ANOTHER SONG

One Ok Rock Fanfiction

Biarkan. Biar begini adanya.

Jangan paksa aku untuk merindukanmu lebih dalam.

Biarkan lagu ini mengalun lembut di telingamu yang sunyi itu.

Dan kau akan tahu seberapa dalam perasaanku padamu.

 

ANOTHER SONG

One Ok Rock Fanfiction

[ Sequel from Shadows and Rainfall ]

by skyline

            “Ne, Ryota, kau mau ikut?” Tanya seorang lelaki berambut hitam legam yang tengah sibuk membereskan buku-bukunya yang berserakan di meja.

            “Kemana?” Lelaki bernama Ryota itu balik bertanya.

            “Mengunjungi Angel.” Jawabnya sembari tersenyum kecil. Meskipun sesekali masih terlihat guratan sedih yang tersembunyi di balik wajah cerianya. “Sudah satu minggu ini aku belum sempat mengunjunginya.”

            “Kalau itu maaf sekali Taka, aku tidak bisa. Setelah ini aku masih ada kelas.”

            Taka mengangguk setelah sempat bergumam beberapa saat. “Baiklah, kalau begitu aku duluan.”

            “Hati-hati, Mori-chan.” Ujar Ryota yang kemudian disusul dengan tawanya.

            “Hei, sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu!”

            Ryota memandangi punggung Taka yang kian menjauh. Ia benar-benar suka sekali menjahili sahabatnya itu.

            Kelas akan dimulai lima belas menit lagi. Waktu kosong itu akhirnya digunakan Ryota untuk menggeluti ponselnya sambil mendengarkan musik.

            “Maaf,” Gumam seseorang. “Bangku ini kosong?”

            Merasa tidak direspon, akhirnya ia menepuk bahu lelaki berambut pirang didepannya.

            Ryota refleks melepas headset yang tersumbat ditelinganya dan mendapati seorang lelaki berambut ikal bergelombang sebahu, dengan sedikit ombre berwarna tosca. Tidak, Ryota tidak mengenalnya. “Ada apa?”

            “Apakah bangku ini kosong?” Lelaki itu mengulang pertanyaannya.

            Ryota sempat mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya mengangguk dan mempersilahkan lelaki itu untuk duduk.

            “Tomoya.” Tiba-tiba lelaki itu mengulurkan tangannya. “Jika terlalu panjang, Tomo saja cukup. Dan aku suka tomat.”

            Tomat? Pikir Ryota bingung.

            “Ryota,” Ryota membalas. “Kau baru disini?”

            Tomoya menggeleng. “Sebenarnya ini bukan jadwalku. Aku hanya mengikuti mata kuliah pengganti karena sempat absen minggu lalu.”

            “Oh, begitu.”

            Tiba-tiba pandangan Ryota teralihkan oleh sesosok gadis yang barus saja duduk di depannya. Ia berpikir sejenak, sepertinya wajahnya tidak asing. Kini terdapat kerutan di dahinya yang sedang mengingat sesuatu.

            Sesaat kemudian matanya berbinar, dan kerutan itu seketika hilang.

            “Hei, Nona.” Ryota menyapa gadis itu. “Kau gadis yang sempat menabrakku tempo hari, bukan? Bagaimana kabarmu?”

            Bukannya menjawab, gadis itu hanya bergeming dan memalingkan wajah dari Ryota.

            Sombong sekali dia, pikirnya.

            “Gadis itu bernama Arin,” Tiba-tiba terdengar suara bisikan dari sebelah Ryota. “Dia tidak menjawabmu bukan karena sombong, tapi dia bisu.”

            Mendadak Ryota menatap Tomoya tak percaya. “B-bi-bisu?”

            Tomoya mengangguk. “Dia juga tuli, namun biasanya memakai alat bantu dengar. Dia memang pemalu dan suka menyendiri. Meskipun begitu, ia termasuk mahasiswi yang pintar.”

