CURCOL Author : GaJe GaPe ~ Memories of the past ~ Doki-Doki When Fu Met Asahi-kun

WARNING: DON’T LIKE DON’T READ

Author lagi iseng coba aplikasi baru wp di ponsel. Bingung mesti publish apa, dengan stress-nya curcol begini. GA PENTING. GAJE. GA SUKA GA USAH BACA. ISENG. CURCOL. BUKAN FANFIC.

Masih nekat baca? Hn, terserah lah ya…


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Aku berlari dengan nafas yang terengah-engah. Begitu sampai ke rumah Obaa-san, aku langsung menerobos masuk, membuka pintu tanpa permisi. Berhambur ke ruang TV, syukurlah tak ada siapapun yang lagi nonton. Ambil remote, pilih channel, Gorubaru TV, nonton Naruto.

Risa-san, sepupuku cuma melohok melihat tingkah lakuku yang heboh. “Ada apa sih ribut-ribut?” tanyanya.

“Ah, numpang ikut nonton TV ya.” Jawabku sambil mata tetap fokus pelototin TV 21’ itu.

“Emang kenapa sama TV di rumah?” tanya Risa heran liat kelakukanku kayak orang kampung yang baru pertama kali liat kotak kaca yang ada gambarnya gerak-gerak. Nonton dengan jarak 1 meter dari TV, duduk paling depan, takut ada yang ngalangin (padahal justru malah menghalangi). Norak abis.

“Heu… itu… soalnya di rumah ga boleh nonton Naruto.” Mataku yang awalnya sudah memerah kini kembali terasa perih dan berkaca-kaca, “Habisnya, dirumah, berantem sama Hikari, rebutan TV.”

Risa kian melohok, “Haa~… ga penting banget sih loe. Udah gede masih berantem rebutan TV sama adik mpe pundung gini?”

Aku malah tambah sedih, “Huu~… abisnya ini lagi seru-serunya. Ujian chunnin, orochimaru. Sasuke….”

Yaah, begitulah aku. Waktu itu penayangan anime di TV masih sangat langka. Dan Naruto masih awal-awal tayang jam 4 sore gitu (?) ya, ga begitu inget juga sih, pokoknya sore aja (yakin). Dan itu udah jadi tontonan wajib tiap hari. Ga boleh absen. Makanya sebelum mulai, aku selalu bersiap di depan TV. Duduk paling depan. Sembunyiin remote, dan memperingatkan orang-orang supaya tidak mengganggu ritual keseharianku ini. Pokoknya pliiisss, jangan ganggu barang 1 jam aja, cuma buat liat tampang keren Sasuke Uchiha, gkgkgkgk~…. Dan kelakuan norak seperti ini masih aku lakukan sampe sekarang, hehehe~…

Ok, back to the story again…

Singkatnya aku nangis dan curhat sama Risa, sepupuku yang terpaut umur 6 tahun lebih tua dariku. Dia sudah menikah dan sementara masih tinggal di rumah Obaa-san (nenek). Aku yang berantem sama Hikari-chan dilerai Okaa-san. Dan seperti biasa, dimana ada pertengkaran adik-kakak, pasti sang kakak-lah yang disuruh mengalah, juga malah kena omel.

“Dewasa dikit napa? Ga malu apa udah kelas 3 SMA kelakuan masih kayak anak kecil. Ga usah ganggu adik kamu.” Kata kaa-san.

“Siapa yang ganggu? Orang cuma mau nonton TV.” Kataku.

“Ya, kalo gitu gantian atuh. Sekali-kali ga nonton yang begituan kan ga apa-apa. Ga nonton juga ga akan bikin kamu mati.”

DZIG… jero pisan tuh kata-kata. Dan tanpa sadar airmataku pun mengalir.

“Ckckckck~…. Ya ampyuuun, ni anak, mpe segininya cuma karena Naruto doang. Ditangisi….” Lanjut Kaa-san, “Sana kalo mau nonton ke rumah Baa-san aja.”

