HOLIDIE : 3

Cerita sebelumnya… Baca [Part 1] [Part 2]

HOLIDIE

horror-dark_00418553

Part: 3
Genre: Mystery/Friendship/Romance
Rate: Teen+
Length: 4.287 words

ORIFIC pertama gue, mwehehehe… ^w^)a

SO…
If you don’t like, don’t read.
But it’s all up to you…
Happy Reading
😀

Story by FuRaHEART

.

.

Pagi ini aku terbangun dengan kepala sedikit pening dan sebelah leher terasa pegal. Pasti karena semalam posisi tidurku tak benar. Padahal aku masih ingin berbaring lebih lama tapi suara ketukan pintu yang terdengar kasar itu mulai menggangguku. Awalnya bisa kuhiraukan, tapi karena terus menerus digedor seperti ini bisa-bisa orang asing yang berada di luar sana malah tak sungkan untuk mendobraknya. Maka dengan perasaan kesal akhirnya kusibakkan juga selimut hangat yang menyelubungiku dan berjalan malas menuju pintu.

Kuseka cairan bening disudut bibirku dengan ujung lengan piyama dan sedikit merapihkan rambutku dengan jari. Semoga saja tamu yang datang bukan orang penting. Karena penampilanku saat ini sama sekali tak terlihat sopan. Dan benar saja, saat kubukakan pintu, seorang gadis cantik bertubuh mungil dan lelaki berpenampilan urakan menyeringai.

“Pagi!” sapa Seira dan Dika berbarengan.

“Pa—pagi juga.” balasku sedikit kaku. Mendadak kantukku langsung hilang, aku tak tahu harus masang tampang seperti apa saat melihat mereka sekarang. Terutama pada Dika. “Ada perlu apa kalian datang kemari?” tanyaku.

“Nagih hutang dong!” jawab Dika dengan nada dingin dan tampang sinis.

“HUWAAA….”

BRAKK….

Tanpa sadar aku berteriak dan langsung menutup pintu. Tak kusangka Dika akan datang secepat ini untuk menagih hutangku. Bagaimana ini, aku sama sekali tak punya uang untuk membayarnya. Sekedar untuk menyicilnya pun tak punya. Aku jadi panik sendiri.

“Hei, hei, Radix….” panggil Seira, “Bercanda kok, bercanda. Ayo, buka pintunya!” bujuk gadis itu sambil menggedor-gedor pintu kamarku lagi.

Perlahan aku kembali membukakan pintu untuk mereka, “Sungguh kalian tak datang untuk menagih hutang?”

“Bercanda, dix. Apa-apaan sih sikapmu itu?” Tanpa memedulikanku Seira langsung menerobos masuk ke dalam kamar.

Cahaya matahari jam sembilan pagi menyilaukan mataku ketika gadis itu menyibakkan tirai yang masih menutupi jendela. “Ish, dasar pemalas. Keterlaluan. Kau sungguh baru bangun tidur sekarang?” gerutu Seira. “Karena kau tak juga muncul di tempat pertemuan makanya kami kemari. Meski sekarang sedang liburan, jangan biasakan bangun kesiangan gini dong!”

Aku hanya terdiam sambil kerucutkan bibirku mendengarnya mengomeliku. Yup, Ujian Akhir Semester sudah berakhir sejak dua hari lalu. Sekarang kami semua sedang menikmati masa-masa liburan panjang. Awal kuliah semester depan masih sekitar dua bulan lagi. Mahasiswa-mahasiswa lain dari luar kota kebanyakan sudah pulang ke tempat asal mereka.

Aku juga. Aku pun harusnya pulang. Tapi itu tak mungkin. Masih berkaitan dengan musibah yang baru saja menimpa keluargaku, kebakaran itu ternyata merengut banyak harta keluarga kami. Terakhir kali aku menanyakan kabar ibuku, berliau dengan tersedu-sedu kembali menceritakan kondisi keluarga kami yang kesusahan. Lalu karena tak dikirimi uang untuk pulang, aku jadi terpaksa tetap tinggal asrama ini. Lagipula sepertinya di sini pun aku masih punya urusan.

Aku mendelik pada Dika, masih curiga kedatangannya kemari pasti untuk menagih hutang.

“Kenapa kau menatapku begitu?” tanya cowok itu tiba-tiba, “Kau pikir aku benar-benar datang untuk menagih hutang?”

Deg

Aku melohok tak percaya. Mustahil. Bagaimana bisa dia menyadari apa yang tengah kupikirkan. Tentu saja karena aku memang berhutang padanya. Lima juta bukan uang sedikit yang bisa begitu saja dilupakan. Apalagi sampai dipinjamkan pada orang lain, meskipun itu temanmu sendiri. Yah, kalau aku sih pasti akan berpikiran begitu. Lagipula sebenarnya aku masih penasaran dengan uang yang Dika pinjamkan padaku. Dari mana dia mendapatkannya? Apa anak urakan ini ternyata tajir? Aduh, halal tidak yah. Kenapa juga dia sampai berbaik hati menolongku? Eh, masa sih kalau Dika ternyata suka… Tunggu dulu! A—apa yang kupikirkan? Jangan berpikir macam-macam, bodoh?!

