungnya.

Aku menatapnya sebal, “Kekanak-kanakan sekali. Apa salahnya langsung serahkan padaku? Itu milikku, untuk apa kau simpan? Kembalikan!” seruku sambil berusaha merebutnya. Tapi selalu saja Sasuke berhasil mengelak. Aku kalah cepat darinya.

“Hmm, akan kuberikan, tapi give and take…” kata Sasuke sambil terkekeh.

Give and take?” aku mengernyit mengulangi perkataannya. “Maksudmu harus kutukar dengan sesuatu?”

Sasuke mengangguk kecil, “Pintar juga kau.”

Aku berdecih. Menyebalkan sekali orang ini. “Dengan apa?”

Sasuke memutar matanya, tampak sedang memikirkan sesuatu. “Ng, yang kemarin. Aku ingin coba sekali lagi.” kata Sasuke sembari menaruh jari telunjuknya diatas bibir.

“Hah?! Maksudnya yang kemarin….” Emerald-ku membulat. Pipi dan telingaku mulai terasa panas. Mengingat yang dia maksud pasti tentang ciuman itu. “Kau sudah gila. Jangan harap aku mau melakukannya.”

“Ya sudah kalau tak mau.” balas Sasuke sambil melangkah pergi, “Temui aku kapan saja kalau kau mau dapatkan kembali kartu pelajar ini.”

Aku menatapnya tak percaya. Picik sekali dia. Orang ini sungguh mau menahan kartu pelajarku.

“Tunggu!” cegahku sembari menarik ujung kaosnya.

Langkah Sasuke terhenti. Menatapku sambil menyeringai. “So…”

Sesaat kami terdiam. Sedangkan jantungku makin berdebar kencang. Apa aku sungguh akan melakukannya? Mencium Sasuke? Demi kartu pelajar itu? Aku….

“Baiklah.” jawabku akhirnya, “Tapi serahkan dulu kartu itu padaku!”

“Hn.” Sasuke memicingkan matanya, “Bagaimana kalau kau curang?”

Aku maju selangkah lebih dekat, hingga berdiri tepat dihadapannya. Sedikit kudongakkan kepala, memandang wajahnya yang jauh lebih tinggi dariku.

“Kau tak percaya?” aku balik bertanya, menatapnya lekat-lekat.

Sasuke terkekeh. Ditunjukkannya kembali kartu pelajarku itu kehadapanku. Mengapitnya diantara jari telunjuk dan jari tengah.

“Lakukan sama-sama. Aku cium. Kau ambil kartunya.”

Aku meringis mendengar permintaannya. ‘Sial. Padahal tadinya aku mau langsung kabur begitu mendapatkan kartu itu. Duh, lalu sekarang apa yang harus kulakukan? Berpikirlah Sakura!’

“Hn.” Sasuke mengangkat sebelah alisnya. Menunggu jawabanku.

“Bagaimana Sa~ku~ra~?” bisiknya lembut.

Tumben dia tak menyebutku ‘Jidat’, malah menyebut namaku dengan nada yang sedikit menggoda. Membuatku bergidik. Entah karena tak biasa mendengarnya atau pengaruh hembusan nafas hangatnya yang menggelitik di telingaku.

“….”

Sebentar aku berpikir. Sampai akhirnya kembali menatap onyx itu dalam-dalam.

“Kak Sasuke… aku…” gumamku seraya perlahan mengangkat tangan kiriku. Memegang ujung kartu yang sisi lainnya masih dipegang juga oleh Sasuke.

“Hn.”

Mengerti apa yang akan kulakukan, Sasuke sedikit memiringkan wajahnya, mulai mendekat. Dan dalam waktu yang sempit itu, seiring dengan debaran jantung yang tak biasa, rasa gugup menyelimutiku.

Sementara jarak kami semakin dekat, kukepalkan tangan kananku kuat-kuat. Lalu saat kurasa perhatian Sasuke teralih dari kartu itu, dengan cepat aku mengambil tindakan. Lekas kusambar kartu itu dari tangannya, bersamaan dengan tangan kananku yang memukul tubuh Sasuke keras, hingga menjauh dariku.

