HOLIDIE : 2

Cerita sebelumnya… Baca [Part 1]

-oOo-

Part: 2
Genre: Mystery/Friendship/Romance
Rate: Teen+
Length: 2.948 words

My First ORIGINAL FICTION, mwehehehe… ^w^)a

SO…
If you don’t like, don’t read.
But it’s all up to you…
Happy Reading
😀
.
HOLIDIE

Story by FuRaHEART
.
.
.

Tenonet… tenonet… tenonet…

Jantungku berdegup kencang saat ponselku tiba-tiba berdering. Seseorang dengan memakai private number menghubungiku. Apa mungkin ini dari ZEON? Cepat sekali kerja mereka. Padahal belum sampai setengah jam sejak aku menginformasikan nomor ponselku di e-mail yang kukirim ke alamat mereka. Sesaat aku merasa ragu antara harus mengabaikannya atau tidak. Tapi akhirnya dengan perasaan gugup, kuangkat juga ponselku.

“Ha—hallo?”

“Dixa.” panggil seseorang di seberang telepon sana.

Tak salah lagi, ini memang dari ZEON. Mereka langsung memanggilku sesuai nickname yang kutulis di e-mail. “I, iya….” jawabku.

“Kasus darurat ya, sekarang kamu ada dimana?” tanya si penelepon.

Aku berusaha mengingat-ingat nada dan logat bicaranya, berharap bisa mengetahui siapa yang menghubungiku atas nama ZEON ini.

“Hoi, dimana?!”

“Err, aku ada di Café Hotspot Plaza Gedung D.”

“Baiklah, seorang dari kami akan datang menemuimu di sana. Tunggu sekitar 30 menit lagi dan jangan kabur. Kau tahu akibatnya kan bila mempermainkan kami. Jangan bercanda dengan ZEON!” serunya dengan nada sedikit mengancam.

‘Tuut…. tuut…. tuut….’ pembicaraannya langsung terputus tanpa basa-basi.

Aku langung terhenyak seraya menutup ponselku dan meletakkannya di atas meja. “Apa tindakanku ini benar?” desahku lelah.

Tak bisa kupercaya akhirnya aku melakukannya, menghubungi ZEON. Setelah kupikir berulang kali ternyata aku tak punya pilihan lain selain meminta bantuan pada mereka. Dilema dalam hati memang tak bisa dihindari. Perasaanku bimbang antara berharap dan tak berharap ZEON akan membantuku. Berulang kali pula aku mempertimbangkannya. Akan ada konsekuensi yang harus kubayar setelah ZEON membantuku. Mungkin aku akan berterimakasih sekaligus menyesal karena telah melibatkan diri untuk berurusan dengan mereka. Pendapatku masih tetap sama, ZEON tak ubahnya seperti malaikat berhati iblis. Eh, emang ada?

Bayaran dari setiap masalah yang ingin kau selesaikan oleh ZEON tidaklah murah. Bukan berarti mahal secara materi, karena pada dasarnya mereka tak memungut biaya besar. Uang hanya dipungut untuk mengganti biaya pengeluarannya saja, sedangkan untuk biaya jasa mereka secara profesional tidak dibayar menggunakan uang. Anggota ZEON adalah mereka yang ahli dibidangnya masing-masing dan menganggap ZEON sebagai tempat untuk mencurahkan hobi mereka. Di bidang psikologi, ilmu teknologi, komunikasi, komputerisasi, akting, penulis cerita dan lain sebagainya. Uang bukan hal utama yang mereka cari. Secara naluri mereka semua selalu menikmati saat-saat bekerja sebagai ZEON, seolah hal itu bisa membuat kemampuan mereka semakin terasah.