“Bodoh! Heh, Radix jelek, kau tidur sambil berdiri?” ucap Dika sambil mengibaskan tangannya di depan wajahku, “Jangan melohok seperti orang idiot begitu dong. Tampangmu tambah jelek!”

JDUG…. langsung saja kusikut hidungnya hingga Dika meringis kesakitan. “Jangan sembarangan mengataiku jelek. Kurang ajar!” balasku. Meski seranganku barusan tak memakai tenaga, tapi itu pasti membuatnya ngilu.

“Masih mending kukatai jelek. Itu sedikit lebih baik daripada….” Dika melangkah maju mendekatiku, melipat kedua tangannya dan memandang sinis. Hidungnya yang mancung terlihat memerah. “Busuk.”

“Kau, beraninya….” desisku.

“Heh, hei, cukup! STOP!” teriak Seira langsung menengahi kami sebelum terjadi pertumpahan darah, “Sesama orang jelek dilarang saling memaki. Jangan berbuat konyol, ok?!”

Aku dan Dika masih saling melotot. Tetap tak mau kalah. Seira menyela di antara kami berdua dan langsung mendorong aku dan Dika agar menjauh. Dia pasti berpikir kami akan benar-benar berkelahi, sampai harus secepatnya dipisahkan. Yah, tindakannya itu tak salah. Sebelumnya pernah ada kejadian aku dan Dika bertengkar dan berkelahi sampai adu jotos. Waktu itu aku cukup puas telah berhasil memukul Dika dengan keras sebanyak tiga kali. Dika sendiri tak pernah benar-benar menganggapku sebagai wanita. Karenanya hal yang terburuk pun bisa saja terjadi bila kami berdua bertengkar.

“Tch!” dengusnya sambil berlalu, “Dikatai begitu sama orang cantik, nafsu membunuhku langsung sirna.”

Aku menghela, “Yup, aku juga tak mau bertengkar karena hal sepele. Berkelahi sekarang hanya buang-buang tenaga dan bikin perut lapar.”

Kruyuuk….

Sontak bunyi perutku terdengar keras sekali. Benar-benar memecah ketegangan yang ada. Karenanya kami bertiga jadi tertawa kemudian.

“Hahaha, dasar kau ini…”

“Ngomong-ngomong soal lapar, nih….” Dika menyerahkan bungkusan plastik padaku.

Aku mengernyit dan memandang heran saat menerimanya. Begitu kubuka ternyata ada sekotak nasi bungkus dengan menu lengkap didalamnya.

“—buat sarapan.” lanjut cowok itu singkat sebelum aku sempat bertanya kembali.

“Wow,” Aku sedikit takjub. “Ada apa ini? Kok tiba-tiba…”

“Kau bangun kesiangan, kan? Pasti belum sarapan, makanya kami bawakan ini spesial untukmu.” kata Seira sambil tersenyum.

“Tumben.” ucapku sambil tersenyum simpul, tapi pura-pura sinis. “Jangan-jangan makanan ini sudah basi. Atau sudah diberi racun.” kataku sambil membaui makanan itu, memastikan kondisinya. Maklum saja, karena Dika yang memberikannya jadi patut kucurigai.

“Ya ampun. Itu kan gak mungkin.” bantah Seira.

“Ya sudah kalau kau tak mau…” Dika menyerobot dan langsung merebut kembali bungkusan itu dari tanganku, “Orang sudah berbaik hati, tapi kau tak mau menerimanya. Jangan curiga begitu padaku. Ini dari Seira tahu. Kalau tak mau, ya sudah tak perlu dimakan. Untukku saja. Meski tadi sudah sarapan, tapi aku masih sanggup kok makan satu porsi lagi.”

“Eit, siapa yang bilang tak mau?!” Buru-buru kurebut kembali bungkusan itu, “Tak sopan, mengambil kembali barang yang sudah diberikan pada orang lain.”

“Kalau begitu mana ucapan terima kasihnya?”

Aku nyengir, “Thanks, sobat.” kataku sambil melengos hendak mengambil piring dan sendok.

Namun Seira buru-buru menarikku, “Jangan jadi cewek jorok! Masa bangun tidur langsung makan? Sana mandi! Atau setidaknya cuci dulu mukamu itu!” Dia langsung melemparkan handuk yang tergantung di belakang pintu padaku.