Terkejut akan tindakanku yang tiba-tiba, cowok itu terhuyun. Tak menyiakan kesempatan, langsung saja kudorong dia lebih kuat lagi, sampai terjatuh kebelakang dengan pantatnya yang mendarat duluan. Aku yang sudah berhasil merebut kartu itu darinya, cepat melangkahkan kaki dan pergi melarikan diri.

“Jidat!!!” teriak Sasuke, dengan murka memanggilku.

“Jiahahaha~ Aku sudah berikan lagi yang kemarin, kak Sasuke. Mendorongmu jatuh! Wek…” lanjutku seraya menjulurkan lidah dan tertawa puas melihat wajahnya yang tampak kesal.

“Awas kau ya!” ancam Sasuke dibelakang.

Tapi aku tak peduli. Ha..ha..

Sasori mengernyit heran tatkala melihatku berlarian menghampirinya sambil tertawa-tawa, “Kau kenapa Sakura?” tanyanya.

Sebentar aku kembali mengatur nafasku yang terengah. Berlari sambil tertawa benar-benar menguras tenaga. Tapi barusan puas sekali. Kali ini aku yang berhasil mempermainkannya. Hihi~ rasakan itu, Sasuke…

“Nii-san, ayo cepat kita pergi dari sini!” ajakku langsung merangkul lengan Sasori dan menariknya.

.

.

.

Saat ini aku benar-benar merasa bahagia. Lama kutatap kartu pelajar itu. Mengingat dengan ini aku bisa menagih janjiku pada Gaara. Ya Gaara, masih ingatkah dia dengan janji setahun lalu? Di taman, sepulang sekolah. Senja di hari pertamanya menjadi siswa Konoha. Aku bilang, aku juga ingin selalu bersamanya.

“Ano~… Senpai, kalau seandainya aku nanti berhasil sekolah disana, maukah kau jadi pacarku?” ucapku malu-malu.

Sesaat Gaara terdiam, sebelum kemudian senyumnya mengembang. Dia lekas bangkit, berdiri dari ayunannya dan perlahan mendekatiku.

“Kalau begitu, berusahalah Sakura.” ucapnya seraya mengusap lembut kepalaku.

Sampai sekarang pun, kala teringat saat itu, aku selalu berdebar bahagia.

“Aku menyukaimu, kak Gaara…” gumamku sambil memandang foto Gaara yang jadi wallpaper ponsel plip-ku. “Sekarang aku siswa Konoha. Jadi, aku bisa jadi pacarmu kan?”

Drrr… “Nee ki koe masu ka….”

Aku kaget karena tiba-tiba ponselnya berdering. Tambah terkejut lagi saat melihat nama ‘Gaara’ muncul dalam list.

“Whaaa~ kebetulan sekali…” riangku tak percaya. Buru-buru ku tekan tombol answer dan menjawab telepon itu,

“Moshi moshi…” ucapku dengan perasaan berdebar.

“Yo~ Sakura…” sahutnya.

“Ano~ senpai, ada apa?” tanyaku.

“Hmm, tidak. Aku hanya sedikit mencemaskanmu. Tadi siang aku pergi begitu saja tanpa mengantarkanmu langsung ke tempat kak Sasori. Aku takut terjadi sesuatu padamu. Misalnya kau tersesat atau apa gitu…”

Deg! …. Aku makin berdebar mendengarnya. Mencemaskanku? Gaara mencemaskanku? Kyaa~ aku ingin berteriak saking senangnya. Ternyata dia perhatian padaku. Sampai mengkhawatirkanku.

“Aah, tidak apa-apa kok. Aku tidak tersesat. Aku sampai ke rumahnya dengan selamat. Lalu….” Mengingat kembali kejadian tadi siang membuatku teringat pada Sasuke.

‘Aish, untuk apa aku mengingat orang itu segala.’ rutukku dalam hati.

“Ehm, pokoknya terima kasih ya kak, sudah repot mengantarkanku.” ucapku kemudian.

“Ya, sama-sama. Baguslah kalau begitu.” kata Gaara.

Hening sejenak.

“Kak Gaara…”

“Sakura…”

Eh?!… Secara bersamaan tadi kami saling memanggil. Membuat kami tertawa sesaat.

“Hehe, kebetulan sekali ya barusan.”