Karena tak ada tarif khusus, jadi untuk membayar biaya kerja ZEON secara profesional dilakukanlah ‘perjanjian tanpa perjanjian’. Jasa dibayar dengan jasa. Seorang klien yang masalahnya sudah diselesaikan oleh ZEON, dirinya akan terikat kontrak untuk menjadi anggota bayangan ZEON. Ini semacam pertukaran. Statusnya sementara dan hanya terbatas sampai klien dianggap telah bekerja untuk ZEON sesuai dengan kerja ZEON untuknya. Mulai dari hal ringan seperti menggantikan mengerjakan tugas kuliah, kerja sambilan, pesuruh, tukang angkut barang, bodyguard, informan sampai dijadikan umpan dalam penyelidikan. Kebanyakan adalah hal-hal yang menguntungkan ZEON secara umum maupun secara pribadi bagi anggotanya.

Hal inilah yang membuatku tak menyukai ZEON. Terkadang mereka berbuat curang hingga klien bisa sampai terikat kontrak selamanya. Ditunjang dengan kemampuan penyelidikan yang hebat, ZEON bisa tahu rahasia terkelam, sisi buruk pribadi kliennya. Menggunakan rahasia untuk menyembunyikan rahasia itulah yang membuat keberadaan ZEON selalu samar di mata publik. Di satu sisi keberadaannya memang diperlukan tapi di sisi lain mereka juga merupakan ancaman. Meski tahu konsekuensinya, tetap saja banyak orang yang masih mempercayai mereka padahal tahu dirinya kelak hanya akan dimanfaatkan.

Bukan secara kebetulan aku mengetahui banyak hal tentang ZEON. Selain Seira, masih ada empat orang temanku yang lain yang menjadi anggota ZEON. Seno Gumilar dan Dara Pratiwi keduanya satu jurusan denganku di FISIP. Seno spesialis penyelidikan sedangkan Dara menjadi agen khusus bagian penyamaran. Naufal Fariz, kakak kelas Seira di jurusan psikologi yang juga teman dari cowok bernama Dika si anak Teknik Komputer. Khusus untuk Naufal dan Dika, selain karena keahlian mereka masing-masing, mereka adalah anggota terpenting ZEON. Termasuk kedalam lima agen elite yang merupakan pendiri ZEON.

Diluar pekerjaan teman-temanku itu sebagai ZEONers, hubungan kami cukup dekat dan terbuka. Meski begitu terkadang ada saat dimana aku merasa terkucilkan. Sendirian sementara mereka sibuk membicarakan masalah pekerjaan rahasia mereka. Sebenarnya aku sering diajak untuk ikut bergabung. Terutama oleh Seira sebagai sahabat terdekatku. Dika dan Naufal juga berpendapat aku punya potensi untuk berada di ZEON. Mereka tertarik pada kemampuanku berkomunikasi. Pandai bicara, bermulut pedas, jago berdebat dan sangat meyakinkan bila berbohong. Ugh, untuk yang satu itu sama sekali tak membuatku bangga. Cocok untuk menjadi seorang mata-mata―katanya. Meski dibujuk dengan cara apapun, aku selalu menolaknya karena jalan pikiran kami tak sama. Aku tak mau berurusan apalagi bergabung dengan organisasi bermuka dua seperti itu. Malaikat penolong sekaligus setan diktator.

Kukatakan pendapatku yang tak setuju dengan cara kerja ZEON. Mengikat klien dengan kontrak, mempekerjakan mereka dibawah ancaman merupakan perbuatan jahat dan tak bermoral. Ucapanku terkadang keterlaluan hingga menyinggung perasaan mereka. Sering terjadi perdebatan diantara kami yang berujung pada pertengkaran. Selanjutnya bisa membuat hubungan pertemanan kami merenggang. Seira, Seno, Dara dan Naufal mengerti akan sifatku dan tak pernah memperpanjang masalah ini. Mereka tipe orang yang cepat mengalah bila harus berdebat denganku. Tapi khusus untuk Dika, dia yang paling dendam. Satu-satunya orang yang bisa bertarung seimbang denganku. Sering kami berdua tak saling bicara atau sebaliknya saling meledek dan memperolok bila kebetulan bertemu setelah bertengkar.