“Aaah, iya, iyaaaa…”

Meski malas tapi kuturuti juga sarannya. Karena kupikir ini sudah terlalu siang untuk mandi, maka hanya kubasuh wajahku sekadarnya dengan Facial Foam dan menggosok gigi. Begitu kembali ke kamar, kulihat Seira sedang merapihkan ranjangku. Gadis itu memang tak bisa tenang berada di tempat yang berantakan. Barang-barangku yang asalnya berserakan di lantai pun sudah dia rapikan kembali ke tempat semula. Sejujurnya dibandingkan diriku sendiri sebagai penghuni kamar ini, Seira lebih sering membereskan kamarku.

Hobi gadis itu mungkin sedikit aneh. Bersih-bersih. Aku tak mengerti dengan apa yang ada dipikirannya. Tanpa perlu disuruh dan mengeluh, Seira selalu membereskan apa yang menurutnya kotor dan berantakan dengan senang hati. Dia juga sangat memerhatikan penampilannya, itu sebabnya dia selalu terlihat cantik dan rapih dimanapun dia berada. Tubuhnya selalu bersih dan wangi. Sedikit riasan natural di wajahnya yang tirus dan rambut hitam panjangnya yang dibiarkan terurai menambah keanggunan dalam diri gadis itu. Dan kalau kamarku saja yang sesekali dia bereskan sudah tampak rapih seperti ini, bagaimana dengan kamarnya? Mungkin bisa disebut sebagai Ruangan Steril, dimana tak ada sedikitpun debu dan kotoran yang menempel. Sungguh seorang gadis yang pintar mengurus diri dan lingkungan sekitarnya. Beruntung aku memiliki sahabat seperti Seira.

Tapi lain dengan Dika, seolah menjadi kebalikan dari Seira, dia itu lelaki yang super jorok. Walau punya paras cukup tampan tapi penampilannya urakan. Rambut selalu dibiarkan berantakan, memakai kaos dekil yang mungkin jarang dicuci juga celana jeans belel yang sudah robek disana-sini dan sepatu kets yang tak kalah butut. Dika memang cuek soal penampilan. Kadang dia bau keringat karena malas mandi. Kumis dan jenggot tipis juga dibiarkan tumbuh menghiasi wajahnya yang entah kenapa sama sekali tak ada noda jerawat yang berbekas meskipun jarang cuci muka. Lelaki bertubuh tinggi ideal itu sebenarnya lumayan menarik kalau saja dia mau sedikit mengurus diri. Hobinya juga cukup menyebalkan, kalau Seira bagian kerapihan, Dika justru paling suka mengotak-atik barang orang lain seenaknya.

Seperti sekarang, tanpa seizinku dia sudah menyalakan komputer dan mengotak-atik program didalamnya. Untuk yang satu ini aku tak perlu merasa khawatir. Dia seorang mahasiswa Teknik Komputer, cukup ahli di bidang ini dan tahu apa yang dilakukannya. Terkadang kupercayakan komputerku padanya untuk diisi berbagai program. Tapi hanya sebatas itu saja dia berguna untukku. Aku masih tetap tak suka bila dia sembarangan membuka dokumen pribadiku bahkan membaca buku harian yang kusembunyikan yang entah kenapa selalu saja ditemukannya atau mengobrak-abrik lemari koleksi buku, novel dan komikku.

Lupakan sejenak mereka berdua. Rasanya air liurku mulai menetes. Yang jelas aku benar-benar sudah tak sabar lagi ingin segera menyantap habis sekotak nasi bungkus menu lengkap yang ada dihadapanku. Semuanya makanan kesukaanku, ayam goreng bumbu pedas, sambal goreng ati, perkedel jagung, sayur capcay beserta lalapan dan sambal terasinya. Tentu saja yang paling kuinginkan dari semua itu adalah butir-butir beras yang sudah ditanak hingga menjadi nasi. Tak perlu menunggu lagi, kusendok sedikit dan mulai melahapnya.

“MAKYUUUUSSSS!” Jiwaku sesaat melayang, serasa sedang menari bersama kupu-kupu di tengah ladang bunga. Oke, ini lebay. “Nasinya ditanak dengan pas. Dagingnya begitu empuk dan bumbunya juga meresap hingga kedalam.” Sungguh benar-benar terasa nikmat, lambungku yang berhari-hari hanya diisi mie instant pun setuju akan hal itu. Bolehkah aku menangis saking senangnya?

“Wakakakak…”

“Eh, kenapa?” Aku baru sadar kalau Seira dan Dika memerhatikanku sambil tertawa-tawa.

“Kau pikir kau pemandu acara kuliner, eh?” sindir Dika.

“Memangnya ada yang aneh?” tanyaku tak mengerti.

“Duh, Radix sayang. Asupan gizimu belakangan ini pasti kurang. Baiklah, aku akan sering mampir atau menraktirmu makan enak deh mulai sekarang.” ucap Seira dan memelukku dari belakang.

