SENPAI!

Sasuke-Sakura Fanfiction

SENPAI!

SasuSaku Fanfic

by author Skyline

 

 

“Kau tidak pantas berada di samping Sasuke-kun!”

            “Bagaimana bisa seorang Ketua OSIS kita bisa menyukai anak culun sepertimu?”

            “Enyahlah dari kehidupan Sasuke senpai.”

            Kalimat-kalimat tersebut masih terngiang di kepalanya. Ia tahu itu masih belum seberapa. Tidak usah ditanya betapa sakit hatinya gadis itu tiap diolok oleh teman-teman dan kakak kelasnya sendiri.

            Setiap ia melewati koridor sekolah, selalu saja ia mendengar suara bisikan dan tatapan sinis dari beberapa insan di sekitarnya. Jika saja itu suara pujian, masalahnya itu adalah suara ejekan yang selalu menyiksa batinnya. Terlebih satu bulan ini. Semenjak ia menjalin hubungan dengan kakak kelasnya.

            Lalu apa salahnya dari sebuah hubungan yang dijalani atas dasar cinta?

            Jawabannya, banyak.

            Namun, ini konteks yang berbeda.

            Ia hanya terjebak oleh atmosfer yang seolah membentuk sebuah lubang hitam dan ingin menariknya.

            “Sakura-chan!” Panggil seseorang kepada gadis berambut merah muda yang berdiri sekitar lima meter di depannya.

            Ia berhenti seketika. Ia tahu betul pemilik suara barriton itu.

            Belum sempat Sakura menoleh, lelaki itu sudah berada di sampingnya. “S-sasuke-kun, ada apa?”

            Sasuke tersenyum sambil mengacak rambut panjang Sakura. “Kau ini lucu. Kita sudah berpacaran satu bulan tapi kau masih saja gugup begitu.”

            Ia tertawa hampa.

            “Ayo kita ke kantin bersama.” Tanpa dikomando lagi tangan Sasuke meraih tangan Sakura. “Kebetulan hari ini aku tidak ada rapat OSIS.”

            Sakura yang notabene adalah kekasih Sasuke, ia hanya bisa diam dan mengikuti langkah lelaki itu.

            Dan ya, tatapan sinis di sekitarnya itu kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

            Aroma matcha menghiasi kedai yang baru buka beberapa jam yang lalu. Sore itu, dua sejoli, Sasuke dan Sakura menghabiskan waktu bersama sambil mengobrol ringan dan menikmati minuman olahan dari teh hijau yang kini digandrungi oleh kaum remaja.

            Sasuke terlihat sangat menikmati quality time nya.

            Namun tidak dengan Sakura.

            Bukan berarti ia tak suka dengan Sasuke. Tidak, itu jelas salah besar. Ia teramat mencintai lelaki itu.

            Hanya saja pikirannya kini sedang berkecamuk, seakan-akan ada sebuah kalimat yang meraung-raung ingin segera diungkapkan.

            “Sasuke-kun,” Caranya menggigit sedotan saat berbicara sangat terlihat jelas bahwa ia sedang gugup. “Aku ingin bertanya sesuatu.”

            Sasuke mengangkat sebelah alisnya. “Ada apa?”

            “Tapi kau jangan marah.”

            Lelaki itu mengangguk.

            “Dan kau juga harus jawab yang jujur.”

            “Iya, sayang.”

            Sakura sempat tersipu malu sebelum akhirnya ia melanjutkan kalimatnya. “Apa kau benar-benar tulus mencintaiku?”

            Tiba-tiba Sasuke tersedak. “Pertanyaan macam apa itu?”

            “Jawab saja tidak perlu balik bertanya.”

            Lelaki itu tersenyum miring. “Ya jelas aku mencintaimu. Jika tidak, mengapa aku berpacaran denganmu?”

            “Kau yakin?” Sakura tidak lagi berani menatap wajah Sasuke. “Maksudku, kau tahu, bahwa sejak dulu aku yang mengejarmu. Aku yang berusaha untuk mendapatkan perhatianmu disaat kau benar-benar menjadi orang yang tak acuh dan tak peduli. Aku kadang berfikir, jika kau akhirnya berpacaran denganku hanya karena kasihan kepadaku.”

            “Kau tahu? Ada kalanya sebuah perjuangan dan pengorbanan itu berbuah manis.” Kata Sasuke datar. “Dan itu terjadi kepadamu. Kau, dengan hebatnya, bisa mencuri hatiku dengan caramu sendiri. Cara yang unik, dan cara yang aku suka. Dan, ya, akhirnya aku jatuh hati padamu. Benar-benar bukan karena kasihan atau hal bodoh lainnya.”