“Ehem, Radix….” panggil seseorang dari belakang.

Aku terbelalak tak percaya saat melihat lelaki itu tiba-tiba muncul di hadapanku. Dari sekian banyak anggota ZEON yang kukenal, kenapa harus dia yang datang?!

“Hoi, kenapa kau terkejut melihatku?” tanyanya seraya menarik kursi di seberang mejaku dan duduk dengan santai.

Sesaat aku memang masih cengo. Perasaanku bercampur aduk antara malu dan juga emosi. Setelah memutuskan untuk menghubungi ZEON, harusnya aku bisa menduga hal seperti ini akan terjadi. Pertemuan kami disini sekarang seolah memang disengaja. Aku bisa merasakan ada maksud lain dari kedatangannya menemuiku atas nama ZEON.

“Dika? Jadi kau….” gumamku tak percaya

“Aku dari ZEON.” potongnya cepat, “Orang tak bernama. Lupakan aku sebagai kenalanmu, kita bicara bisnis.”

Ow, kukagumi sedikit profesionalisme-nya. Tapi aku benci melihat wajahnya yang menunjukkan keramahan palsu, tersenyum seakan meremehkan. Dalam hati pasti dia berteriak kegirangan, merasa menang dariku. Berbalik meminta bantuan ZEON setelah bersumpah tidak akan pernah berurusan dengannya itu sudah cukup membuktikan kekalahanku. Ah, kalau tak ingat aku butuh pertolongannya, mungkin aku sudah angkat kaki dari sini.

“Kami sudah dengar masalahmu. Jadi kau butuh pertolongan, eh?” Dika memangku wajahnya dengan tangan kiri, matanya memandang lurus ke arahku.

“He’em,” Aku mengangguk pelan, “Apa bisa?”

“Apa bisa apa maksudmu?” Dika malah balik bertanya seolah mengujiku.

Bibirku bergetar saking ragunya untuk berkata, “Ap―apa bisa kalian membantuku?” suaraku terdengar gugup.

“Maksudmu, apa bisa ZEON membantumu?” Dika menegaskan kembali pertanyaannya.

Sejenak aku menghela, kutatap wajahnya yang tersenyum seakan menantang. Ternyata dia memang sengaja ingin membuatku mengatakannya. Aku merasa kesal berada dalam situasi seperti ini. “Baiklah, apa bisa ZEON membantuku?” Argh, kubur saja aku dalam lubang saking malunya.

“Kau butuh bantuan ZEON? Hehehe…” Dika terkekeh, sepertinya dia benar-benar merasa puas. “Baiklah.”

Aku juga tertawa kecil, ikut merasa puas mendengarnya. “Sungguh, kalian bisa membantuku? Bagaimana caranya?” Akhirnya aku masih bisa berharap.

“Jangan senang dulu.” Dika berhenti terkekeh, wajahnya kembali serius. “Sebenarnya kami punya banyak cara untuk menyelesaikan masalahmu itu. Hanya saja mengingat waktumu terbatas hanya sampai besok, dan mengingat keterlambatanmu mengadukan masalah ini pada ZEON, maka tak ada cara lain selain harus melunasi tunggakan uang kuliahmu. Tapi maaf harus membuatmu kecewa, untuk yang satu itu ZEON tak bisa membantumu.”

“EKH?!” ZEON tak bisa membantumu… ZEON tak bisa membantumu… ZEON tak bisa membantumu… ZEON tak bisa membantumu…. Kata-kata itu terus saja terngiang di telingaku. Pikiranku mungkin kembali kacau, jadi tidak bisa langsung menangkap maksud perkataannya dengan baik. “Apa maksudnya? Bukankah kau bilang ZEON akan membantuku?”

“Kapan aku mengatakannya?”