“Hoi, sudah cukup. Tak perlu sampai seheboh itu.” jawabku cuek. Mencoba bersikap biasa padahal aslinya aku malu sekali. Ini kan memang bukan acara kuliner,  sikapku tadi memang aneh dan berlebihan hanya untuk sekedar nasi bungkus. Menyedihkan. Aku benar-benar terlihat menyedihkan. “Sudah sana, jangan pedulikan aku. Kembali lakukan saja apa yang sedang kalian kerjakan.”

Tak butuh waktu lama bagiku untuk menghabiskan semua makanan itu. Satu jam kemudian kami bertiga duduk melingkar diatas karpet merahku yang sekarang sudah bersih disapu Seira. Meski suasana dibuat senyaman dan sesantai mungkin, tapi tetap saja aku merasa sedikit gugup. Aku masih bertanya-tanya tentang kedatangan Dika kemari. Apalagi sampai membawa Seira yang biasanya berperan sebagai penengah bila sampai terjadi pertengkaran antara kami. Melihat gelagat mereka berdua yang saling berpandangan, merasa ragu untuk memulai pembicaraan ini semakin membuatku curiga.

“Ada apa sebenarnya?” tanyaku membuka pembicaraan. “Kalian berdua datang bukan sekedar untuk bermain denganku, kan? Atau berkunjung untuk menjengukku. Huuh, menggelikan. Katakan saja. Aku tak akan terkejut.”

Dika terkekeh, “Yakin, kau tak akan terkejut?”

“Kalau aku pasti akan terkejut.” timpal Seira.

“Tuh, kan.” Dika mengiyakan.

“Iya, makanya, cepat katakan ada apa? Sebelum aku benar-benar penasaran nih.” desakku. “Tadi kau bilang bukan datang untuk menagih hutang tapi sebenarnya mau menagih hutang, kan?”

“Iya.” jawab Dika dan itu langsung bikin aku down. “Tapi bukan uang yang aku minta.”

“Hah?” Aku melohok tak mengerti.

“Karena aku tahu kau masih belum bisa membayarnya sekarang.” lanjut Dika, “Jadi aku berikan syarat lain untuk melunasinya.”

“Oh, syarat itu… jadi kau kemari untuk memberikan syarat itu?”

“Bagus. Ternyata kau masih ingat kesepakatan kita.”

“Ugh, tentu saja aku ingat. Namanya juga aku berhutang padamu.” ucapku sembari menundukkan kepala. “Jadi apa maumu?” Sekarang aku benar-benar pasrah apapun syarat yang diberikan Dika.

“Begini, sebenarnya aku butuh sedikit pertolongan darimu.” Nada bicara Dika terdengar cukup serius.

“Pertolongan? Kau butuh pertolonganku?” tanyaku heran, “Apa tak salah? Kau pikir dirimu itu siapa sampai meminta pertolongan padaku. Kau kan seorang ZEON, kenapa justru harus repot-repot meminta pertolonganku? Bukankah ZEON itu solusi semua masalah? Selesaikan saja sendiri. Huh, aku tak mau menolongmu.”

“Ih, kata-katamu itu keterlaluan sekali. Menyebalkan. Memangnya aku mau minta tolong padamu.” balas Dika.

“Hei, kalian, sudah cukup!” Sekarang aku mengerti kehadiran Seira memang berperan sebagai penengah kami. “Dika, kau butuh Radix. Radix, kau berhutang pada Dika. Jadi agar masalah kalian berdua selesai, tolong redam dulu ego kalian berdua masing-masing, okay?”

“Baiklah. Baik.” Aku pun mengalah, “Lalu apa maumu sebenarnya?”

“Tunggu sebentar…” Dika mengubek-ubek tas ranselnya mencari sesuatu, “Aduh, dimana ya?”

Dia mulai mengeluarkan seluruh isi ranselnya yang penuh dengan berbagai macam barang yang bagiku terlihat seperti gundukan sampah. Isinya ada beberapa CD, buku-buku bacaan tak jelas, tool set, sobekan kertas, pamflet, brosur, bon dan voucher belanja yang sudah kadaluarsa, bungkus permen dan makanan, topi dekil, jaket dan t-shirt yang berbau keringat dan tentu saja benda-benda asing lainnya. Bahkan kenapa ada berpasang-pasang kaos kaki kotor? Bagaimana bisa manusia normal menyimpan dan membawa barang rongsokan seperti itu kemanapun? Orang ini benar-benar super duper jorok.

“Hei, hei, apa yang sedang kau cari? Jangan kotori kamarku. Kau tahu kan aku sendiri jarang merapihkan kamarku ini.” kataku.

“Tenang. Biar nanti kubantu membereskannya.” kata Seira, “Pasti kubersihkan.”

