Shadows and Rainfall

[One Ok Rock fanfiction]

 

            Aku kembali memandangi bingkai foto yang mulai lusuh tersebut. Disana terpampang sebuah potret wajah seorang gadis. Gadis yang sangat ku kenal baik selama delapan tahun terakhir. Sayangnya kini aku masih tidak tahu ia berada dimana. Terakhir kali kita bertemu, ia hanya berkata bahwa aku harus percaya bahwa ia akan selalu berada di tempat yang aman.

            Pandanganku kini mulai buram, seperti ada sebuah genangan bening di pelupuk mataku yang membuatku tidak bisa melihat foto itu dengan jelas.

            Aku segera mengusap kedua mataku, sebelum genangan itu tumpah dan menjadi isak tangis. Sial, harusnya sebagai lelaki aku tidak boleh cengeng begini hanya karena ditinggal seorang gadis tanpa sebuah alasan.

            Aku hanya ingin bersamamu. Hanya kau seorang.

            Namun tidak dapat ku pungkiri, bahwa atmosfer gadis itu sangatlah kuat, seakan-akan terus memaksaku untuk masuk ke dalam dekapan bayangan yang kelam itu. Bayangan yang selama ini membuatku frustasi dan tidak bersemangat ketika ia tidak berada di sisiku. Ku rasa aku telah jatuh terlalu jauh ke dalam pesonanya, sehingga ketika sampai di dasar rasanya sakit luar biasa.

            Dengan kuat aku menarik nafas dan menyebut namanya.

            Angel. Ya, gadis itu adalah Angel.

            Seperti malaikat, dengan mudahnya ia diam-diam menyusup masuk ke dalam kehidupanku dan memberikan secuil harapan, seakan-akan mengatakan bahwa ia akan selalu bersamaku dalam keadaan apapun.

            Namun, kenyataan tak seindah perkiraan.

            “Hei, Taka!” Seketika aku terhentak ketika mendengar sebuah suara melengking memanggil namaku. Ku lihat lelaki itu dengan gesitnya berlari ke arahku. “Kau sedang apa?”

            “Rupanya kau, Ryota.” Balasku datar. “Tidak, tidak ada yang ku lakukan.”

            Tiba-tiba ia tertawa. Suara tawa khas yang sudah ku kenal sejak balita. Lelaki berambut pirang dengan wajah kekanakan ini merupakan sahabat terbaiku. Kami sudah seperti saudara, meski kadang ada beberapa orang yang menganggap kami sebagai pasangan sesama jenis. “Kau tidak bisa berbohong, Taka. Coba lihat, kau sejak tadi serius sekali memandangi wajah Angel.”

            Sepertinya aku memang tidak berbakat dalam hal berbohong.

            “Omong-omong, ada apa kau mencariku?” Tanyaku kemudian.

            “Kebetulan sekali, aku ingin mengajakmu ke rumah Angel. Sudah lama kita tidak bertemu dengannya, bukan?”

            Aku menggeleng cepat. “Aku takut ia marah tidak mau bertemu denganku karena aku sudah berulang kali mencoba menemuinya.”

            “Baka.” Ryota menjitak kepalaku pelan. “Harusnya ia akan senang jika bertemu denganmu.”

            Pada akhirnya, tanpa menunggu jawabanku, Ryota langsung menarik tanganku. Namun, langkah kami sempat terhenti ketika tiba-tiba ada seseorang menabrak Ryota.

            “Kau tidak apa-apa?” Tanya Ryota sembari membantu gadis itu untuk berdiri.

            Gadis itu segera menggeleng dan berlari meninggalkan kami tanpa mengucap sepatah kata pun.

            “Kau mengenalnya?” Tanyaku penasaran.

            “Tidak. Sudahlah, ayo cepat.”

            Ah, lagi-lagi hujan turun di setiap aku memikirkan Angel. Rintik-rintik hujan yang kian deras terlukis nyata di kaca mobil Ryota. Tetesan air hujan yang datang silih berganti membuatku terus merasa kalut. Teringat akan bayang-bayang kenangan bersama Angel. Hanya saja bayangan ini terus datang, namun tidak bisa digantikan seperti hujan.

            Beruntungnya kami, karena hujan sudah reda ketika kami sampai di tempat Angel, jadi setidaknya kami tidak perlu repot-repot menyiapkan payung. Aku turun dari mobil dengan kaki sedikit bergetar.

            “Ini, jangan lupa, hadiah untuk Angel.” Ryota memberikanku sebuket bunga mawar putih, bunga kesukaan Angel.

            Aku melihat ternyata disana sudah ada Toru, kakak laki-laki Angel, yang sedang duduk sambil menatap sendu persemayaman adiknya. Kemudian ia berdiri ketika melihat kedatangan kami.

            “Apa kabar?” Tanya Toru lirih.