Lalu, tanpa menunggu jeda iklan, aku langsung berhambur keluar. Sambil membawa rasa sakit hati ini, lari menuju rumah Baa-san yang cuma berjarak 5 rumah dari rumahku (deket banget). Sementara itu Hikari tersenyum menang, langsung ambil remote dan pindahin channel, anteng nonton FTV (jiaaaah T____T).

#flashback off

Risa-chan mendengus dan menggeleng pelan, “Huuuh, dasar loe tuh ya.” Matanya memandang dan mungkin berpikir seperti kaa-san — Cuma buat Naruto doang mpe mewek? ckckck~ —-, “Yaah, bibi Mae (nama ibuku) kan emang gitu. Sabar aja Fu. Lagian loe itu suka aneh, udah gede masih aja nonton kartun.”

“Ini anime, bukan kartun.” Kataku mengoreksi.

Risa mengangkat bahu, pandangannya seakan berkata, “Apa bedanya? Siapa peduli.” Lalu melengos keluar, meninggalkanku sendiri.

Aku menghela nafas panjang. Cemberut. Kuseka airmataku dan duduk sambil memegang kedua lutut. Mata kembali tertuju pada TV. Masih marah, sedih, dan sakit hati. Apa sih salahnya? Kenapa memangnya dengan aku yang udah gede (17 tahun) masih suka nonton anime? Ga boleh gitu? Dilarang? Yaah, ini terasa menyakitkan. Dikatai childish, freak, itu mungkin sudah biasa bagiku yang punya hobi terbilang aneh (dimata orang lain).

Tok tok tok… bunyi pintu depan diketuk.

“Permisi!” seru seseorang diluar sana.

“Fu, bukain pintunya dulu dong, tanggung lagi masak nih.” Teriak Risa dari dapur.

Cih, aku memandang sinis. “Ganggu aja nih tamu!” tukasku kesal. “Duh, apa ga bisa nunggu mpe jeda iklan dulu ya.”

“Euh, Fu-chan…. Dasar kamu tu ya.” Dengus Risa kesal. Tapi akhirnya dia melengos juga dan pergi tuk membukakan pintu depan.

“Khekhekhekhekhe~” aku tertawa puas. Ku bilang juga jangan ganggu aku kalo lagi nonton.

“Sini masuk dulu, tunggu bentar di dalam.” Samar-samar kudengar Risa mempersilahkan si Tamu masuk.

Dari ruang tamu ke ruang tempat ku menonton TV hanya disekat lemari kaca tempat hiasan porselen, guci, dan gelas-gelas antik koleksian nenek disimpan. Aku sedikit mendongakkan kepala, mengintip siapa tamu yang datang. Tapi tak jelas kulihat. Adegan pertarungan Sasuke vs Orochimaru yang lagi nyamar jadi ninja desa hujan kembali menggodaku tuk tetap memperhatikan TV (addict banget yah).

Risa tampak terburu-buru kembali, “Fu, tau ga dimana obeng?” tanyanya padaku.

“Hah?” aku melohok, meneketehe, “Ga tau. Biasanya ditaruh di kotak peralatan di gudang, kan?”

“Gak, kemarin abis di pake Toya.” Kata Risa.

“Jiah, klo gitu tanya aja ama Bang Toya.” Kataku. Toya itu suaminya Risa.

Risa kembali keluar menuju ruang tamu, “Aduh, maaf ya Asahi, Risa cari dulu.” Ehm, dia ngobrol lagi ma si Tamu.

“Eh, klo gak ada juga gak apa-apa kok nee-san.” Kata si Tamu –seorang cowok– dari suara yang kudengar.

“Risa-nee, kok ada bau-bau gosong ya?” teriakku.

“Ya, ampun, bakwan gue.” Risa lekas berlari lagi ke dalam menuju dapur.

Ck~ riweuh bener ni cewek. Padahal aku yang terlalu santai, bisa-bisanya tetap cuek sambil nonton TV liat sepupu sendiri sibuk gitu. Furaha kejam.

“Euh, ada apa sih dengan hari ini? rasanya aku sial terus. Tak bisa apa sedikit beri aku ketenangan untuk menonton film yang kusuka.” Dengusku lelah sambil perlahan mengencangkan volume TV.

Aku makin terpaku dengan adegan di TV sampai-sampai tak menyadari kalau sudah ada seseorang di belakangku.