            “Lalu bagaimana jika ada tugas presentasi?” Tanya Ryota penasaran.

            “Terkadang para dosen memberinya kebikajan dengan pengalihan tugas, namun jika terdesak, ia akan meminta bantuan temannya yang pandai dalam bahasa isyarat untuk menyampaikan. Rumit, memang, namun aku suka dengan semangatnya.”

            Kenyataan itu membuat Ryota kehilangan kosentrasi selama satu jam mata kuliah. Melihat gadis itu, ia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang bangkit dan bergejolak. Mungkin itu hanya gejolak rasa ingin tahunya terhadap Arin dan ingin mencari lebih jauh tentangnya.

            “Arin!” Ryota berusaha mengejar langkah gadis yang mulai menjauh itu.

            Arin hanya diam, namun tidak memalingkan wajah sama sekali. Sampai akhirnya Ryota berdiri di hadapannya.

            Keheningan terjadi diantara keduanya.

            Ada perlu apa denganku? Jika tidak penting tolong sebaiknya kau minggir karena aku masih banyak urusan. Tulisnya dalam secarik kertas.

             “A-ano… begini,” Ucap Ryota kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku tahu kita baru kenal, tapi, bolehkah aku meminjam catatanmu? Tadi aku tidak memperhatikan.”

            Gadis itu hanya menatapnya heran.

            “Kumohon. Dua hari dan buku itu akan kembali utuh ke tanganmu.”

            Setelah cukup lama, akhirnya Arin merogoh tasnya dan mengambil sebuah buku yang kemudian diberikan kepada Ryota. Ia cukup yakin bahwa ia telah menghafal nama dan wajah lelaki itu kalau-kalau bukunya tidak kembali.

            “Ryota.” Lelaki itu memperkenalkan namanya, dan hanya dibalas anggukan oleh Arin.

            Ryota sempat menyeringai lebar sebelum akhirnya ia berterima kasih dan berjalan menjauhi Arin. Entah sadar atau tidak, namun senyuman bahagia tak pernah lepas dari wajahnya sambil membawa buku catatan itu. Ini mulai tidak benar, pikirnya. Bagaimana mungkin ia bisa menyukai seorang gadis yang baru dikenalnya.

            Tunggu… suka?

            Ia hanya mengangkat kedua bahunya dan segera pergi meninggalkan kampusnya.

            Malam harinya, Ryota mengeluarkan buku milik Arin dan berniat untuk menyalin catatannya. Namun, niat itu hanya wacana karena pada akhirnya ia malah membuka isi buku itu lembar demi lembar, berharap menemukan sesuatu selain tulisan algoritma.

            Ia sempat hampir putus asa ketika akhirnya menemukan sebait tulisan yang amat rapi di halaman terakhir buku tersebut. Tidak paham apa maksudnya, namun seperti terdapat pesan tersirat dalam tulisan itu.

            I wanna dance like no one’s watching me

            I wanna love like it’s the only thing I know

            I wanna laugh from the bottom of my heart

            I wanna sing like every single note and word it’s all for you

Ryota memandangi tulisan itu cukup lama dan sempat berfikir, apakah itu sebuah puisi, potongan lirik lagu, atau mungkin sebuah puisi kontemporer. Sayangnya kata-kata indah itu hanya satu bait. Tidak ada kalimat lain yang memenuhi lembaran tersebut.

Is this enough?” Gumamnya.

Seketika ia mengambil gitar dan memetik tiap senarnya dengan antusias.

            Tepat dua hari setelahnya, Ryota berkeliling mengitari tiap sudut kampus untuk menemukan gadis itu, namun hasilnya nihil. Akhirnya ia mencari seseorang yang mungkin mengetahui keberadaannya.

            “Tomo, kau tahu dimana Arin?”

            “Selesai kelas tadi aku melihat sepertinya ia berjalan ke arah cafetaria. Kenapa?