            “Baik,”

            Kini aku menatap batu nisan berwarna abu-abu di depanku. Batu nisan yang terakhir ku lihat dua tahun lalu itu masih juga tidak berbeda. Nama Angel terukir indah diatasnya. Akhirnya aku dapat menemuinya, setelah sekian lama aku hanya mampu berdiri di pintu gerbang makam bersama rasa ketakutanku yang segan untuk mengunjunginya. Selama ini aku takut, takut bahwa bayangan itu kembali memelukku erat, hingga aku merasa tercekik dan kehabisan oksigen.

            “Hai, namaku Angel, dari kelas 5-B.”

            “Terima kasih Taka, kau sudah mau menjadi temanku.”

            “Entah ini takdir atau apa, namun kita selalu berada di satu sekolah yang sama.”

            “Aku juga mencintaimu, Taka.”

            “Taka, kita berada di satu universitas!”

            “Taka, kenapa akhir-akhir ini kepalaku sering terasa sakit?”

            “Taka, kita akan selalu bersama, bukan?”

            “Taka, kau tidak keberatan untuk menungguku di rumah sakit?”

            “Hei, Taka, kau jelek sekali ketika bersedih.”

            “Tenang saja, aku akan selalu bersamamu, Taka.”

            “Taka, aku akan menemukan tempat yang aman. Percayalah.”

            “Taka, boleh aku pamit pergi sekarang?”

            “Sejak kapan kau jadi cengeng begitu? Aku tidak suka melihatmu menangis.”

            “Taka, aku mengantuk. Aku ingin tidur, boleh ya.”

            Ucapan-ucapan itu terus melayang-layang di kepalaku, seakan-akan menancap secara permanen di sana. Tiap kalimatnya memiliki kenangan tersendiri. Kenangan yang mampu menohok di setiap ruang jantungku. Rasanya seperti tersayat-sayat, namun tak berdarah. Sayatan itu hancur, dan berserakan entah kemana.

            Tiba-tiba angin berhembus kencang menerpa wajahku lembut. Membuatku sedikit merinding. Aku seperti merasakan kehadirannya disini. Ku harap semoga ia tidak marah padaku karena aku tidak menemuinya sejak dua tahun terakhir.

            “Taka, hujan mulai turun lagi. Ayo kita kembali ke kampus.” Ryota menyadarkanku dari lamunan. Ternyata benar, rintikan air hujan mulai membasahi rerumputan diatas makam Angel, memberikan bau yang amat khas.

            “Ayo.” Setelah aku memberikan bunga untuk Angel, aku segera menyusul langkah Ryota dan Toru dengan cepat, karena hujan mulai deras.

            “Lihat, Angel tidak marah padamu, ‘kan?” Tanya Ryota diakhiri dengan tawanya seperti biasa.

            Aku hanya tertawa renyah menanggapi pertanyaannya.

            Kini aku sadar, bahwa Angel membutuhkan kehadiranku disisinya. Menginginkanku untuk selalu datang menemuinya, walaupun mungkin suatu saat nanti aku datang bersama dengan masa depanku yang baru.

            Aku senang telah bertemu dengannya. Hanya saja, aku tidak suka dengan cara kami berpisah.

 

 

 


A/N

fanfic pertamaku di furahasekai udah ke publish, yay!

jadi, ceritanya aku bikin fanfic ini tuh terinspirasi sama lagunya One Ok Rock (OOR) yang judulnya All Mine *entah nyambung apa engga heheu* dan bikinnya juga kilat, dadakan (sekitar 2 jam), soalnya takut idenya keburu ilang.

buat pertama ini aku bikin pendek dulu aja biar ga bosen, tapi kalau sempet ntar ada sekuel-sekuel juga kok ehehe. maaf kalau ga jelas T.T

yap arigatou gozaimasu, silahkan tinggalkan komentar kalian jika berkenan~

 

sincerely,

skyline

9 Comments

Leave a Reply
  1. Ini masih bikin penasaran, siapakah gadis yang menabrak Ryouta? Hubungan antar para tokoh juga blom ada kejelasan, terutama misteri si Angel. Semoga dapat ispirasi lagi buat lanjutin ceritanya. Mungkin disambungin ke lagu OOR lain akan lebih menarik, hehe 😀

  2. Ahh akhirnya ada FF OOR juga di WP ini~ berasa nemu telolet dlam tumpukan jerami *halah* wkwk kalo ini mau dibuat sekuel aku rela kok bacanya 🙂 btw sdikit saran dariku soal penggunaan kata depan yg mustinya dipisah dan huruf kapital usai kalimat lngsung itu gk perlu kalo pake ‘balasnya’, ‘katanya’ dan etosetora wkwk keep writting~

  3. Hai hai,,skyline,salam kenal^^…ini ada lanjutannya kan??? Ditunggu ya^^
    Btw,,skyline ini cwe pa cwo??? Hahaha:v

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.