Day 10: Never Again

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti event Kampus Fiksi 10 Days Writing Challenge 18 – 27 Januari 2017. Dimana tiap hari saya akan post tulisan di blog sesuai tema. Dan tema hari ini adalah…

.
.
.: Day 10 :.

Tulislah sebuah hal yang kamu berjanji tidak akan mengulanginya kembali
.
.

Wah, gak nyangka udah sampai lagi di hari ke-10 challenge 10DaysKF. Postingan terakhir nih. Dan untuk mengisi tema hari ini, saya jadi kembali membuka sebuah kenangan lama yang sebenarnya enggan saya ingat, hehe. Itu adalah sesuatu yang tak pernah ingin saya lakukan lagi, yaitu pacaran hanya dilandasi cinta sepihak. Wkwkwk… absurd emang ya bahasan yang saya pilih sekarang. Tapi penyesalan yang didapat dari itu membuat saya sadar, bahwa saya tidak boleh kembali mengulangi saat-saat saya pernah menjadi manusia bodoh karena cinta.

Mungkin waktu itu saya masih polos dan terlalu naif untuk menjalin sebuah hubungan asmara. Saya jatuh cinta pada orang yang salah. Dalam artian dia bukanlah sosok “orang yang tepat di saat yang tepat” yang selama ini saya cari. Meskipun di awal kami bertemu dia waktu itu saya merasa, “Ah, ini orangnya.” Dan justru karena itulah saya sampai larut dalam perasaan hingga sanggup berlaku bodoh dengan menyia-nyiakan waktu dan cinta saya demi seseorang yang ternyata tak mencintai saya.

Benar kata orang (saya pernah dengar) bahwa wanita lebih butuh dicintai daripada mencintai. Dulu saya sempat percaya bahwa kisah cinta sepihak di dunia nyata pun pasti bisa Happy Ending seperti dalam film, cerita novel atau komik romantis. Namun nyatanya tak semudah itu. Saya beranggapan bahwa perasaan manusia pasti akan berubah seiring waktu. Dari yang hanya “biasa-biasa” saja, “sebatas suka”, nanti pasti akan berubah jadi “cinta” bila saya bisa bersabar dan terus menunjukkan kesungguhan saya padanya. Itulah sebabnya saya sanggup menjalani pacaran hanya dilandasi cinta sepihak.

Entah kenapa waktu itu kok saya mau ya seakan jadi masochist, dalam arti meski yang saya jalani menyakitkan namun saya tetap happy dan malah menikmati. Terlebih klo ingat cinta saya tak berbalas padanya. Ya, karena mikirnya dulu asalkan bisa bersama orang yang dicintai pasti bahagia. Walaupun disakiti. Bahkan sampai bertahan hingga lebih dari setahun sama keadaan yang kalau saya ingat lagi sekarang rasanya bego banget. Mau-maunya gitu pacaran cuma buat have fun, status juga sekedar mengisi waktu luang (yang justru ternyata membuang-buang waktu percuma). 

Sebenarnya si dia tak berarti tak menyimpan rasa suka sedikit pun. Orangnya memang sangat baik. Welcome ama siapa aja. Supel dan perhatian. Secara selera saya rasa kami berdua pun cocok. Itu sebabnya saya suka padanya. Tapi ya yang namanya perasaan dan keadaan mungkin memang tak bisa semuanya dipaksakan. Terlebih ada beberapa faktor selain soal hati di sini yang memaksa kami tak bisa terus lanjut seperti yang selama ini saya harapkan. Menjadikan orang itu yang terakhir buat saya seriusi.

Meski sudah berlalu cukup lama dan saya sudah move on tapi rasa sesalnya masih ada, bercampur sedikit kekecewaan dan sakit hati sampai sekarang. Tapi untung saja saya bisa melalui semuanya. Dan positifnya kenangan itu memberikan saya banyak pelajaran berarti untuk ke depan. Bahwa saya tidak boleh terlalu terbawa perasaan untuk sesuatu yang tak pasti. Terutama tentang cinta. Saya berjanji jangan sampai jadi orang bodoh lagi.

2 Comments

Leave a Reply

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.