            “Baiklah, terima kasih.” Ryota langsung memutus sambungan telepon sebelum menjawab pertanyaan Tomoya.

            Sesampainya di cafetaria, ia mendapati seorang gadis sedang duduk di pojok seorang diri. Dan seperti dugaannya, gadis itu adalah Arin.

            Gadis itu sempat terkejut melihat kedatangan Ryota yang secara tiba-tiba. Kemudian ia baru ingat bahwa lelaki itu telah meminjam catatannya.

            “Terima kasih.” Ryota menyodorkan buku itu kepada pemiliknya.

            Gadis itu hanya mengangguk pelan. Namun tiba-tiba ia terkejut kembali dan menatap Ryota tajam ketika membuka halaman terakhir bukunya yang terdapat beberapa kalimat aneh dan coretan yang memenuhinya.

            Lelaki di hadapannya tertawa kecil. “Aku hanya melengkapi sedikit dan menjadikannya sebuah lagu, mau dengar?”

            Arin menggeleng.

            “Baiklah, dengarkan baik-baik.” Ryota mulai membuka suaranya dan bernyanyi.

            Karena kesal, Arin segera melepas alat bantu dengar ditelinganya, bahkan saat Ryota baru saja melantunkan dua kalimat lagu ciptaannya tersebut. Kini ia merasa hampa, dan sekitarnya menjadi sunyi senyap. Rasanya aneh sekali. Belum lagi melihat lelaki itu yang masih terus menggerakkan bibirnya seperti sedang membaca mantra.

            Suaramu payah, tulis Arin pada sobekan kertas bukunya dan beranjak pergi meninggalkan Ryota.

 

● ● ●

 

            Arin terlihat sangat sibuk sambil membongkar isi tasnya, mengeluarkan satu persatu benda yang ada di dalamnya, namun sepertinya ia tidak dapat menemukan benda yang diinginkan.

            Kemana perginya benda itu?

            Kegiatannya terhenti ketika ia melihat uluran tangan seseorang yang membawa benda yang dari tadi dicarinya. Belum sempat ia mendongak, orang itu sudah duduk dihadapannya.

            Ternyata, lagi-lagi Ryota.

            Dengan canggung Arin mengambil benda itu dan segera memasangnya. Seketika suasana gaduh di kelas mulai terdengar kembali. Ditatapnya Ryota yang ternyata juga menatapnya, tiba-tiba ia merasa ada rasa panas yang menjalar di tubuhnya. Dengan malu-malu ia mengucapkan terima kasih tanpa suara kepada Ryota.

            “Sama-sama.” Ryota tersenyum. “Kau meninggalkannya saat aku bernyanyi tadi. Apa suaraku benar-benar separah itu?”

            Arin terkekeh samar.

            “Memang suaraku payah. Tapi aku punya teman yang bersuara merdu. Namanya Taka.”

            Gadis itu terlihat sibuk menulis sesuatu, sesaat kemudian ia menyodorkan kertas itu pada Ryota.

            Tidak perlu. Meskipun suaramu payah, namun setidaknya kau sudah berusaha menulis lagu dan bernyanyi. Terima kasih.

            Ryota sempat tersenyum lebar ketika membacanya. “Baiklah, kapan-kapan akan aku buatkan rekaman suara untukmu. Agar kau bisa selalu mengingat suara payahku.”

            Keduanya lalu tertawa bersama. Bedanya, Ryota tertawa dengan suara khasnya, dan Arin hanya tertawa tanpa suara.

            Singkat cerita, sejak saat itu keduanya jadi dekat. Mereka beberapa kali terlihat bersama. Mungkin karena secara tak sengaja berada di kelas yang sama, entahlah. Meskipun keduanya jarang berbicara, melainkan melalui tulisan di kertas atau saling bertukar pesan di jejaring sosial, namun mereka merasa nyaman. Terutama bagi Arin. Kini ia tak merasa sendirian dan takut lagi. Ia memandang foto Ryota di ponselnya dan tersenyum senang karena ini tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Meskipun awalnya ia sempat ragu bahwa mungkinkah seorang Ryota mau berteman dengan seorang berkebutuhan khusus seperti dirinya.