“Ya bukan itu masalahnya…” gerutuku, “Memang apa yang sedang dia cari?”

“Surat.” jawab Seira singkat.

“Hah, surat apa?”

“Ketemu!” teriak Dika mengejutkan, “Ah, ternyata kuselipkan di saku celana jeans-ku, hehehe…”

Ih, dasar tolol. Sia-sia dia membongkar isi tas ranselnya. Barang yang dicari malah ada di belakang pantat sendiri. Aku mendeliknya kesal.

“Ini, bacalah!” kata Dika, “Surat ini dari kakekku, datang seminggu lalu.”

Langsung saja kuambil amplop itu dari tangan Dika. Begitu kubuka, ada kertas undangan berwarna merah dengan tulisan dicetak tinta emas dan selembar surat singkat yang tak banyak kata-kata. Intinya adalah undangan jamuan makan malam dan rapat keluarga rutin dalam Pertemuan Keluarga Besar SANJAYA XIII. Setiap anggota keluarga wajib mengirimkan perwakilan keluarganya. Penting untuk dihadiri dan datang ke Pondok Sanjaya sebelum acara puncak tanggal 7 Juli.

Aku mengernyit memandang Dika, “Ng, hanya ini saja?”

Dika mengangguk.

“Lalu apa masalahmu? Ini hanya surat undangan biasa. Kenapa butuh bantuanku?”

“Radix,” Dika menghela sejenak, “Tolong kau gantikan aku untuk pergi kesana ya.”

“WHAT?!” Aku melohok mendengarnya, “Gantikan apa maksudmu?”

“Tolong kau gantikan aku untuk pergi menemui kakekku di Pondok Sanjaya.”

Aku tertawa hambar, “Kau bercanda?” tanyaku.

“Aku serius.” tegas Dika.

“Kenapa harus aku? Kenapa kau tak pergi saja sendiri? Ish, kau itu aneh. Ini pertemuan keluargamu, kan. Aku sama sekali tak mengerti dengan permintaanmu ini.”

“Radix, sebaiknya kau dengar dulu cerita Dika.” kata Seira.

“Begini, ehm, sebenarnya setiap tahun di bulan Juli, selama kurang sepuluh tahun terakhir ini aku selalu menerima undangan seperti itu dari kakekku. Pertemuan keluarga ini rutin diadakan dimana semua keturunan kakek kakeknya kakek buyutku datang ke Pondok Sanjaya untuk membahas persoalan keluarga. Yah, mungkin sebenarnya aku curiga itu lebih ke masalah warisan. Entahlah, biasanya sih begitu kalau di film-film. Nah, acaranya memang bertepatan dengan musim liburan sekolah dan semuanya menginap disana selama seminggu. Kupikir itu wajar karena selama setahun kakekku, yang jadi satu-satunya tertua dalam keturunan kami sama sekali tak pernah bertemu denganku. Jadi mungkin dia ingin lebih dekat dengan cucu-cucunya.

“Tapi aku sendiri tak pernah datang ke pertemuan itu. Undangan yang datang padaku semuanya selalu disita ayah. Dulu sewaktu masih muda, ayahku pergi dari rumah. Mungkin karena ada perselisihan, kakek sangat murka hingga mengusir ayah. Dan untuk meraih impiannya, ayah harus memulai kembali kehidupannya dari nol. Tapi sampai sekarang, dia tak mau lagi berhubungan dengan keluarga besar Sanjaya.”

“Namun ternyata kakekku tak seperti itu. Hubungan darah tak bisa begitu saja diputus, aku masih dianggapnya sebagai cucu. Hubungan ayah dan kakek sekarang ini lumayan membaik meskipun tetap tak dekat. Aku tak pernah diizinkan untuk berhubungan dengan kakek atau saudara-saudaraku yang lain. Ayah sangat melarangku bertemu mereka apalagi pergi ke pertemuan itu. Entah kenapa, tapi seolah ada hal yang ditakutinya. Aku sendiri tak pernah memaksa. Meski penasaran ingin bertemu, tapi kadang malas juga kalau ternyata disana membosankan.”

Demikian cerita Dika. Aku sejenak tertegun mendengarnya.

“Hmm, ya sudah, seperti tahun-tahun sebelumnya, kalau tak mau datang ya kau tak usah datang.” ucapku.

“Tapi surat yang datang tahun ini aneh.” sela Dika, “Surat itu dikirim langsung padaku ke alamat kosanku di sini. Kakek kan tak pernah tahu kalau aku kuliah di Jogya, ayah juga tak mungkin sengaja memberitahunya.”

“Eh, siapa tahu saja kakekmu mempunyai jaringan intel internasional. Sampai-sampai mampu melacak keberadaanmu.”