“BARUSAN, BODOH!” ucapku penuh emosi. “Baiklah, ‘Baiklah’, tadi jelas-jelas kau mengatakannya!” Habisnya dia membuatku kesal. Langsung menghempaskanku jatuh setelah membuatku terbang melayang karena lega. “Kurang ajar. Jadi kau mempermainkanku, heh?!”

“Aku tak mempermainkanmu. Kata ‘Baiklah’ kan hanya sebatas ungkapan, sama seperti saat kau bilang ‘OK’ atau ‘it’s fine.’ Ketahuilah, ZEON tak bisa membantu masalah keuangan seseorang. Kasus seperti itu tergolong besar. Bisa saja sih kami melakukannya, tapi kau tentu tahu bagaimana kami bekerja, kami bisa menjadi lintah darat. Cukup mengerikan, bukan?”

“Lalu untuk apa kau datang? Untuk apa ZEON menjawab e-mail-ku? Bila tak bisa membantu, harusnya kalian abaikan. Jangan datang dan membuatku merasa tertolong tapi ternyata…” Aku menggeleng dan menatap Dika tak percaya.

“Habisnya kau itu teman kami.” jawab Dika, “Seira menceritakan semua masalahmu. Kau memang keras kepala, tetap tak mau meminta bantuan pada kami. Tapi sewaktu menerima e-mail darimu, kami senang akhirnya kau mau mempercayai kami. Kami sangat mengkhawatirkanmu, terutama Seira. Dia sampai memintaku supaya jangan mempermalukan dan memperolokmu setelah ini, hehehe….” Dika cengengesan, tapi kemudian langsung kembali berwajah serius begitu aku mendelik padanya. “Kau sudah mau mengirim e-mail dan berbagi masalahmu pada kami. Rasanya tak enak bila tak menanggapinya. Itu sebabnya aku datang kemari.”

“Jangan bercanda, dalam ZEON bukankah tak ada pertemanan?” balasku dingin, bikin Dika mati kutu, “Kau lupa, kita bicara bisnis sekarang.”

“Ah, itu… eu, sebenarnya….” Dika menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. “Iya sih, yang kau katakan memang benar.”

Diam sejenak.

“Sudahlah.” Aku mulai bersiap untuk pergi, “Kurasa sudah tak ada lagi yang perlu kita bicarakan.”

“Eh, tunggu dulu.” cegah Dika saat melihatku pergi, “Sebenarnya masih ada lagi….”

“Apa lagi?!” bentakku, entah kenapa tiba-tiba emosiku kembali naik. “Apa lagi yang mau dibicarakan? Jangan berdebat denganku sekarang! ZEON menyebalkan! Kau juga sama menyebalkannya, Radika jelek!”

“Heh, jaga bicaramu. Kau pikir kau ini siapa? Kau kan klien. Kau sendiri yang memanggil kami. Jangan buat kedatanganku kemari menjadi hal yang sia-sia.” balas Dika.

“Memang sia-sia kan, kehadiranmu sama sekali tak membantuku. Huuh….” kataku sembari melangkah pergi.

“Hei, Radix!” panggil Dika. Aku menoleh sesaat. “Pembicaraan kita belum selesai. Apa kau mau pergi tanpa membawa ini?” Tadinya hendak kuhiraukan saja kata-katanya, tapi Dika keburu memperlihatkan sesuatu yang mengejutkanku. “Kau mau ini tidak?” lanjutnya seraya menyodorkan sebuah kartu berwarna kuning.

“HAH?!” Aku terbelalak tak percaya, “Itu…. Mustahil, kenapa, kenapa bisa?” Tak bisa kupercaya saat aku melihat kartu ujian atas namaku berada di tangannya.

“Bisa dong!” seru Dika sambil terkekeh.