            Begitu pula dengan Ryota. Anehnya, gejolak di dalam hati Ryota kian membuncah tiap bersama Arin. Seperti merasakan adanya suatu parade kembang api yang meledak-ledak tiap melihat gadis itu tertawa dan tersipu karenanya. Hiperbola, memang. Namun memang itu yang saat ini sedang dirasakannya. Sialnya, sampai saat ini ia belum tahu gejolak apa yang sedang dirasakannya. Ia hanya tidak ingin terlalu cepat beranggapan bahwa itu adalah cinta.

            “Kau sedang jatuh cinta, Ryota.” Ucap Taka santai.

            “Bagaimana bisa?”

            “Bisa dilihat dari tingkahmu akhir-akhir ini. Terutama saat kau bercerita tentang Arin.” Taka kembali menyeruput kopinya yang hanya tinggal setengah cangkir.

            “Lalu aku harus bagaimana?”

            Taka terkekeh. “Sepertinya kau harus banyak belajar pada ahlinya.”

            “Siapa?”

            “Sudah jelas itu aku.”

            “Yang tanya.”

            “Sialan.”

            Arin sedang sibuk memindah saluran televisi ketika ponselnya berdering beberapa kali. Setelah dicek, ternyata ia mendapat sebuah email berisikan sebuah file suara.

            Dari Ryota?

            Butuh waktu sekitar dua menit untuk mengunduh pesan tersebut sebelum akhirnya ia menekan tombol putar dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

            Terdengar jelas suara Ryota yang menyanyikan lagu ciptaannya. Begitu lantang dan−payah. Arin tak henti-hentinya tersenyum miris, namun lagu itu tetap saja didengarnya sampai habis.

            Jika dipikir-pikir, lagu ini sebenarnya bagus juga.

Ia kembali terenyuh dengan setiap kata yang ada di lagu tersebut. Liriknya benar-benar menyentuh, dan sukses membuatnya tersipu malu.

            “Jadi,” Ucap sebuah suara. “Bagaimana lagunya?”

            Arin terhentak dari lamunannya ketika mendapati sosok Ryota sudah berdiri di ambang pintu rumahnya. Bahkan ia tidak tahu sejak kapan lelaki itu berada di sana.

            Syukurlah ia tidak bisa mendengarnya.

            “Kau bisa mendengarkannya setiap saat. Kalau kau mau.”

            Arin hanya mengangguk dan berkerut heran ketika langkah Ryota semakin mendekatinya. Dengan refleks ia pun melangkah mundur sampai akhirnya tubuhnya menatap dinding, dan tidak ada lagi ruang baginya untuk menghindar. Kini jarak antara keduanya mungkin hanya sekitar sepuluh sentimeter.

            Ia benar-benar merasa takut, namun ketakutan itu tertutupi oleh debaran jantungnya yang kian kencang ketika kedua pasang bola mata itu saling bertemu.

            “I wanna dance the night away with you

            I wanna love because you taught me to

            I wanna laugh all your tears away

            I wanna sing ’cause every single note and word it’s just for you.

            Arin yang kembali merasa kebingungan, akhirnya mengambil ponsel dan mengetik sesuatu dengan cepat yang kemudian diperlihatkan pada Ryota. Kau bicara apa?

            “Itu penggalan laguku yang baru tiga menit kau dengarkan.”

            Oh, maaf. Aku baru mendengarnya tiga menit lalu, jadi tidak mungkin aku dapat menghafalnya secepat itu.

            Ryota terkekeh. “Benar juga. Jadi?”

            Gadis itu mengerutkan dahinya.

            “Is this enough?