“Whoaa~ Naruto…” teriak seseorang. Kaget juga aku, begitu mendongakkan kepala dan mendapati seorang pria asing berada dibelakangku, menatap TV dengan mata berbinar tak berkedip.

“Ini bukan DVD, kan? Sejak kapan tayang di TV?” tanyanya antusias.

Loading sesaat –aku masih kaget dengan kehadirannya— kami cuma saling berpandangan. “Eu… itu…udah lama kok. Udah sebulanan-lah.” Jawabku.

“KEREENNN~~” teriaknya antusias lagi, “Wah, pantesan udah sampai ke ujian chunnin lagi. Mana udah disegel gaib lagi si Sasuke.”

Eh, dia tau juga jalan cerita Naruto ya? Batinku, sedikit kagum. “Heu euh.” Aku mengangguk setuju.

“Tiap kapan nih ditayangin?”

“Senin mpe jumat jam 4.”

“Ooh.”

“Tayang satu jam lho, dua episode.”

“Wah, masa? Asyik tuh.”

Lalu tahu-tahu tanpa sadar cowok itu udah duduk di sebelahku. Sama-sama antusias memelototi TV. Sesekali aku curi-curi pandang padanya. Ni cowok aneh banget. Itu yang pertama ku lihat dalam dirinya. Baru pertama kali ini kutemui orang lain yang begitu antusias seperti ini terhadap anime selain diriku.

Tawanya itu loh, kaya anak kecil banget. Dia begitu bersemangat seolah-olah itu tontonan paling menarik yang dilihatnya. Melihatnya seperti itu rasanya seperti bercermin. Ko dia mirip gue banget???

“Ehem…” Risa mendehem mengagetkan, “Adeuuuh, lagi ngapain nih, nonton berduaan.” godanya.

Aku jadi rada salting. Si cowok itu juga, langsung bangkit dan berdiri.

“Eh, nee-san… maaf saya gak sopan masuk rumah sembarangan.”

“Lho, kan dari tadi juga nee-chan udah suruh kamu masuk. Oh iya, ini obengnya.” Kata Risa seraya menyerahkan obeng itu pada di cowok.

“Makasih nee-san. Kalau gitu saya permisi dulu.” Ucapnya seraya pamit dan melangkah pergi.

“Asahi-kun, kalau masih mau nonton silahkan aja.” Risa menawarkan.

Cowok itu sebentar menoleh menatap TV, “Ehmm, ga usah nee-san. Lain kali aja. Arigato~”

jiahaha~ pura-pura tuh. Terlihat dari ekspresinya yang sedikit kecewa, pasti dia masih ingin nonton. Sesaat cowok itu melirik padaku dan mengangguk, juga tersenyum. Aku juga cuma mengangguk dan tersenyum, memandang kepergiannya.

“Aih, cakep banget ya tuh cowok.” Seru Risa dengan nada genit. “Aduh kalo belom nikah udah gue samber tuh cowok.”

“Wah, bahaya. Bahaya. Gawat kalo Bang Toya tau.” Ujarku.

“Sstt… makanya jangan bilang-bilang.” Kata Risa sambil kedipin sebelah matanya.

Heee~ ni cewek asli apa bercanda sih?

HAAAHH?? Aku membelalak kaget. Entah dari kapan tahu-tahu lagu Wind-nya Akeboshi sudah mengalun lagi. Naruto-nya udahan…. OH NO!!! …. )^o^( *shock.

“Aarrg, sial. Kagak liat ending-nya tadi udah nyampe mana?” Dengusku kecewa.

“Alaaah, Fu-chan. Gitu aja diurusin. Besok nonton lagi aja.” Kata Risa santai sambil menyodorkan sepiring bakwan yang baru digorengnya. “Nih makan!”

“Hhhffff….” Dengusku sambil mencomot satu bakwan yang tak gosong. Menggigitnya dengan tak berselera.

Ah, tiba-tiba aku jadi teringat sama cowok tadi, “Risa-nee, yang tadi itu siapa?”

Risa mengernyit tak percaya, “Masa gak tahu?”

Aku menggeleng pelan.