Aku kembali menghampirinya. Perasaanku senang sekali sekaligus benar-benar terharu sampai ingin menangis saking bahagia. Ternyata aku salah tentang ZEON, mereka memang teman-temanku yang baik. Aku tertolong. Sekarang aku mengerti perasaan orang-orang yang datang menemui ZEON. Aku benci mengakuinya, keberadaan mereka memang dibutuhkan. Dasar Dika bodoh, ternyata dia tadi mempermainkanku.

“Hohoho, kartu ujianku….” Kuulurkan tanganku hendak meraihnya tapi Dika dengan cepat mengambilnya kembali.

“Eits, enak aja langsung ambil.” ejeknya. “Ini gak gratis, bu. Syarat dan ketentuan berlaku.”

“WHAT THE?!” Harusnya aku tak perlu kaget saat dia mengatakan hal itu. Ternyata ZEON memang ZEON. Karena tadi aku terlalu bahagia, aku sampai melupakan sisi jahat dari ZEON. Mereka tidak tulus dalam menolong orang lain, ada harga yang harus kau bayar untuk kerja mereka karena telah membantumu.

“Jangan lupa, kami ini ZEON.” lanjut Dika, sedikit mengangkat sudut bibirnya. Sekali lagi memperlihatkan senyum yang kubenci.

Aku hanya mengangguk-angguk pelan. “Ya, tentu saja aku tak akan lupa.” Begitu besar yang mereka lakukan padaku tentu harga yang harus kubayar juga tak ringan. Kebahagiaan yang kurasakan ternyata hanya sesaat, langsung berganti dengan perasaan cemas sekaligus pasrah. “Eh, tapi tunggu sebentar. Bagaimana kalian bisa mendapatkannya? Bukankah ZEON tak mau menangani masalah keuangan. Apa jangan-jangan kalian memalsukannya?” tanyaku heran sekaligus penasaran.

“Membuat kartu ujian palsu memang memungkinkan. Itu bisa dijadikan sebagai cara terakhir, darurat bila benar-benar tak ada lagi yang bisa dilakukan. Apalagi bagi kami itu adalah hal yang mudah. Tapi konsekuensi membuat barang palsu sangat besar. Kami tak ingin kau jadi terlibat dalam masalah lain. Bisa-bisa justru akan membuat ZEON ikut terseret. ZEON tak mau mengambil resiko seperti itu. Tadi sudah kubilang kan, satu-satunya cara penyelesaian dari masalahmu memang terpaksa harus melunasi tunggakan uang kuliahmu.”

Dika lantas menyodorkan selembar kertas lainnya lagi padaku. Dia kembali membuatku terkejut saat kulihat dia memiliki bukti kwitansi tanda pelunasan uang kuliah. Tak bisa kupercaya ZEON sampai melakukan hal ini untukku. Uang lima juta langsung dibayar kontan tak lebih dari 15 menit setelah aku mengirimkan e-mail pada mereka. Ini sungguh diluar dugaan. Tadinya kupikir yang akan mereka lakukan untukku tak lebih dari memintakan surat dispensasi lewat jaringan koneksi yang mereka miliki.

“Tapi seperti yang kau ketahui, ZEON tak menangani masalah keuangan. Karena itulah, sebenarnya kartu ini bukan dari ZEON.” lanjut Dika.

“Apa maksudmu? Kalau bukan dari ZEON, lalu dari siapa?” tanyaku penasaran.

Dika menyunggingkan bibirnya, “Dariku.”

“HEE?!” Aku tercengang, terlalu banyak keterkejutan yang dia berikan padaku hingga membuatku tak tahu harus memasang wajah seperti apa lagi. “Mustahil. Tak mungkin demi aku, kau sampai….”

“Aku yang melunasinya. Aku yang menebus kartu ujianmu. Dan karena aku yang menolongmu, maka kau jadi terikat kontrak denganku secara pribadi.”

“Kontrak secara pribadi?” tanyaku kembali yang langsung dijawab dengan anggukan mantap dari Dika, “TIDAAAAAAK!” cengangku tak percaya.