            Ia masih dalam posisi yang sama. Hingga akhirnya membuat lelaki di hadapannya kehilangan akal harus mengungkapkannya seperti apa.

            “Tidakkah kau sadar bahwa ada seorang lelaki yang menyukaimu, Arin?” Kini Ryota malah terlihat kikuk. “A-aku, menyukaimu, kau tahu itu, bukan?”

            Seketika tubuh Arin terasa kaku. Tubuhnya terasa seperti disengat listrik berpuluh-puluh ribu volt. Kedua pipinya memanas. Namun anenya, ia seperti merasakan ada kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Apa ini?

            Sungguh ia tidak tahu harus berbuat apa. Ini kali pertamanya ada seorang lelaki yang menyatakan perasaan suka padanya. Akan tetapi ia teringat sesuatu. Suatu keadaan yang lebih penting dari perasaannya.

            Ryota, aku lapar, tolong temani aku makan. Sekali ini saja.

                        Membaca tulisan itu seketika hatinya luluh lantak. Seperti ada dentuman keras yang tidak akan bisa didengar oleh siapapun, kecuali dirinya sendiri.

 

● ● ●

 

            Sudah satu jam Ryota berjalan mengelilingi kampus, namun hasilnya nihil. Arin tidak terlihat di suatu sudut pun. Padahal ia tahu bahwa hari ini gadis itu mempunyai jadwal mata kuliah.

            “Tomo, kau tidak tahu dimana Arin?”

            “Kau belum tahu?” Tanya Tomoya heran. “Dia sedang mengambil cuti kuliah.”

            Ryota terbelalak mendengar kabar itu. Bahkan ia tidak tahu sama sekali. “Berapa lama?”

            Lelaki di hadapannya hanya mengangkat bahu.

            “Kenapa?”

            “Pengobatan pita suara dan pendengarannya di luar negeri.” Terang Tomoya. “Ah, iya, omong-omong ia akan berangkat jam dua siang.”

            Seketika ia melirik jam digital yang melingkar indah di pergelangan tangan kirinya. Masih ada waktu dua jam lagi sebelum Arin berangkat. Lantas saja ia langsung bergegas menuju bandara.

            Cukup sulit untuk menemukan sesosok Arin di antara kerumunan orang di bandara. Entah sudah berapa kali ia meneriaki nama gadis itu seperti anak ayam yang sedang kehilangan induknya. Butuh beberapa puluh menit hingga akhirnya ia menemukan Arin. Seketika tubuh Ryota menghambur ke pelukan gadis itu. Ia memeluknya, namun tidak erat, sebab ia tahu bahwa jika ia memeluknya lebih erat, rasa sakit di dadanya akan semakin terasa dan enggan untuk melepaskannya.

            “Kenapa kau tidak pernah bilang padaku?” Suara Ryota kini terdengar getir. Setengah mati ia menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi bahu gadis yang disayanginya itu.

            Perlahan namun pasti, pelukan itu terlepas hingga akhirnya menampakkan wajah cantik Arin yang basah oleh air mata. Bahkan Ryota tidak menyangka bahwa gadis itu ternyata menangis sejak tadi.

            “Astaga, kau menangis.” Dengan penuh kelembutan ia mengusap air mata Arin dengan kedua ibu jarinya.

            Gadis itu tersenyum lemah lantas membuka tas kecilnya dan mengambil sebuah amplop yang kemudian diberikan kepada Ryota. Setelah itu ia menarik kopernya dan pergi meninggalkan Ryota yang sedang kebingungan akibat amplop itu.

            Sedangkan Ryota hanya mampu memandangi tubuh Arin yang kian menjauh dengan hati yang teriris.

            Sesampainya di rumah, ia segera membuka amplop pemberian Arin dan melihat apa isinya. Tentu saja bukan uang, melainkan sebuah surat. Dengan hati yang tak henti-hentinya berdebar, Ryota membaca surat itu.

            Hai, Ryota.