“Dugaanmu bisa saja benar. Karena sehari setelah datangnya surat ini, kakek meneleponku.”

“Wow, kok bisa sih?” cengangku, “Lalu apa yang kalian bicarakan?”

“Tentu saja kakek menyuruhku datang. Ini pertemuan keluarga Sanjaya yang terakhir dia bilang. Kondisi kesehatan kakek semakin memburuk. Beliau sedang sakit. Pesimis sekali tahun depan tak bisa lagi mengadakan acara seperti ini. Sebelum meninggal, kakek ingin bertemu denganku. Akhirnya aku bilang kalau aku akan datang.”

“Keputusan yang bagus. Penuhi permintaannya dan buat kakekmu senang diakhir hayatnya, Dika.”

“Tapi tak bisa.” Sejenak Dika menghela, “Masalahnya aku tak bisa datang. Aku lupa kalau liburan sekarang kami ada acara penting ZEON. Ada Diklat anggota baru dan kami berkemah selama dua minggu di gunung. Aku wajib ikut. Aku kan anggota elite. Mana jadi seksi acara lagi. Anggota lain pasti membunuhku kalau aku tak ikut. Acaranya juga tak bisa dibatalkan. Jadwalnya bahkan dimulai senin besok.”

“Ckck, kau itu, dasar bodoh.” cibirku, “Kalau kau tak bisa datang kenapa berjanji pada kakekmu? Ya sudah, kau telepon balik saja sekarang, bilang yang sebenarnya pada kakekmu kalau kau tak bisa, beliau pasti mengerti.”

“Tak bisa. Kakekku memakai private number saat menghubungiku. Lagipula aku tak mau mengecewakannya.”

“Hmm, jadi kau tetap mementingkan acara organisasi bodoh itu dan mengorbankan kepentingan keluargamu, eh?”

“Radix, Dika juga bukannya ingin begini…” timpal Sera. “Aku tahu dia memang bodoh, tapi jangan bilang ZEON itu bodoh.” Sebagai sesama anggota gadis itu sedikit tersinggung ucapanku, “Kami benar-benar membutuhkan Dika di acara diklat nanti.”

“Dan sebenarnya aku bisa saja nanti kalau ada waktu mengunjungi kakekku di luar pertemuan itu.” sambung Dika.

“Ya sudah, gitu aja.” kataku cuek.

“Tapi…”

“Ada tapi lagi?!”

“Aku juga harus datang ke pertemuan keluarga itu sekarang. Tidak bisa ‘Tidak’.” Aku belum pernah melihat ekspresi Dika tampak kebingungan begini, “Bagaimanapun juga harus ada yang pergi kesana. Aku atau orang lain atas namaku. Berhubung aku pasti tidak bisa, ya seperti yang kubilang di awal, kau gantikan aku untuk pergi kesana. Setuju?”

“Heh, jangan bercanda. Memangnya bisa digantikan begitu saja? Apa kau tak berpikir kalau rencanamu itu tindak kejahatan?”

“Cuma berpura-pura menjadi diriku apa susahnya?”

“Itu artinya berbohong. Kau kejam sekali berniat menipu kakek dan keluargamu sendiri. Kenapa tak minta bantuan Naufal, Rudi, Feby, Seno, Ivan, Yuda, atau anak cowok lain? Kau kan punya banyak teman tapi kenapa terus memaksaku?”

“Sebelum menemuimu, kami juga menawarkannya pada yang lain. Tapi tidak ada yang bisa. Semua sedang sibuk dengan urusannya masing-masing, pada pulang kampung, tak mau liburannya diganggu dan lain sebagainya. Dan tentu saja anggota ZEON lain tak ada yang bisa dimintai bantuan. Sebagai satu-satunya teman yang tak punya kegiatan liburan, menganggur sepanjang hari dan tak juga pulang kampung, yang cocok melakukan tugas ini hanya kau seorang, Radixa. Harapan terakhirku ada padamu.” ucap Dika.

“Iya sih, apa yang kau katakan memang benar, aku juga tak suka dengan kebohongan.” sambung Seira, “Tapi sudah tak ada lagi cara lain. Aku mohon, kau mau kan membantu Dika?”

Dika merapatkan kedua tangannya dan dengan wajah yang sangat memelas dia berkata, “Ayolah, Radixa. Demi persahabatan kita yang sudah terjalin selama lebih dari dua tahun dan demi seorang kakek yang menunggu kehadiran cucunya disana, terimalah tawaranku ini! Aku mohon!”

Aku berpikir sebentar, banyak keraguan dalam diriku hingga tak tahu apa yang harus kulakukan. “Kalau begitu, beri aku tiga alasan kenapa aku harus membantumu!” Melihat tampangnya aku malah jadi ingin sedikit mempermainkannya.

“Karena kau cantik, baik dan… rajin menabung.” jawab Dika asal-asalan.