            “Tapi−“

            “Tapi apa?” Potong Sasuke tiba-tiba. “Aku sudah tahu masalahmu yang sebenarnya, tentang kau yang suka ditindas karena tidak suka melihatmu jalan denganku, bukan? Naruto menceritakan semuanya.”

            Kini Sakura sudah tidak tahu harus bicara apa. Yang ia lakukan hanyalah menunduk dan mencoba menetralisir debaran jantungnya yang kian tak beritme normal.

            Keheningan terjadi di antara keduanya. Hanya terdengar bunyi dentingan gelas kaca yang menemani kesunyian mereka.

            Tiba-tiba Sakura merasa dagunya terangkat hingga akhirnya dapat menatap manik mata hitam Sasuke. “Dengar, Sakura-chan. Aku tahu ini sulit, namun cobalah untuk tidak menghiraukan mereka. Kita punya dunia kita sendiri, jangan biarkan mereka masuk hanya dengan omong kosong mereka. Kita yang berperan disini, bukan mereka. Mereka hanya sekumpulan orang yang tidak suka melihat kebahagiaan orang lain. Kau tahu kenapa? Karena mereka tidak punya kebahagiaan itu, sehingga ia ingin mencari kawan untuk ketidakbahagiaannya.”

            Air mata Sakura mulai menetes. “Tapi kau tidak tahu betapa berat itu bagiku, Sasuke.”

            “Namun kau harus tahu bahwa aku tidak akan membiarkanmu menderita sendirian, Sakura.” Ucapnya pelan seraya mengusap air mata gadis rapuh dihadapannya. “Aku akan selalu menjagamu dimana pun, entah di sekolah, di luar sekolah, maupun dalam doa sekali pun.”

            Kalimat manis lelaki itu mampu membuatnya bahagia kembali. “Terima Kasih, Sasuke-kun.”

            “Nah, aku jauh lebih suka melihatmu tersenyum seperti ini.”

            “Tapi, Sasuke,”

            “Kenapa kau punya banyak sekali ‘tapi’?”

            Sakura mengerucutkan bibirnya.

            Sasuke kemudian tertawa. “Aku hanya bercanda. Ada apa lagi?”

            “Kau tahu bahwa aku gadis yang culun dan tidak gaul, apalagi terkenal. Sedangkan kau adalah ketua OSIS yang sangat terkenal dan dipuja banyak gadis. Kau tidak masalah dengan itu?”

            “Hei,” Sasuke mengacak rambut Sakura. “Aku mencari kekasih, untuk membahagiakanku, bukan untuk menambah jumlah followers di akun media sosialku.”

            Pada akhirnya percakapan itu diakhiri oleh tawa yang menggema di seluruh sudut kedai tersebut.

 

  • ● ● ●

 

            Pagi ini Sakura nampak beda dari biasanya. Tak ada lagi raut cemas dan ketakutan dari wajah cantiknya. Dengan percaya diri ia tersenyum kepada beberapa siswa yang dilewatinya, meskipun yang disapanya tidak merespon.

            “Sakura-san.” Panggil sebuah suara. “Kau masih saja berani berhubungan dengan Sasuke-kun.”

            Sakura mengerjap. “Kenapa? Ia memang kekasihku, jadi wajar aku dekat dengannya.”

            Siswi itu sedikit terkejut karena lawan bicaranya kini sudah mulai berani merespon. “Kau tidak pantas untuk Sasuke!”

            Hentakan itu sedikit membuat Sakura tercengang.

            “Jangan sekali-kali kau mengganggu gadisku.” Ucap sebuah suara, yang ternyata Sasuke. “Dan tolong beri tahu juga kepada teman-temanmu. Yang berani membuat Sakura terluka, akan langsung berhadapan denganku.”

            Kini giliran siswi itu yang tercengang. Kemudian berlalu begitu saja.

            “Ayo, kuantar kau ke kelasmu.” Ajak Sasuke pada Sakura yang disusul dengan kedua tangan yang menyatu mengiringi langkah mereka.

 


a.n.

waaahh… lama tak jumpa akhirnya saya muncul ke permukaan lol

selamat membaca fanfic sasusaku ini, semoga kalian suka. yaa.. meskipun ga sebagus buatan teh furaha sih hehehe soalnya lagi pengen nulis tapi gatau mau bikin cerita apaan T.T

oiya, barangkali dari kalian ada yang pengen request fanfic apa selanjutnya bisa tulis di kolom komentar yaa, nanti author coba bikinin deh *kalo sempet*

okay, salam fanfic! xoxo

One Comment

Leave a Reply

Leave a Reply