            Jika kau membaca surat ini, tandanya aku sempat berpamitan denganmu di bandara. Aku sudah menulis surat ini semalam sebab aku yakin kau pasti datang. Ku mohon jangan membenciku, terlebih saat aku tak menjawab perasaanmu. Jadi, bolehkah aku sedikit bercerita? Ku harap kau tak bosan membacanya.

            Kau ingat saat kali pertama kita bertemu? Maaf, maksudku, saat kau pertama melihatku, waktu itu aku menabrakmu. Jujur, kala itu aku menabrakmu dengan sengaja sebab aku tak tahu lagi bagaimana caranya agar kau mengenalku. Tak lupa aku juga meminta bantuan Tomo, untungnya dia sangat baik mau membantu. Semoga kau juga tidak membencinya, ketahuilah bahwa Tomo adalah teman yang baik, sepertinya kau butuh seseorang selain Taka agar tak sering dianggap pasangan sesama jenis.

            Sedangkan aku, aku pertama kali melihatmu saat upacara penerimaan mahasiswa baru, yah, sekitar tiga tahun lalu, mungkin. Kau terlihat lucu dan benar-benar tak bisa diam sampai-sampai Taka sangat kewalahan menghadapimu. Kita juga beberapa kali di kelas yang sama, namun aku yakin bahwa kau tak menyadarinya. Suara tawamu yang khas selalu menghiasi pendengaranku yang tak sempurna ini. Aku seorang yang benar-benar sudah kehilangan rasa percaya diri, bahkan untuk menyapamu saja aku tak mampu. Namun ketahuilah, bahwa dua hari kemudian rasa suka itu datang padaku begitu saja tanpa permisi dan sangat tidak sopan. Bisa-bisanya rasa sukaku ternyata untuk orang yang tidak mengenalku. jika diingat kembali rasanya menggelikan. Kini aku percaya bahwa jatuh cinta bisa membuat seseorang melakukan hal yang tidak masuk akal.

            Namun, aku benar-benar tidak menyangka bahwa semuanya berjalan begitu indah. Padahal, bisa berkenalan denganmu dan menatapmu dari jauh saja itu sudah teramat cukup membahagiakan bagiku. Ternyata itu malah membuatmu mempunyai rasa yang sama pula padaku. Kalau saja kau tahu, Ryota, bahwa saat kau menyatakan perasaanmu padaku, rasanya aku ingin memelukmu saat itu juga, namun aku sadar bahwa itu akan menyakiti diriku sendiri, sebab kenyataannya aku harus pergi dan tidak ingin melukaimu lebih jauh.

            Jadi, aku harus pergi untuk berjuang. Melakukan berbagai macam pengobatan dan rehabilitasi, mungkin operasi juga jika memungkinkan. Entah apakah aku bisa kembali lagi atau tidak. Doakan saja pengobatanku berhasil, sehingga aku bisa kembali dan harus menanggung malu atas surat ini saat bertemu denganmu. Aku sangat ingin tertawa lepas bersamamu, dan bernyanyi bersama, Ryota. Aku harap kau tidak membenciku.

Tertanda,

Arin.

            Ryota melipat kembali surat itu. Kenyataannya ia tak bisa membendung rasa sakit hatinya. Ia sakit karena merasa hampa. Seseorang pernah berkata bahwa harusnya hampa itu tidak menyakitkan karena hampa berarti kosong dan tidak ada apa-apa di dalamnya. Namun, rasa hampa itu justru menyakiti Ryota, sebab hampa terjadi setelah sebelumnya ada seseorang di dalamnya, ada kenangan yang mengisinya, ada harapan yang selalu ia semogakan, dan kini semuanya menghilang. Sekarang ia hanya bisa menunggu sebuah kabar yang tak pasti.

            Kemudian ia tersenyum samar, setidaknya ia tahu bahwa perasaannya ternyata bukan hanya angan-angan belaka.

            Satu tahun kemudian, Ryota mendapat kabar bahwa Arin akan pulang.