“BAHAHAHA…” Tawaku pecah mendengar pujian seperti itu, “Terima kasih. Tapi bukan itu jawaban yang kuinginkan. Sudahlah, lupakan saja.”

“Jir, kau lupa… kau kan punya hutang padaku, Radix. Jadi kau harus membantuku.”

“Ini dan itu beda, bodoh.” ketusku padanya, “Okay, semester depan akan kulunasi hutangku. Makanya liburan sekarang aku akan kerja paruh waktu untuk membayar cicilannya.”

“Baiklah, kalau begitu bekerjalah padaku.” Dika menjelaskan, “Aku akan membayarmu bila kau mau melakukannya.”

“Apa?! Kau serius?” cengangku tak percaya.

“Pikirkanlah! Menginap seminggu di villa mewah. Refreshing ke daerah pegunungan. Bebas biaya akomodasi, uang makan, ehm… pokoknya semuanya gratis tis tis tis. Terlebih lagi kau pun bisa sekalian pulang ke Bandung.”

“Ba-Bandung kau bilang?”

“Ya, kau tahu daerah Lembang Atas dekat gunung? Pondok Sanjaya ada disana. Kau bisa sekalian pulang dan menemui orangtuamu sambil lewat kan?”

“Benar. Sudah terima saja. Kapan lagi dapat kesempatan langka seperti ini?” Seira ikut membujukku, “Ini sih lebih hebat dibandingkan kau menang undian.”

“Mau, yaaaaa?!” bujuk mereka berdua berbarengan.

“AAAAAAAA….” Aku bingung. Jujur tawarannya sungguh menggiurkan, tapi… “Ini sulit. Dika, kau kan cowok dan aku cewek, mana bisa aku menggantikanmu. Apalagi kalau kau menyuruhku menyamar jadi cowok, seratus persen aku menolak. Maaf, bukannya aku tak mau menolongmu tapi aku tak mau berbohong. Apalagi menipu orang lain. Sebaiknya kau cari saja orang lain.”

“Kau lupa, selama 20 tahun ini aku tak pernah sekalipun bertemu dengan mereka. Tak ada yang mengenaliku atau tahu aku ini laki-laki atau perempuan.”

“Mustahil. Bagaimana dengan suaramu? Sewaktu menelepon terdengar seperti suara cowok lalu saat bertemu ternyata seorang cewek. Ini aneh dan mencurigakan, bodoh.”

“Orang yang hanya sekali mendengar suara apalagi hanya lewat telepon tak akan begitu ingat. Lagipula itu sudah seminggu lebih berlalu dan kakek juga sudah tua, pendengarannya tak begitu baik. Suaramu juga kadang terdengar berat dan gaya bicaramu kasar seperti cowok. Kurasa tak ada masalah.”

“Bagaimana bila kakekmu sudah mengenalimu dari foto? Kalau alamat kosan dan nomor teleponmu saja sampai diketahuinya, ada kemungkinan seperti itu, kan?”

“Jangan berpikir terlalu jauh. Sebenarnya tak ada masalah andai kau sanggup membantuku. Kita bisa cari cara untuk mengelabuinya. Apalagi yang membuatmu ragu, Radixa Ananda Putri?!” Dika menekankan suaranya saat menyebutkan nama lengkapku, “Wow, bahkan ini sungguh kebetulan yang unik, karena kita berdua bahkan memiliki nama yang mirip.”

“Eh, kau….” Aku tak percaya Dika menjadikan namaku sebagai alasan. Menyebalkan sekali melihatnya menyeringai seolah telah menang.

“Radix, kau bisa menjadi diriku, Radika Anggara Putra.”

JDERRR

Perlu diketahui kalau cowok yang akrab dipanggil Dika itu nama sebenarnya adalah Radika Anggara Putra. Mirip sekali dengan namaku, kan? Karena itulah orang-orang kadang tertukar memanggil nama kami, yang sama-sama memiliki singkatan RAP dan panggilan Radixa dan Radika. Tapi kemudian Radika mulai memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Dika untuk membedakannya panggilanku yang terbiasa dengan ‘Radix’.

Selain nama, sifat kami pun sebenarnya tak jauh beda. Kami sama-sama pemarah, egois, jahil, kekanak-kanakan, tak mau kalah, cuek akan penampilan, tapi tentu saja aku tak sejorok dia. Sama-sama kurus, Dika lebih tinggi 15 cm dari tinggi badanku yang 165 cm. Potongan rambut juga sama, model rambutku kan kayak cowok-cowok anak boyband jaman sekarang, eh. Bahkan Dika justru lebih gondrong dariku. Kalau cuma aku pakai t-shirt gombrang dan celana jeans, dan bergaya sok macho, sepintas aku memang mirip anak lelaki. Apalagi aku juga tak berdada besar. Ugh, sedikit miris mengingat kalau dibandingkan milik Seira. Tapi tetap saja aslinya aku ini wanita dan wajahku terlalu imut untuk ukuran pria.