Kalau bekerjasama dengan ZEON saja kau sudah diperlakukan semena-mena, apalagi oleh Dika, itu lebih mengerikan lagi. Lagipula sepertinya dia memang sengaja melakukannya untukku. Kurasakan ada aura penuh rasa dendam dalam dirinya. Aargh, yang seperti ini sih namanya bukan pertolongan. Gali lubang, tutup lubang. Lunas dari tunggakan uang kuliah, eh, sekarang malah berhutang pada lintah darat.

“Tidak bisa. Ini bukan dari ZEON, jadi tak ada yang namanya perjanjian tanpa perjanjian atau semacamnya. Kau tak bisa melakukan hal itu padaku!” lanjutku.

“Tentu saja bisa. Kau meminta tolong pada ZEON, untuk itulah aku datang menemuimu. Meski bukan ZEON yang membantumu, tapi aku ZEONers. Jadi terserah padaku bagaimana aturannya. Hahaha….”

Mendengar tawanya semakin membuatku muak. “Hei, apa tak bisa kita lakukan bisnis sebagai sesama teman saja?” bujukku, “Aku hanya perlu melunasi hutangku padamu. Akan kubayar uang lima juta yang kau pinjamkan.”

“Dalam bisnis tak ada pertemanan, Ra-di-xa.” Dika berhenti tertawa, “Aku tahu nilai-nilai UTS-mu kemarin sangat bagus. Sayang sekali jika kau sampai tak ikut UAS kali ini. Itu bisa jadi hal yang sia-sia. Atau kau lebih memilih mengulang kembali mata kuliah yang sama di tahun depan? Tunggakanmu sudah kulunasi. Kartu ujian juga sudah ada padaku. Tak ada lagi yang bisa kau lakukan sekarang. Bisa saja kau tak mengambilnya. Terserah. Jadi bagaimana keputusanmu?”

Menyebalkan. Menyebalkan. Kurang ajar. Dia benar-benar jahat. Licik. Sampai menyudutkanku seperti ini. Tapi yang dikatakannya memang benar. Aku kesal sekali. Benci pada diriku yang sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dika menatapku, menantikan jawaban. Aku benci melihat senyum di wajahnya semakin melebar.

“Heh, mau diambil tidak?” tanyanya dengan nada menantang.

Sejenak aku menghela dan dengan berat hati akhirnya kuulurkan juga tanganku, “Kuambil!” desahku pasrah.

“HAHAHA,” Tawa Dika terdengar semakin keras. “Pilihan bagus, Radixa. Sebaiknya kau tak menyesal.”

“Huuh, kalau menyesal sih sudah dari awal.” gerutuku. “Lalu syaratnya? Jangan-jangan kau bermaksud menjadikanku sebagai anggota ZEON?”

“Memangnya kau mau?” Dika malah balik bertanya. Dia tautkan alisnya, “Tahu diri juga kau sekarang. Setelah ditolong oleh ZEON akhirnya kau mau mengakui keberadaan kami.”

“Tentu saja tidak. Aku tetap tak sudi. Lagipula bukan ZEON yang telah menolongku. Kau sendiri kan yang tadi mengatakannya.”

“Yup, kau benar. Sepertinya kau mulai mengerti. Menjadikanmu anggota ZEON? Hmm, aku sempat berpikir begitu. Bagaimanapun juga aku masih tertarik pada potensi yang kau miliki. Tapi, kurasa itu tidak sekarang. Menjadikanmu anggota ZEON sepertinya kurang menyiksa, meskipun aku yakin secara batin kau akan sangat tertekan.”

“Hah, kurang menyiksa kau bilang? Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?”

“Hmm, apa yah? Aku masih belum tahu. Yang jelas aku punya permintaan lain padamu.”

“Apa itu?”

“Ng, itu sebaiknya kita bicarakan nanti saja.”