“Iya, aku juga.”

“Ada apa?”

“Bukan hal penting. Aku cuma mau bilang, oyasumi, hehe~…” kata Gaara. “Kau sendiri?”

“Ehm, itu… sebenarnya aku… ada hal yang mau aku bicarakan denganmu.”

“Tentang?”

Aku ingin bilang ini tentang kartu pelajar itu. Tapi rasanya tidak enak juga kalau dibicarakan lewat telepon.

“Itu, aku ingin mengatakannya langsung. Jadi bisakah kita besok bertemu sepulang sekolah?” tanyaku sedikit ragu.

“Sepulang sekolah?” Sejenak Gaara terdiam, “Ng, ya boleh saja.”

“Benarkah?” aku tak percaya.

“Iya, besok kau langsung saja cari aku di gedung barat ya?!”

“Iya.”

“Kalau gitu, udah dulu ya Sakura. Jaa~…”

“Jaa nee~…”

Pip… kututup kembali ponsel plip-ku.

“Yeah!” teriakku riang, sambil berjingkrak-jingkrak diatas kasur. “Aku menyukaimu, kak Gaara. Besok aku jadi pacarmu. Yeah!”

Aku benar-benar merasa senang. Sebentar lagi keinginanku kan terwujud. Penantianku selama empat tahun. Cintaku. Besok. Besok aku akan menyatakan perasaanku. Hatiku berdebar setiap kali mengingatnya.

“Wah… wah… wah… adikku jadi gila.” celetuk Sasori yang tanpa kusadari sudah berdiri di depan pintu kamarku sambil melipat kedua tangannya didada.

“Hmp, Nii-san…” aku berhenti berjingkrak dan sesaat merasa malu.

‘Apa barusan aku terlihat aneh?’ pikirku dalam hati.

“Jadi apa yang membuat adikku bisa sesenang ini, heuh?!” tanya Sasori seraya melangkah masuk kedalam kamarku. Memandang curiga padaku.

“Itu… barusan, ada yang meneleponku.” jawabku malu-malu.

“Siapa?” Sasori mengangkat sebelah alisnya. “Aaah, Sasuke ya.”

“Eeh, kenapa Sasuke?” aku sedikit cemberut. Mengembungkan sebelah pipiku. “Bukan dia. Enak saja.”

“Hmm, lalu siapa?”

“Gaara.” jawabku.

“Eh, Gaara?” Sasori tampak terkejut, “Mau apa dia? Kau masih sesenang ini cuma dapat telepon darinya?”

“Ya, tentu saja.” jawabku tanpa ragu. “Itu wajarkan, saat orang yang kau sukai meneleponmu, kau akan merasa senang.”

“Sakura…” Sejenak Sasori menghela, menatapku dengan tatapannya yang tak biasa.

“Ada apa, Nii-san?” tanyaku. Karena kulihat Sasori seperti ingin mengatakan sesuatu.

Tapi sebentar ku tunggu, kakakku itu hanya mendengus dan menggaruk-garuk kepalanya yang sepertinya tak gatal.

“Hmm, ya, itu lain kali saja kita bicarakan.” kata Sasori sambil berlalu.

“Ada apa sih?” pikirku menatapnya heran.

@@@

TBC……… next to chapter 5

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bachot Session from Author:

Yokatta~ chapter 4 publish (^-^)/

*prok…prok..prok…*

Maaf ya, telat. Tadinya mau dari hari minggu saya publish, jadinya telat mpe 2 hari.

Ini chapter emang banyak gangguan dalam pembuatannya. Mandeg ide, kurang inspirasi, ga ada waktu begadang, dan sialnya pas mau publish, modem mendadak error… *halah* … malangnya diriku (T-T)

Diluar dugaan isinya jadi panjang begini. GaJe pula. Abal-abal (sudah jelas). ha..ha..

Tapi tetep aja dirimu masih baca mpe kalimat terakhir dari bachot session ini..