“Tak perlu repot memalsukan kartu identitas, orang-orang selalu memanggilmu Radik. Kalau kau tak mengaku, tak akan ada yang tahu siapa itu Radixa atau Radika. Memang hanya kau seorang yang bisa melakukannya.” lanjut Seira.

Aku masih bingung. Apalagi saat melihat wajah memelas mereka berdua, berbinar memandang dengan penuh harap. Sejenak aku menghela, memantapkan hati. Tapi setelah kupikir, “Sudah, hentikan saja.” jawabku, “Aku tetap tak mau. Kalau ada waktu untuk bersenang-senang dan berlibur seperti itu, lebih baik kugunakan untuk bekerja mencari uang. Jadi maaf saja, aku tak ada waktu untuk menolongmu, Dika.”

“Aargh, tega sekali kau berkata seperti itu.” dengus Dika. Dan Seira pun terlihat ikut kecewa mendengarnya.

“Hmm…” Sejenak Dika berpikir, dan aku merasa tak suka melihat senyum di wajahnya yang mendadak menyeringai. Seolah dia telah berhasil mendapatkan sesuatu. Membuatku penasaran dengan apa yang ada dalam pikirannya, dia seakan telah menemukan cara lain untuk membujukku. “Kubayar deh, tiga ratus ribu sehari.” lanjut cowok itu tiba-tiba.

“APA?!” Sungguh ucapan yang membuatku dan Seira tersentak kaget, “Bayar?”

Dika mengangguk, “Bukankah di awal juga sudah kukatakan, kau bekerja saja untukku. Aku sungguh-sungguh akan menggajimu. Kau tahu kan, upah ini lebih dari sekedar kerja sambilan apapun. Kau hanya kerja ringan  untuk bersenang-senang seminggu saja sudah mendapatkan uang sekitar dua juta lebih. Bisa pulang ke Bandung dan waktu luang di sisa liburanmu setelah itu kau masih bisa cari kerja lain. Bagaimana?”

“Kyaaa, Dika kau memang cerdas.” teriak Seira sambil bertepuk tangan kecil.

“Membayarku?” Aku masih tercengang, “Kau sampai berbuat seperti ini, melakukan berbagai cara hanya untuk membuatku menolongmu?”

“Sekarang tinggal terserah padamu, kau mau menerima tawaranku ini atau tidak?” tanya Dika.

“Aku—“ masih saja berpikir, “—tidak tahu.” jawabku pelan.

Dika dan Seira menghela nafas kecewa, “Hmm, begitu ya?” gumam mereka.

Aku hanya bisa menundukkan kepala, mengerti kekecewaan mereka hingga tak mampu beradu pandang. Seira hendak berucap, mungkin ingin kembali membujukku. Tapi niatnya keburu dicegah Dika yang menepuk bahunya.

“Sebaiknya kami pulang sekarang.” Cowok itu lalu membungkuk dan mulai memunguti barang-barangnya yang masih berserakan di lantai kamarku, kembali dimasukkan kedalam ransel dengan asal dan tetap berantakan. Seira menyapu remah dan sampah-sampah kecil tanpa banyak bicara. Suasana langsung berubah jadi tak mengenakan begini.

“Semuanya terserah padamu, aku tak kan memaksa lagi.” kata Dika seraya menggendong tas ranselnya, “Pikirkanlah baik-baik. Tapi kalau kau mau, kami tunggu kehadiranmu di basecamp ZEON sampai jam tujuh malam ini. Datang atau tidak, itu menunjukkan jawabanmu. Aku hargai apapun keputusanmu nanti.”

“Radix!” panggil Seira sambil tersenyum dan melambaikan tangan, “Sampai jumpa.”

BLAM

Mereka berdua menutup pintu. Pergi meninggalkanku sendiri dalam kebingungan.

Apa yang harus kulakukan sekarang?

.

.

.

Bersambung ke HOLIDIE : 4

.

.

.

Bacotan Author:

Tadinya gak ada usaha (klo sekedar niat sih ada) buat lanjutin cerita ini. Berhubung projek fanfic pun sudah mulai lagi jadi dipikir sayang juga kalau malah discontinued. Terlebih ada juga ternyata yang baca n mengharapkan kelanjutannya, jadi ya udahlah ya saya lanjut aja 😀

Semoga ceritanya suka,

Special Thanks for commenters

chii, narutolover_07, Fitria aisyah

 

See you next part~

FuRaHEART(^-^)/ 260615

 

 

14 Comments

Leave a Reply

                Leave a Reply

                Your email address will not be published. Required fields are marked *

                This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.