 

● ● ●

 

            Lelaki itu terlihat amat gugup menunggu kedatangan seseorang di ruang tunggu bandara. Terlihat jelas ketika ia dari tadi tidak bisa duduk diam. Entah sudah berapa kali ia melirik jam tangannya sembari menatap layar yang bertuliskan jadwal kedatangan, ketika itu juga, debaran jantungnya tak kian melambat.

            Tiba-tiba langkahnya berhenti ketika menangkap sosok gadis yang berdiri di ambang pintu kedatangan internasional. Gadis itu tersenyum dan melambaikan tangannya. Perlahan Ryota mendekatinya, memastikan bahwa itu bukan ilusi semata.

            Sepersekian detik kemudian, ia memeluk Arin dengan sangat erat. Rasa rindunya benar-benar tak tertahankan, terlebih saat ditinggalkan selama satu tahun tanpa kabar.

            Ryota melepaskan pelukannya dan beralih menatap Arin. “Bagaimana?”

            Seketika raut bahagia Arin memudar. Ia hanya terdiam dan tertunduk lesu.

            “Tidak apa-apa, Arin, bagaimana pun aku tetap menyukaimu.” Ryota mengusap puncak kepala gadis itu lantas memeluknya kembali.

            “Aku juga menyukaimu, Ryota.”

            Seketika Ryota terkejut dan menatap Arin. Tidak percaya apa yang baru didengarnya. “Kau−apa itu tadi suaramu?”

            “Iya.” Suaranya terdengar lembut di telinga Ryota.

            Lelaki itu tersenyum bahagia, perasaan bahagia yang tak pernah bisa ia gambarkan sebelumnya.

            “Ku kira kau telah merubah perasaanmu untuk gadis lain.”

            “Mana mungkin aku bisa berpaling dari gadis yang sudah menabrakku hingga aku sulit melupakannya.” Ujar Ryota diselingi tawanya.

            “Kau tahu apa lagi yang tidak berubah?”

            “Apa?”

            “Suaramu tetap payah.”

        Keduanya tertawa bersama, menggema di tiap sudut ruangan yang beranjak sunyi itu. keduanya berjalan beriringan meninggalkan bandara, sembari Ryota meraih pergelangan tangan Arin, agar ia juga merasakan detak jantung gadis itu melalui denyut nadinya. Senyuman kembali mengembang di wajah kedua insan tersebut.


A/N

hello i’m back, yeay!

Jadi ini fanfiic OOR kedua ku, maaf kalau post nya lama ya dan lebih puanjang dari sebelumnya hoho. kalau ada yang belom tau siapa itu Angel, bisa kalian baca di cerita pertamaku “Shadows and Rainfall” https://furahasekai.net/2017/01/06/shadows-and-rainfall/

bisa dilihat dari bebrapa penggalan lirik diatas, pasti tau dong itu lagu apa~

maaf ya kalau ceritanya ga jelas, terlebih pas Ryota disitu ambil gitar bukan bass :v

nah, kalau masih bersedia, bisa ditunggu cerita selanjutnya ya wkwk kayaknya setelah ini Tomoya deh.

terima kasih sudah membaca, silahkan share kalau kalian suka dan tulis komentar apabila ada sesuatu yang mengganjal di hati kalian xoxo

4 Comments

Leave a Reply
  1. Entah kenapa kalo cerita tentang gadis bisu gitu jadi inget koe no katachi ^^a
    Ceritanya cocok dengan pemilihan lagu notes & words disini.
    Bagian Ryota ternyata lebih romance ya daripada Taka kemaren, hehe.
    Ditunggu seri FF OOR lainnya 😀

    • haha iya teh emang pas bikin ini lagi kepikiran koe no katachi (yg galau nungguin tayangnya ?)
      iya kayak nya soalnya pas taka kemaren ndadak bgt bikin nya:( btw makasih buat komen nya teh hoho

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.