“Anak yang baru nge-kos di paviliun depan. Namanya Hakuseki Asahi.”

“Haku… Hakuseki Asahi? Asahi… Asahi yang bikin heboh itu? Yang waktu itu nee-chan ceritain?”

“Iya, Fu-chan lemot. Emang yang mana lagi.”

Diam sesaat.

Hakuseki Asahi. Asahi-san. Aku pernah dengar namanya. Belakangan ini orang-orang di rumah kadang membicarakan orang yang bernama Asahi. Katanya mahasiswa baru yang ng-kos di paviliun rumah Baa-san itu cakep banget. Diceritakan seperti sosok pangeran yang terjun ke dunia masyarakat untuk belajar bersosialisasi. Saudara-saudara perempuanku, tetanggaku, semuanya sering membicarakan orang itu. Tapi aku tak pernah tahu siapa dia dan menganggap hal itu tak penting. Ngapain juga mesti ikut-ikutan ibu-ibu menggosip. Dan baru hari ini aku bertemu langsung dengan si Asahi itu.

“Hmm, gimana? cakep kan?” goda Risa lagi.

“Haaah… biasa aja. Cakepan juga pacar gue.”

“Hahahaha~… masa iya?” Risa tertawa, “Boro mau nee jodohin sama dia.”

“WHAAAT THE…..” cengangku.

“Gkgkgkgkgk~…” Risa makin ngakak, “Biasa aja lagi Fu, tampang loe. Kagak usah sekaget itu. Seneng kan, kalo bisa dijodohin sama dia?”

“Hiiii…. Jangan ngomong yang aneh-aneh. Siapa yang mau!” teriakku seraya bangkit dan pergi ke dapur.

Rasanya haus sekali. Tenggorokanku kering. Panas. Kusentuh kedua pipiku yang sepertinya memerah. Apa karena makan bakwan barusan ya? Atau?…. ……. mendadak satu bayangan wajah muncul di pikiranku. Si Hakuseki Asahi itu, yang tertawa seperti anak kecil saat nonton Naruto.

DEG

Whaaaa~…. Aku geleng-geleng mengenyahkan bayangan itu. “Duuh, bisa-bisanya aku berdebar cuma karena lihat senyumnya.”
.
.
.
-OWARI-
.
.
.
Wkwkwkwk~ lebay sangat…. Ko jadinya curhat ala fanfic gini ya ==a *garuk-garuk ga gatal* ya sudahlah. Ini kejadian udah berlalu 6 tahun, tapi kadang aku masih mengingatnya. Terutama tawa Asahi-kun yang heboh pas liat film Naruto. Mungkin ga bisa digambarkan dengan baik lewat tulisan. Aslinya sih dia mpe jingkrak-jingkrak, teriak heboh, “Woi, ada Naruto woi, di TV, ada Naruto.” Norak banget dan bikin aku melohok melihat kelakuannya. Tapi Asahi diatas kesannya lebih kalem ^^…

Walo kisah nyata ga se-lebay kaya diatas. Seperti Risa yang goreng bakwan, sama sekali ga ada di kenyataan. Tapi berantem sama Hikari itu nyata, dan kadang-kadang mpe sekarang saya juga masih suka begitu sama adik cewekku yang beda 7 tahun itu.

Memang apa yang salah dengan menjadi otaku? Kupikir menonton anime bukan sebuah keanehan untuk anak seusiaku. Entah orang lain berpikiran apa.

Kalau kenang kembali saat itu, aku suka kembali tersenyum. Kehadiran Asahi-kun dalam hidupku seperti datang tuk membalut luka sakit hati karena dikatai childish. Seperti mengulurkan tangannya, menarikku tuk bangkit, lewat kata-kata, “Gue juga suka anime kok. Loe ga sendiri, Fu. Jadi jangan bersedih.”

Sungguh ungkapan yang selalu membuatku bangkit.

Bagaimanapun juga walau kini kenyataannya kami berpisah, aku akan selalu ingat, “karena kehadirannya, diriku yang sekarang ini ada.”

🙂

24 Comments

Leave a Reply

                  Leave a Reply

                  Your email address will not be published. Required fields are marked *

                  This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.