Karenanya… Arigatou Gozaimasu m(_ _)m

Special for YaYak, sv3p, Kazunarilady, kimsongeum, dan kamu yang udan baca Fic ini tapi gak comment, comment dunk ah~ (^-^)/

Nah, klo gitu mpe ketemu di chap 5

Jaa~

17 Comments

Leave a Reply
  1. sebegitu inginkah untuk publish? sampe pagi-pagipun kak Fura relakan untuk posting chapter ini., bener g’,sih. publishnya pagi-pagi, kak?

    wah… sejak baca chepter 3 aku sudah menduga ada yang disumbunyikan oleh Sasori-nii, tentang Gaara. saat Sasori-nii berkata “Terus terang aku lebih suka kalau kau bukan dengan si bocah Suna itu.”
    Apalagi jawaban dari pertanyaan Sakura. “Aku benci melihat rambut merahnya yang seakan mau menyaingiku, haha~…” ucapnya sambil melengos pergi. itu seperti ia menghinadar dari petanyaan Sakura. (YaYak berpikir yang tidak-tidak)

    Kak, ada pertanyaan yang mengganjal, Kenpa Itachi-nii memanggil Sasuke dengan sebutan “My lovely baka-ototou” ?

    Wah.. Gomen, karena banyak bangetnya comment-ku., #wajah bersalah.,

    • haha~ malahan tadinya mau dari jam 3 pagi lho 😛 tapi ngantuk berat + ditunggu loading-nya lama banget… heu~
      *nyerah deh*

      hehe~ kira2 ada apa ya dengan Gaara 😀

      Oh, itu maksudnya, “adik bodoh ku sayang” ^-^

      Ga apa-apa ko banyak komen juga, jsutru saya senang 😀

      Sankyu~ udah baca ^-^

      • hehehe…

        Cocok tu jadi judul cerita, AADG (Ada apa dengan Gaara?) haha…

        Gomen… sebelumnya karena ada pertanyaan tambahan yg lupa ditulis tadi.
        kenapa waktu makan siang tidak terbaca kehadiran Kakuzu dkk., apa mereka udah pergi/pulang?.,

        tidak usah berterima kasih seperti itu, karena saya sangat tidak keberatan untuk membaca FanFic ini., 😀

        Wah… replay-nya kebanyakan lagi.,
        Maaf… maaf…

        • whahaha~ yang jadi misteri sekarang malah Gaara ^-^
          Jeli juga mpe merhatiin anggota Akatsuki lainnya. Sebenernya mereka belum pulang, cuma ga diceritakan coz jadinya bakal panjang banget chapter ini. Padahal rencananya mau munculin Pain ma Konan juga cuma saya skip bagian itu. Kebanyakan tokoh takutnya bagian SasuSaku malah jadi dikit.

          hihi~ ga pa pa ko banyak komen juga saya senang 😀

  2. iya tuh furaha pg” udah ngepost…
    td pg bca..tp bru bisa coment sekarang..

    misteri gaara pensaran????
    apakah tim sunna ada di cerita berikutnya…gaara punya pacar kah..apa gaara jd tukang pasir..he

    • Waah, makasih ya udah baca dari pagi pula 😀

      gkgkgk~ tebakanmu lucu ^-^
      Tim Suna kayanya enggak (mungkin) paling jadi cameo -numpang lewat-, haha~
      Ooh, cocok juga tuh jadi tukang pasir *dihajar*

  3. oia pas baca ini khan di rumah sakit…bt ga tw mw apa… trz lngsung buka blog fura..hore senpi suki 4 dah di post…langsung baca…pas baca senyum” sendirian …eh datang suster…lucu juga…di qra sakit’y nambah prah.senyum sendirian …haaaa makan’y ga langus coment.
    ups malah jd curh ga pa” khan

    oia tentang gaara terinspirasi sma karakter asli yg suka bawa gentong pasir…^.^

  4. kyaaaa…sasuke…kyaa…
    Suka banget sasusaku moment-nya banyak.. Aku kira sakura beneran mau kisseu sasuke. Wakakka~
    gaara udah punya pacar belum sih? Kenapa di chapter sebelumya dia bilang mau kencan? Dari pada penasaran, aku mau lanjut baca next chapter *poff*

  5. Woaaah makin seruu aja xD ckckck sasukeee mesum/? /apaini xD
    Apa yang mau dibicarain sama sasori???
    Apa jangan” gaaraa playboy? ‘-‘

One Ping

  1. Pingback:

Leave a Reply