“Kenapa tak sekarang saja, kau tak ingin membuatku terkejut lagi, eh?”

“Tidak. Kalau kuberitahu, aku takut kau kena serangan jantung.” Dika terkekeh, “Maaf tapi aku harus pergi sekarang. Nah, Radixa, good luck for exam. Jangan bebani pikiranmu dengan hal yang tak perlu. Itu bisa membuatmu gagal. Aku tak mau pengorbananmu untuk mendapatkan kartu ujian ini menjadi sia-sia. Kau juga berpikir begitu, kan?”

Aku hanya kerucutkan bibirku, masih menatapnya kesal.

Dika bangkit dari kursinya, tubuhnya tinggi sekali sampai-sampai aku harus mendongak saat melihat wajahnya. “Setelah selesai ujian saja baru kita bicara. Yang pasti, kuharap kau tak punya rencana di liburan tahun ajaran kali ini.” lanjutnya sebelum pergi.

“Apa maksudmu?” tanyaku tak mengerti.

“Tenang saja, bukan sesuatu yang berat kok.” Dika segera berjalan meninggalkanku. Tapi baru beberapa langkah, lelaki itu sejenak berbalik. “Ah iya, karena kita berteman, aku akan memberimu diskon.”

“Diskon? Untuk apa?”

Lelaki berparas cukup tampan itu menatapku sambil nyengir, “Hutangmu tak berbunga. Tetap lima juta. Jangan lupa dibayar, yah?!”

“Hiiiihh, Itu sih bukan diskon!” teriakku. “Memangnya kau lintah darat sampai harus ada bunganya segala? Menyebalkan! Aku tak mau lagi ditolong olehmu.”

Dika gendikkan bahunya dan berpaling, berjalan mengacuhkanku. Meski dia telah pergi dari hadapanku, aku masih bisa mendengar tawanya yang mengejek terus terngiang. Aku tak tahu selanjutnya akan bagaimana, entah apa ini akhir dari masalahku atau justru awal dari masalah lain yang lebih berat. Tapi sungguh, dalam hati aku tetap berterima kasih. Kuakui kebaikannya padaku.

“Hhh~… setidaknya sekarang yang penting aku bisa ikut UAS.” ucapku sambil memandang kartu ujian yang sekarang ada di tanganku.
.
.
.
Bersambung ke HOLIDIE : 3
.
.
.


Bacotan Author:

Hoo~ ga nyangka bakal dilanjut juga ini cerita usang yang lama mendekam dalam draft. Berhubung sekarang udah nemu judul yang pas buat orific satu ini. Asalnya kan pernah publish dengan judul UNTITLED (karena blom dapet judul) tapi sekarang ganti jadi HOLIDIE diambil dari kata ‘HOLIDAY’ tapi ‘DAY’-nya jadi ‘DIE’ coz liburan yang akan di alami Radix (yang asalnya bernama Kalila dan gw ganti jadi Radixa) ternyata tak seperti yang dia bayangkan, fufufu… emang bakal ada apaan? *stop spoiler* Baca aja lanjutannya yang gak bisa janji kapan bakal publish, wkwkwk #plak

Special Thanks for commenters HOLIDIE : 1

Marshanti Lisbania Gratia, chii, Raditya, dan kamu silent readers

Buat yang udah baca, ada yang ingin disampaikan silakan komen saja seperti biasa. Reader yang baik adalah yang komen, hehe XD *ky’y dah lama gw ga nulis kalimat ini

6 Comments

Leave a Reply
  1. Cerita’a bru smua.. Bngung mau baca yg mna hehe.. 🙂
    Lanjutinya kak.. 🙂
    #lumayan_suka ama crita’a

    • udah lumayan lama juga ko, cuma karena ini orific jadi kurang peminat mungkin, hehe
      makasih udah baca n komen 🙂 iya nanti mau dilanjutkan lagi

One Ping

  1. Pingback:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.